RadarBangkalan.id - Kementerian Luar Negeri Mesir mengungkapkan bahwa penerapan gencatan senjata di Gaza harus segera dimulai tanpa penundaan.
Desakan ini datang sehari setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang didorong oleh mediator dari Qatar, Amerika Serikat, dan Mesir.
Menurut rencana, gencatan senjata ini akan berlaku pada Minggu (19/1) dan akan melibatkan pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina. Langkah selanjutnya adalah penyelesaian kondisi untuk mengakhiri perang secara permanen.
Namun, meskipun kesepakatan tersebut telah diumumkan, situasi di Gaza tetap memprihatinkan.
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa sedikitnya 80 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan dari militer Israel, yang dalam satu hari terakhir, Kamis (16/1), menyerang sekitar 50 target di wilayah tersebut.
Dalam sebuah percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, menegaskan pentingnya agar gencatan senjata segera dimulai dan mengingatkan semua pihak untuk mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati.
Ia juga menekankan perlunya melaksanakan tahapan-tahapan kesepakatan pada waktu yang telah ditentukan.
Selain itu, Mesir juga siap menjadi tuan rumah konferensi internasional untuk membantu rekonstruksi Jalur Gaza.
PBB memperkirakan bahwa proses pembangunan kembali infrastruktur sipil di Gaza akan memakan waktu lebih dari satu dekade.
Pada Kamis (16/1), Mesir juga menyerukan penyaluran bantuan kemanusiaan yang cepat, aman, dan efektif, serta proyek pemulihan dini sebagai langkah awal untuk rekonstruksi.
Sehari sebelumnya, pada Rabu (15/1), media Al-Qahera News yang berafiliasi dengan pemerintah Mesir melaporkan bahwa koordinasi sedang berlangsung untuk membuka kembali perlintasan Rafah di perbatasan Mesir-Gaza, guna memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza. ***
Editor : Azril Arham