News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Tragis! 100 Wanita Diperbudak Jadi 'Peternak' Sel Telur

Ubaidillah • Kamis, 13 Februari 2025 | 14:31 WIB
Korban mengatakan, mereka dipaksa mengemis tanpa mendapatkan sepeser pun dari hasil (Ilustrasi)
Korban mengatakan, mereka dipaksa mengemis tanpa mendapatkan sepeser pun dari hasil (Ilustrasi)

Radarbangkalan.id - Kasus perdagangan manusia yang mengejutkan terungkap di Georgia, di mana sekitar 100 wanita dijadikan budak di sebuah 'peternakan manusia' untuk diambil sel telurnya dan dijual di pasar gelap.

Para wanita ini diberi hormon secara paksa dan diperlakukan seperti ternak oleh sindikat kriminal yang diduga dipimpin oleh kelompok asal Tiongkok.

Baca Juga: Deddy Corbuzier Resmi Stafsus Menhan, Kini Harus Lapor LHKPN

Kasus ini menjadi peringatan serius akan bahaya eksploitasi dan perdagangan manusia yang masih marak terjadi.

Modus Penipuan dan Perbudakan

Kasus ini terungkap setelah tiga wanita asal Thailand berhasil melarikan diri dan mengungkap kisah tragis mereka.

"Pagu alokasi anggaran Kementerian PU tahun 2025 yang sebesar di awal Rp110,95 triliun, diwajibkan untuk dilakukan efisiensi sebesar Rp81,38 triliun," ujar Dody dalam rapat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (6/2).

Mereka mengungkapkan bahwa awalnya tertarik oleh tawaran pekerjaan yang diiklankan melalui Facebook.

Iklan tersebut menjanjikan penghasilan 11.500 hingga 17.000 euro (sekitar Rp 192 juta hingga Rp 284 juta) untuk menjadi ibu pengganti bagi pasangan di Georgia yang tidak bisa memiliki anak.

Pada Agustus 2024, ketiga wanita ini bersama sepuluh wanita Thailand lainnya berangkat ke Georgia dengan biaya perjalanan dan paspor yang ditanggung oleh sindikat tersebut.

Namun, sesampainya di sana, mereka baru menyadari bahwa tawaran pekerjaan itu hanyalah kedok belaka.

Baca Juga: Deddy Corbuzier Resmi Stafsus Menhan, Kini Harus Lapor LHKPN

Eksploitasi di ‘Peternakan Manusia’

Para korban dipaksa tinggal di empat properti besar bersama sekitar 100 wanita lainnya. Mereka diberikan hormon untuk merangsang produksi sel telur dan dipaksa menjalani prosedur pengambilan sel telur setiap bulan. Beberapa wanita bahkan tidak menerima bayaran atas sel telur mereka.

Lebih parah lagi, jika ada yang ingin keluar dari tempat tersebut, mereka diwajibkan membayar uang tebusan sebesar 2.000 euro (sekitar Rp 33 juta). Kondisi ini membuat banyak korban terjebak tanpa jalan keluar.

Penyelamatan dan Investigasi

Salah satu mantan korban berhasil membeli kebebasannya dan melaporkan kejadian ini kepada Pavena Hongsakula, pendiri sebuah yayasan di Thailand yang berfokus pada perlindungan perempuan dan anak-anak.

Pavena kemudian bekerja sama dengan Interpol untuk menyelamatkan tiga wanita Thailand pada 30 Januari 2025, setelah membayar uang tebusan mereka.

Hingga kini, belum diketahui berapa banyak wanita yang masih ditahan di 'peternakan manusia' tersebut.

Baca Juga: LPG 3 Kg Bersubsidi Haram bagi Orang Kaya, Kata MUI

Pihak berwenang Thailand dan Interpol telah meluncurkan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan kejahatan ini dan menyelamatkan para korban lainnya.

Kasus ini menyoroti bentuk baru perdagangan manusia, di mana perempuan dijadikan komoditas dalam industri IVF ilegal.

Investigasi lebih lanjut diharapkan dapat membongkar sindikat yang bertanggung jawab dan memberikan keadilan bagi para korban.

Editor : Ubaidillah
#wanita diperbudak #kisah pilu #peternak sel telur wanita #Perbudakan #kasus perbudakan