RadarBangkalan.id – Keju merupakan sebuah produk olahan susu yang telah menjadi bagian penting dari peradaban manusia.
Pada awalnya, keju adalah hasil dari ketidaksengajaan manusia dalam mengawetkan nutrisi susu melalui proses penggumpalan dan fermentasi.
Penemuan keju diyakini terjadi secara tidak sengaja oleh para pengembara di Timur Tengah ribuan tahun lalu.
Mereka menyimpan susu di dalam kantong yang terbuat dari perut hewan, di mana sisa enzim alami (rennet) bertemu dengan panas matahari, mengubah susu cair menjadi gumpalan padat yang ternyata lezat dan tahan lama.
Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, tradisi pembuatan keju dilestarikan dan dikembangkan oleh para biarawan di biara-biara Eropa selama Abad Pertengahan.
Para biarawan inilah yang melakukan berbagai eksperimen rasa seperti menambahkan rempah-rempah atau membiarkan jamur tertentu tumbuh pada permukaan keju.
Banyak jenis keju terkenal yang kita nikmati saat ini seperti Munster atau berbagai varian keju biru yang dbanyak diragukan orang karena melihat guratan biru pada Blue Cheese atau lapisan putih pada Brie.
Namun, itulah letak keajaibannya, jamur dan bakteri tertentu sengaja ditambahkan untuk menciptakan aroma dan rasa yang unik.
Pematangan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, di mana protein dalam susu pecah dan menghasilkan rasa yang jauh lebih kompleks dan mendalam.
Banyaknya varian keju ini lahir dari ketelitian dan kesabaran para biarawan dalam mencatat proses fermentasi di gudang bawah tanah mereka yang dingin.
Keju memiliki banyak varian yang dibedakan berdasarkan cara pengolahannya. Ada keju segar seperti Mozzarella yang lembut dan elastis saat dipanaskan, hingga keju tua atau aged cheese seperti Parmesan yang teksturnya keras dan memiliki rasa gurih yang sangat kuat.
Baca Juga: Nikmatnya Es Teller, Temani Waktu Berbuka Puasa
Setiap jenis keju mencerminkan karakter tempat asalnya, mulai dari jenis rumput yang dimakan hewan ternak hingga suhu ruangan tempat penyimpanan.
Hingga abad ke-19, keju masih dianggap sebagai produk kerajinan tangan lokal. Perubahan besar terjadi saat Louis Pasteur menemukan proses pasteurisasi, yang memungkinkan susu diolah dengan lebih aman dan higienis dalam skala besar, sejak saat itu, pabrik keju mulai bermunculan.
Di beberapa negara Eropa, khususnya Prancis dan Italia, keju bukan sekadar makanan pendamping, melainkan identitas budaya.
Ada aturan ketat yang menjaga keaslian produksi keju tertentu agar rasanya tidak berubah sejak ratusan tahun lalu.
Di sana, menikmati keju adalah sebuah ritual yang sering kali dipadukan dengan buah-buahan, kacang-kacangan, atau roti segar untuk menyeimbangkan rasa gurih dan lemaknya.
Selain itu keju adalah bentuk konsentrat dari susu. Ia kaya akan kalsium, protein, dan vitamin yang sangat baik untuk kekuatan tulang.
Meskipun sering dianggap sebagai makanan mewah, keju tetap menjadi pilihan praktis untuk mendapatkan energi instan bagi siapa saja yang membutuhkannya dalam aktivitas harian. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana