News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Mengapa Warga Palestina Kecewa? Negara Arab-Islam Dinilai Tak Banyak Membantu Gaza

Azril Arham • Kamis, 3 April 2025 | 23:20 WIB
Seorang pemuda Palestina duduk di samping sepedanya di tengah puing-puing bangunan yang hancur di Kota Gaza di jalur Gaza utara setelah  pemboman Israel
Seorang pemuda Palestina duduk di samping sepedanya di tengah puing-puing bangunan yang hancur di Kota Gaza di jalur Gaza utara setelah pemboman Israel

RadarBangkalan.id - Sebuah survei dari Palestinian Centre for Public Opinion (PCPO) mengungkap bahwa mayoritas warga Palestina kecewa dengan respon negara-negara Arab dan Islam terhadap konflik di Gaza.

Survei yang melibatkan 1.500 warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat pada 5-15 Maret 2025 ini menunjukkan lebih dari dua pertiga responden merasa negara-negara tersebut tidak cukup membantu Gaza menghadapi serangan Israel.

Kekecewaan ini semakin terlihat di Gaza, di mana hampir 75% warga merasa negara-negara Arab tidak berbuat cukup. Di Tepi Barat, sentimen serupa juga diungkapkan oleh dua pertiga responden.

Presiden dan pendiri PCPO, Nabil Kukali, menjelaskan bahwa normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel menjadi faktor utama di balik ketidakpercayaan ini.

"Secara historis, Palestina mengandalkan negara-negara Arab dan Islam untuk dukungan politik, diplomatik, dan material. Namun, kini ada persepsi bahwa banyak negara lebih mengutamakan kepentingan geopolitik dan hubungan diplomatik dibandingkan dukungan bagi hak-hak Palestina," kata Kukali, dikutip dari The New Arab.

 

Menurut Kukali, perjanjian normalisasi antara beberapa negara Arab dan Israel semakin memperkuat ketidakpercayaan warga Palestina.

Banyak yang melihat kesepakatan ini sebagai indikasi bahwa perjuangan Palestina dikesampingkan demi kepentingan ekonomi dan strategi politik regional.

Selain itu, warga Palestina juga semakin khawatir dengan rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel yang disebut ingin menggusur paksa 2,2 juta penduduk Gaza.

Bahkan, usulan mantan Presiden AS, Donald Trump, untuk "mengambil alih Gaza" dan mengubahnya menjadi "Riviera of Middle East" turut memicu kecemasan di kalangan warga Palestina.

 

Survei ini juga mengungkap perbedaan pandangan antara warga Gaza dan Tepi Barat mengenai Hamas dan Otoritas Palestina.

Di tengah meningkatnya ketidakpercayaan warga Palestina, Komite Menteri Arab-Islam untuk Gaza kembali menegaskan penolakan terhadap pemindahan atau pengusiran paksa rakyat Palestina.

Dalam pertemuan mereka di Mesir bersama perwakilan Uni Eropa, mereka juga menekankan pentingnya menyatukan Gaza dan Tepi Barat di bawah Otoritas Palestina.

Sementara itu, Perdana Menteri Palestina, Mohammad Mustafa, kembali menyerukan gencatan senjata permanen dan penerapan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2735 untuk mengakhiri konflik berkepanjangan ini. ***

Editor : Azril Arham
#warga palestina #negara arab #serangan israel #Israel #gaza #palestina