RadarBangkalan.id - Nilai mata uang Iran, Rial, anjlok ke level terendah sepanjang sejarah dan mencerminkan krisis ekonomi yang semakin parah di negara tersebut.
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sanksi internasional, inflasi tinggi, pembatasan ekspor minyak, serta ketidakstabilan politik yang berkepanjangan.
Baca Juga: 5 Fakta Pegawai Pajak Jakarta Utara Kena OTT KPK, Dugaan Suap hingga Barang Bukti
Tekanan terbesar datang dari sanksi ekonomi, terutama yang diberlakukan Amerika Serikat, yang membatasi akses Iran ke sistem keuangan global.
Dampaknya, nilai tukar Rial terhadap mata uang utama dunia seperti dolar AS dan euro jatuh tajam.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa di beberapa negara Eropa, mata uang Rial bahkan tidak lagi diterima atau dapat ditukarkan, memperdalam isolasi ekonomi Iran.
Saat ini, 1 dolar AS setara dengan 1.137.500 Rial, sementara 1 euro mencapai sekitar 1.327.240 Rial. Anjloknya nilai tukar ini menjadi rekor terburuk sepanjang sejarah mata uang Iran.
Baca Juga: Viral MBG Dibagikan Pakai Plastik, SPPG Pandeglang Beri Klarifikasi
Penyebab Anjloknya Mata Uang Iran Rial
Memburuknya kondisi ekonomi domestik memicu gelombang protes besar sejak 28 Desember 2025.
Aksi protes tersebut awalnya dipicu oleh melonjaknya harga kebutuhan pokok dan melemahnya nilai mata uang, lalu berkembang menjadi tuntutan perubahan pemerintahan.
Protes dimulai dari pedagang di Grand Bazaar Tehran dan kalangan mahasiswa, kemudian meluas ke seluruh 31 provinsi, termasuk kota-kota kecil.
Bentrokan dengan aparat keamanan dilaporkan menyebabkan ratusan korban jiwa dan ribuan orang ditangkap, sehingga memperparah ketegangan sosial dan politik.
Baca Juga: Buka Suara soal Alasan Doyan Selingkuh, Jule Bongkar Sikap Kasar Daehoon yang Diduga Lakukan KDRT
Ketidakpastian politik ini membuat kepercayaan publik dan investor terhadap Rial semakin merosot.
Baca Juga: Hasil Al Hilal vs Al Nassr 3-1: Comeback Dramatis, Ronaldo Tak Cukup
Banyak warga beralih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS, emas, atau mata uang kripto, yang justru semakin menekan nilai mata uang nasional.
Data menunjukkan pelemahan Rial berlangsung sangat cepat. Pada akhir Desember 2025, nilai tukar sempat menembus lebih dari 1,4 juta Rial per dolar AS.
Padahal, pada Januari 2025 nilainya masih sekitar 700 ribu Rial, dan pertengahan 2025 berada di kisaran 900 ribu Rial.
Inflasi Tinggi dan Dampak Sosial
Kejatuhan nilai mata uang langsung memicu lonjakan inflasi, terutama pada sektor pangan. Harga bahan makanan rata-rata naik hingga 72 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Update Banjir Jakarta Senin 12 Januari 2026, BPBD Catat 57 RT Terendam
Secara keseluruhan, inflasi tahunan Iran kini berada di kisaran 40 persen, membuat daya beli masyarakat merosot tajam dan kehidupan sehari-hari semakin sulit.
Krisis ekonomi Iran juga diperparah oleh konflik militer. Pada Juni 2025, Iran terlibat perang selama 12 hari dengan Israel yang menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah serta membebani anggaran negara.
Tekanan eksternal kembali meningkat pada September 2025 ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa memberlakukan kembali sanksi ekonomi terkait program nuklir Iran.
Sanksi tersebut membatasi perdagangan internasional dan akses Iran terhadap mata uang asing, sehingga semakin menekan nilai tukar Rial.
Baca Juga: Registrasi Akun SNPMB 2026 Dibuka, Ini Jadwal dan Cara Daftarnya
Kebijakan Pemerintah dan Beban Masyarakat
Di dalam negeri, kebijakan pemerintah turut menambah tekanan. Pada Desember 2025, Iran menerapkan sistem subsidi bahan bakar baru yang pada praktiknya menaikkan harga bensin.
Pemerintah juga berencana meninjau harga bahan bakar setiap tiga bulan, membuka peluang kenaikan lanjutan.
Baca Juga: Resmi! KemenHAM Buka Lowongan 500 PPPK Tahun 2026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Selain itu, bank sentral Iran menghapus nilai tukar khusus bersubsidi untuk impor, kecuali untuk obat-obatan dan gandum. Kebijakan ini diperkirakan mendorong kenaikan harga pangan lebih lanjut.
Keluhan masyarakat pun semakin meluas. Harga produk susu dilaporkan naik hingga enam kali lipat dalam setahun, sementara sejumlah kebutuhan lain bahkan melonjak lebih dari sepuluh kali lipat.
Baca Juga: Tertipu Rp30 Juta demi Masuk Batik Air, Khairun Nisa Berujung Jadi Pramugari Gadungan
Kondisi inilah yang memicu kemarahan publik dan menjadikan krisis ekonomi sebagai faktor utama di balik gelombang protes besar-besaran di Iran.
Editor : Ubaidillah