Radarbangkalan.id - Aksi keras pemerintah Iran terhadap warganya membuat negara tersebut berada dalam kondisi nyaris lumpuh.
Nilai mata uang rial anjlok tajam, akses internet sempat dipadamkan total, dan laporan korban jiwa terus bermunculan akibat penindakan aparat keamanan.
Baca Juga: Krisis Iran Memuncak, Nilai Rial Tembus 1,1 Juta per Dolar AS
Tindakan represif itu dinilai berhasil meredam gelombang protes besar-besaran yang pecah sejak 28 Desember 2025.
Protes dipicu lonjakan inflasi yang menekan ekonomi dan memperburuk kondisi hidup masyarakat, sebagaimana dikutip dari Reuters, Sabtu (17/1/2026).
Kelompok hak asasi manusia dan warga setempat melaporkan suasana Iran kini tampak sunyi setelah berhari-hari dilanda kekacauan.
Baca Juga: Klasemen Liga Inggris 18 Januari 2026: Arsenal Masih Tak Tergoyahkan di Puncak
Media pemerintah melaporkan peningkatan jumlah penangkapan, di tengah ancaman berulang dari Amerika Serikat untuk campur tangan apabila kekerasan terus berlanjut.
Presiden AS Donald Trump menyebut telah menerima laporan bahwa pembunuhan di Iran mulai mereda. Meski demikian, aset militer AS dilaporkan tetap dikerahkan lebih dekat ke kawasan Iran, menandakan ketegangan belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga: Pesawat ATR IAT Hilang Kontak di Maros, 400 Personel SAR Dikerahkan
Sekutu AS seperti Arab Saudi dan Qatar melakukan diplomasi intensif dengan Washington untuk mencegah potensi serangan militer. Para pejabat memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat berdampak luas bagi stabilitas Timur Tengah dan kepentingan AS sendiri.
Kepala intelijen Israel, David Barnea, juga dilaporkan berada di AS untuk melakukan pembicaraan terkait Iran.
Seorang pejabat militer Israel menyatakan pasukan negaranya berada dalam kondisi kesiapan tertinggi.
Baca Juga: BPOM Temukan 26 Produk Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Gedung Putih menegaskan Trump dan timnya telah memperingatkan Teheran akan adanya konsekuensi serius jika pertumpahan darah terus terjadi.
Baca Juga: Pendaftaran SIPSS Polri 2026 Dibuka, Ini Syarat dan Daftar Jurusan Lengkap
Pemerintah AS juga menekankan bahwa semua opsi masih dipertimbangkan.
Laporan Kekerasan Muncul Usai Internet Kembali
Seiring meredanya pemadaman internet, laporan kekerasan mulai bermunculan. Seorang perempuan di Teheran mengatakan kepada Reuters bahwa putrinya yang berusia 15 tahun tewas setelah ikut demonstrasi di dekat rumah mereka.
Baca Juga: Penumpang Diduga Lakukan Aksi Tak Senonoh di Bus Transjakarta, Diserahkan ke Polisi
"Dia bukan teroris, bukan perusuh. Pasukan Basij mengikutinya saat dia mencoba pulang," ujarnya, merujuk pada pasukan paramiliter yang kerap digunakan untuk meredam aksi protes.
Pejabat AS menyebut Washington kemungkinan akan mengirimkan tambahan kemampuan ofensif dan defensif ke kawasan tersebut.
Namun, rincian penempatan pasukan dan waktunya belum diungkapkan. Komando Pusat militer AS menolak berkomentar terkait pergerakan kapal perang.
Sejumlah warga Teheran mengatakan ibu kota mulai kembali tenang, meski drone keamanan masih terlihat berpatroli di udara. Tidak ada lagi tanda-tanda protes terbuka, namun situasi keamanan tetap ketat.
Kelompok HAM Iran-Kurdi, Hengaw, melaporkan tidak ada demonstrasi besar sejak akhir pekan lalu.
Baca Juga: Tertipu Rp30 Juta demi Masuk Batik Air, Khairun Nisa Berujung Jadi Pramugari Gadungan
Meski begitu, kehadiran militer dan aparat keamanan masih sangat masif, bahkan di wilayah yang sebelumnya tidak mengalami kerusuhan besar.
Kerusuhan Sporadis Masih Terjadi
Meski situasi relatif mereda, indikasi kerusuhan sporadis masih muncul di beberapa daerah. Hengaw melaporkan seorang perawat perempuan tewas akibat tembakan langsung aparat saat protes di Karaj, sebelah barat Teheran. Laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kantor berita Tasnim melaporkan adanya pembakaran kantor pendidikan di Kabupaten Falavarjan, Provinsi Isfahan, pada pekan lalu.
Baca Juga: Fakta Baru Kasus Pelecehan Anak oleh Trainer Gym Semarang, Keluarga Rugi Rp400 Juta
Di wilayah barat laut Iran yang banyak dihuni warga Kurdi, protes sporadis juga dilaporkan masih terjadi.
"Saya belum pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya," ujar seorang warga lanjut usia, merujuk pada kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Video yang beredar di media daring, dan diverifikasi Reuters sebagai rekaman dari pusat medis forensik di Teheran, menunjukkan puluhan jenazah tergeletak di lantai dan tandu. Namun, tanggal pengambilan video tersebut belum dapat dipastikan.
Baca Juga: Kronologi Younger Rugi Rp 3 Miliar, Korban Dugaan Penipuan Kripto Timothy Ronald
Televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan kepala kepolisian yang menyebut situasi nasional telah kembali terkendali.
Ribuan Korban Jiwa Dilaporkan
Kelompok HAM berbasis di AS, HRANA, melaporkan jumlah korban tewas mencapai 2.677 orang. Dari angka tersebut, 2.478 di antaranya disebut sebagai demonstran, sementara 163 orang diidentifikasi berafiliasi dengan pemerintah.
Reuters belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen. Seorang pejabat Iran sebelumnya menyebut sekitar 2.000 orang tewas selama kerusuhan berlangsung.
Baca Juga: Oppo Reno15 Series Segera Rilis di Indonesia, Andalkan Fitur AI Motion Photo Popout
Jumlah korban ini disebut jauh lebih besar dibandingkan gelombang protes sebelumnya yang pernah terjadi di Iran. Pemerintah Iran menuding musuh asing sebagai pihak yang menghasut protes dan mempersenjatai kelompok yang mereka sebut sebagai teroris.
HRANA juga melaporkan lebih dari 19.000 orang telah ditangkap. Sementara itu, Tasnim menyebut jumlah tahanan sekitar 3.000 orang.
Editor : Ubaidillah