RadarBangkalan.id – Ramadan selalu menyimpan satu malam yang paling dinanti umat muslim di seluruh dunia, yakni Lailatulqadar.
Malam ini diyakini memiliki keutamaan yang jauh melebihi malam-malam lainnya. Bahkan dalam ajaran Islam disebutkan bahwa Lailatulqadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Karena keistimewaan tersebut, banyak umat Muslim berusaha menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan berbagai ibadah untuk meraih keberkahan malam tersebut.
Secara bahasa, Lailatulqadar dapat dimaknai sebagai malam kemuliaan atau malam penentuan. Dalam tradisi Islam, malam ini diyakini sebagai waktu ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa besar inilah yang menjadikan Lailatulqadar memiliki kedudukan istimewa dibanding malam-malam lainnya.
Keistimewaan Lailatulqadar juga terletak pada nilai ibadah yang dilipatgandakan. Amal yang dilakukan pada malam tersebut diyakini memiliki nilai pahala setara dengan ibadah selama seribu bulan, atau sekitar 83 tahun lebih.
Artinya, satu malam ibadah dapat memberikan ganjaran yang sangat besar bagi umat Muslim yang memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh.
Selain itu, Lailatulqadar dipercaya sebagai malam yang dipenuhi rahmat dan ampunan. Banyak umat Muslim memanfaatkan momen ini untuk memohon ampunan atas kesalahan yang telah dilakukan serta memanjatkan doa-doa terbaik bagi kehidupan mereka.
Suasana spiritual pada malam itu sering terasa lebih khusyuk karena jamaah mengisi waktu dengan salat malam, membaca Al-Qur’an, dan berzikir.
Meski memiliki keutamaan yang luar biasa, waktu pasti terjadinya Lailatulqadar tidak disebutkan secara jelas.
Dalam berbagai riwayat, malam tersebut diyakini hadir pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.
Baca Juga: Tapai Singkong: Makanan Fermentasi Tradisional yang Mulai Terlupakan
Ketidakpastian ini diyakini sebagai hikmah agar umat Muslim tidak hanya beribadah pada satu malam saja, melainkan berusaha menghidupkan seluruh malam di penghujung Ramadan.
Para ulama juga menjelaskan beberapa tanda yang sering dikaitkan dengan Lailatulqadar. Di antaranya suasana malam yang terasa tenang, udara yang sejuk, serta matahari yang terbit dengan cahaya yang lembut pada keesokan harinya.
Namun, tanda-tanda tersebut tidak selalu dapat dipastikan, sehingga umat Muslim dianjurkan tetap memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir.
Dalam praktiknya, berbagai amalan dilakukan untuk menyambut malam tersebut. Salat malam menjadi ibadah yang paling umum dilakukan, baik secara individu maupun berjamaah di masjid.
Selain itu, banyak umat Muslim memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa sebagai bentuk ikhtiar meraih keberkahan Lailatulqadar.
Sebagian jamaah juga menjalankan iktikaf di masjid, yakni berdiam diri di rumah ibadah untuk fokus beribadah selama beberapa waktu.
Tradisi ini membuat suasana masjid pada malam-malam terakhir Ramadan terasa lebih hidup. Lampu-lampu tetap menyala hingga dini hari, sementara jemaah bergantian membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat, atau merenung dalam keheningan malam.
Lebih dari sekadar malam istimewa, Lailatulqadar juga mengandung pesan spiritual yang mendalam.
Malam ini mengingatkan umat Muslim tentang pentingnya kesungguhan dalam beribadah dan memperbaiki diri.
Penghujung Ramadan menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan spiritual selama sebulan penuh sekaligus meneguhkan niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Karena itulah, setiap tahun umat Muslim berlomba-lomba menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah.
Harapannya sederhana namun penuh makna: semoga dapat meraih keberkahan Lailatulqadar dan menjadikannya sebagai titik awal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah Ramadan berakhir. (*)
Editor : Ina Herdiyana