RadarBangkalan.id - Kisah tukang bubur yang berhasil menunaikan ibadah ke Tanah Suci Makkah bukan hanya terjadi di layar televisi, tetapi juga nyata di kehidupan sehari-hari. Dari hidangan yang tampak sederhana, seorang pedagang bubur asal Tambun berhasil mewujudkan impiannya menginjakkan kaki di Makkah. Dalam perjalanan menuju Tanah Suci, terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk dana yang cukup, kesehatan yang memadai, dan tentu saja, nasib baik.
Edi: Pedagang Bubur yang Menginspirasi
Edi, seorang pedagang bubur khas Tambun, telah menjalani profesinya sejak tahun 1981 dengan berjualan bubur menggunakan motor. Perjuangan dan dedikasinya selama hampir 40 tahun akhirnya membuahkan hasil, ketika pada tahun 2019, ia berhasil berangkat umrah ke Makkah, tepat sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia.
Bagi Edi, menunaikan ibadah ke Makkah bukan sekadar impian, melainkan merupakan langkah nyata untuk merealisasikan cita-citanya. Dalam hal ini, Edi mirip dengan sosok Haji Sulam yang terkenal dalam sinetron "Tukang Bubur Naik Haji", meski Edi belum melaksanakan haji, dia telah berhasil menjalankan ibadah umrah dengan penuh syukur.
Perjalanan yang Tak Terlupakan
Menariknya, Edi tidak berangkat ke Makkah sendirian. Ia mengajak istri dan orang tuanya untuk turut serta dalam perjalanan suci ini. Selain itu, dua pasangan tukang bubur lainnya dari Kampung Buwek, yang juga dikenal sebagai Kampung Bubur di Tambun, ikut berangkat bersama mereka. “Kami sama istri, sama orang tua, dan sama adik juga tukang bubur yang ngajak istrinya,” ungkap Edi saat ditemui oleh tim detikTravel.
Edi merasa bersyukur karena bukan hanya dirinya yang mendapatkan kesempatan untuk beribadah ke Makkah. Banyak pedagang bubur khas Tambun lainnya juga mendapatkan panggilan untuk melaksanakan umrah. “Alhamdulillah, banyak yang ada panggilan ke sana,” tambahnya dengan penuh rasa syukur.
Dari Gubuk hingga Kesuksesan
Dari perjalanan hidupnya, Edi mengenang masa-masa sulit saat tinggal di rumah gubuk. Untuk memulai usaha jualan bubur, ia bahkan harus mengambil kredit kendaraan bermotor. Namun, berkat kerja keras dan ketekunan dalam berjualan, ia mampu mengubah hidupnya dan membesarkan tiga anak yang kini masing-masing sudah berkeluarga.
Kini, Edi tidak hanya dikenal sebagai pedagang bubur, tetapi juga sebagai simbol semangat juang dan inspirasi bagi banyak orang. Keberhasilan bubur khas Tambun di kalangan masyarakat membuat Edi mampu menjual antara 80 hingga 100 porsi setiap harinya. "Sekitar 80 sampai 100 porsi di hari biasa. Kalau hari libur, pasti lebih banyak," tuturnya.
Menjadi Inspirasi bagi Banyak Orang
Kisah Edi adalah contoh nyata bahwa dengan tekad dan kerja keras, impian yang tampaknya jauh dari jangkauan pun bisa tercapai. Ia menjadi teladan bagi banyak orang, terutama para pedagang kecil, bahwa dengan usaha yang gigih dan semangat pantang menyerah, kita bisa meraih impian dan menciptakan perubahan dalam hidup.
Dengan keberhasilan Edi, semoga semakin banyak pedagang dari Tambun yang mampu mengikuti jejaknya dan menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Kisah ini bukan hanya menjadi inspirasi, tetapi juga menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara usaha, impian, dan keberhasilan.
Editor : Azril Arham