News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Runtuhnya Arus Atlantik: Ilmuwan Peringatkan Dampak Cuaca Ekstrem dan Ancaman Iklim Global

Azril Arham • Senin, 28 Oktober 2024 | 22:14 WIB
Badai di Atlantik dari Luar Angkasa
Badai di Atlantik dari Luar Angkasa

RadarBangkalan.id - Empat puluh empat ilmuwan iklim dari seluruh dunia telah menyerukan tindakan mendesak kepada para pembuat kebijakan di negara-negara Nordik.

Mereka memperingatkan potensi keruntuhan arus utama Samudra Atlantik, yang bisa berdampak besar dan mengancam stabilitas cuaca global.

Dalam surat terbuka yang dirilis Senin (21/10), ahli iklim University of Pennsylvania Michael Mann dan para ilmuwan lainnya menyatakan bahwa risiko melemahnya sirkulasi laut di Atlantik selama ini diremehkan dan perlu penanganan segera.

Arus laut yang dimaksud adalah Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), sebuah sistem arus besar yang mencakup Arus Teluk dan berfungsi sebagai “sabuk konveyor” raksasa yang mengangkut panas penting ke wilayah utara Bumi.

Penelitian menunjukkan bahwa AMOC telah melambat dan mungkin mendekati titik kritis akibat pemanasan global, yang berpotensi memicu kekacauan iklim.

 

Para ilmuwan dalam suratnya menekankan bahwa perubahan dalam sirkulasi laut ini dapat menimbulkan dampak yang mengkhawatirkan, terutama bagi negara-negara Nordik seperti Denmark, Islandia, Norwegia, Finlandia, dan Swedia.

Selain itu, efeknya juga bisa meluas ke berbagai wilayah lain di dunia. Jika AMOC terus melemah atau bahkan terhenti, iklim akan mengalami perubahan ekstrem, yang mengancam aktivitas pertanian, khususnya di Eropa Barat Laut.

Menurut para ahli, keruntuhan AMOC dapat memperparah “gumpalan dingin” yang saat ini terbentuk di bagian timur Laut Atlantik Utara.

Jika arus pembawa panas ini berhenti, cuaca dingin dan ekstrem akan lebih sering melanda negara-negara Nordik dan bisa berdampak besar pada pertanian di kawasan itu.

Tidak hanya itu, dampaknya akan menyebar hingga ke Belahan Bumi Utara dengan mempercepat perubahan iklim.

Selain itu, jika AMOC terhenti, hal ini juga akan menggeser sistem monsun tropis ke arah selatan, yang dapat mengancam lahan pertanian dan ekosistem yang bergantung pada hujan musiman.

Selain itu, penghentian arus laut ini dapat mempercepat kenaikan permukaan laut di sepanjang pantai Atlantik Amerika Serikat serta menyebabkan kerusakan pada ekosistem laut dan perikanan.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa langkah-langkah iklim yang konkret, AMOC bisa saja runtuh dalam beberapa dekade ke depan.

Meskipun perkiraan waktu keruntuhan masih belum pasti, dampak besarnya memerlukan perhatian serius dari pemerintah di seluruh dunia.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terakhir memang menyatakan bahwa AMOC tidak akan runtuh secara tiba-tiba sebelum 2100.

Namun, para ilmuwan menganggap perkiraan ini terlalu optimis dan kurang memperhitungkan potensi risiko jangka pendek.

"Kami tidak bisa hanya mengandalkan 'keyakinan sedang' bahwa AMOC tidak akan runtuh," tulis para ilmuwan. Mereka menekankan perlunya aksi yang lebih signifikan untuk mengurangi risiko ini, mengingat dampak jangka panjang yang bisa merusak keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia di seluruh dunia.

Surat tersebut disampaikan kepada Dewan Menteri Nordik, sebuah forum kerja sama antar pemerintah di negara-negara Nordik.

Para ilmuwan juga mendesak para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan ancaman yang mungkin muncul dari keruntuhan AMOC dan agar lebih tegas dalam menekan negara lain untuk mematuhi target Perjanjian Paris 2015 demi menjaga kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas suhu pra-industri. ***

Editor : Azril Arham
#iklim #iklim global #cuaca ekstrem #atlantik #dampak cuaca ekstrem