Radarbangkalan.id – Perubahan cuaca ekstrem telah menjadi perhatian utama dalam beberapa dekade terakhir, terutama di wilayah Indonesia.
Salah satu faktor utama di balik perubahan ini adalah fenomena alam yang disebut Equinox.
Equinox terjadi ketika Matahari bersinar tepat di garis khatulistiwa, menyebabkan siang dan malam hampir sama di seluruh dunia.
Equinox terjadi dua kali setiap tahun, yaitu pada bulan Maret (Vernal Equinox) dan September (Autumnal Equinox).
Pada 20 Maret 2024, Equinox terjadi dan memicu perubahan cuaca yang signifikan di berbagai wilayah.
Pada bulan September, Equinox diprediksi terjadi pada 22 September 2024.
Pergeseran tanggal ini terjadi karena setiap tahun di Bumi tidak tepat 365 hari, sehingga terdapat seperempat hari ekstra yang akumulatif.
Fenomena Equinox tidak hanya terjadi di Bumi, tetapi juga terjadi di setiap planet di tata surya ketika orbit dan kemiringan planet sehubungan dengan Matahari sehingga kedua belahan planet menerima jumlah cahaya yang hampir sama.
Equinox sendiri berasal dari bahasa Latin yang artinya "malam yang sama panjang".
Saat Equinox terjadi, Matahari dan Bumi berada pada jarak terdekat, yang berarti wilayah tropis di sekitar garis khatulistiwa menerima radiasi Matahari yang maksimum.
Namun, Equinox tidak selalu menyebabkan kenaikan suhu udara yang drastis atau ekstrem.
Secara umum, suhu maksimum di wilayah Indonesia berkisar antara 32-36 derajat Celcius.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Equinox adalah fenomena alamiah dan bukan seperti HeatWave yang dapat menyebabkan kenaikan suhu udara yang signifikan dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir akan dampak dari Equinox yang tidak berbahaya. Tidak ada alasan untuk panik atau cemas mengenai peningkatan suhu yang drastis akibat Equinox, karena hal ini tidak berdampak pada kesehatan dan lingkungan. ***
Editor : Ajiv Ibrohim