News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Chevron Buka Suara Usai AS Tangkap Maduro dan Klaim Kelola Minyak Venezuela

Ubaidillah • Minggu, 4 Januari 2026 | 08:22 WIB
Foto: Papan tanda terlihat di pompa bensin Chevron, Senin, 23 Oktober 2023. (AP/Rebecca Blackwell/File Foto)
Foto: Papan tanda terlihat di pompa bensin Chevron, Senin, 23 Oktober 2023. (AP/Rebecca Blackwell/File Foto)

RadarBangkalan.id - Perusahaan minyak Amerika Serikat, Chevron, yang telah beroperasi di Venezuela selama hampir satu abad, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait operasi pemerintahan Presiden Donald Trump di negara Amerika Selatan tersebut.

Respons ini muncul setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan pernyataan Trump bahwa Amerika Serikat akan mengelola aset minyak dan gas Venezuela.

Mengutip Newsweek, juru bicara Chevron menarik kembali pernyataan awal perusahaan dan menyampaikan pernyataan resmi terbaru.

Baca Juga: AS Luncurkan Operasi Militer Kilat di Venezuela, Trump Klaim Tangkap Presiden Nicolás Maduro

Dalam pernyataan tersebut, Chevron menegaskan bahwa fokus utama perusahaan adalah keselamatan karyawan dan keberlangsungan aset yang mereka kelola.

"Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami. Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua hukum dan peraturan yang relevan."

Sebelumnya, Chevron sempat menyampaikan pernyataan berbeda dengan menekankan dukungan terhadap transisi politik di Venezuela.

Baca Juga: Donasi Konser Valen DA7 Kontras, Pamekasan Tembus Rp1,1 Miliar Sumenep Rp71 Juta

Perusahaan menyebutkan, "dengan lebih dari satu abad di Venezuela, (Chevron) mendukung transisi yang damai dan sah yang mendorong stabilitas dan pemulihan ekonomi, (Chevron) siap untuk bekerja secara konstruktif dengan Pemerintah AS selama periode ini, memanfaatkan pengalaman dan kehadiran kami untuk memperkuat keamanan energi AS."

Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Presiden Nicolás Maduro berulang kali menuding Presiden Donald Trump berupaya merebut sumber daya minyak negaranya melalui peningkatan tekanan militer dan politik untuk memaksanya lengser dari kekuasaan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Sambut Tahun Baru 2026, dari Horor hingga Romantis

Dalam konferensi pers pada Sabtu, Trump menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat akan mengambil alih kendali Venezuela beserta cadangan minyaknya yang sangat besar.

Pemerintahan Trump melancarkan serangan skala besar ke Caracas, yang berujung pada penangkapan Maduro bersama istrinya dan membawa keduanya keluar dari Venezuela.

Baca Juga: Akhirnya Terungkap! Purbaya Buka-Bukaan Soal Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026

Jaksa Agung Amerika Serikat, Pam Bondi, menyatakan bahwa Maduro, istrinya, serta putranya telah secara resmi didakwa di Distrik Selatan New York.

Tuduhan tersebut mencakup konspirasi terorisme narkoba. Maduro sebelumnya juga telah didakwa pada Maret 2020 atas tuduhan serupa.

Baca Juga: Heboh! Valen Pangeran Dangdut Pulang Kampung, Warga Jatim Tumpah Ruah Menyambut

Pada Agustus 2025, Amerika Serikat bahkan menggandakan hadiah menjadi 50 juta dolar AS bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya. Seluruh tuduhan tersebut dibantah oleh Maduro.

Chevron menjelaskan bahwa pihaknya saat ini bekerja sama dengan Petróleos de Venezuela (PDVSA), perusahaan minyak nasional Venezuela, dalam lima proyek produksi minyak dan gas darat maupun lepas pantai di wilayah barat dan timur Venezuela.

Seluruh kerja sama tersebut, menurut Chevron, dilakukan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Perusahaan itu juga menyebut terlibat dalam proyek migas di lahan seluas sekitar 74.000 hektare.

Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung kondisi industri minyak Venezuela. Ia mengatakan, "Seperti yang diketahui semua orang, bisnis minyak di Venezuela telah gagal total untuk jangka waktu yang lama."

Baca Juga: Ronaldo Cetak 40 Gol di 2025, Hasrat Kembali Bermain di Eropa Masih Menyala

Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat akan melibatkan perusahaan-perusahaan minyak besar asal AS untuk membangun kembali infrastruktur migas Venezuela.

"Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, mengalokasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut."

Ia menegaskan bahwa perusahaan minyak tersebut akan menanggung biaya pembangunan ulang dan nantinya akan mendapatkan penggantian atas investasi yang mereka keluarkan.

Amerika Serikat diketahui telah lama memberlakukan sanksi terhadap industri minyak Venezuela. Pada tahun lalu, Washington juga memberikan sanksi terhadap kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela sebagai bagian dari kampanye tekanan.

Baca Juga: Ramalan Shio Paling Beruntung 2026 di Tahun Kuda Api

Meski demikian, Chevron tetap menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar asal AS yang masih beroperasi di Venezuela berkat lisensi khusus dari Departemen Keuangan AS.

Departemen Keuangan AS pada 2022 menegaskan bahwa lisensi dan otorisasi tersebut dirancang agar mencegah PDVSA menerima keuntungan langsung dari penjualan minyak yang dilakukan oleh Chevron.

Editor : Ubaidillah
#industri migas #trump #chevron #minyak #venezuela #kebijakan luar negeri #sanksi #nicolas maduro #operasi militer #ekonomi venezuela