News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Amalan Favorit Menyambut Lailatulqadar: Memperbanyak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan  

Ina Herdiyana • Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:30 WIB

 

Ilustrasi lailatulqadar.
Ilustrasi lailatulqadar.

RadarBangkalan.id – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, suasana ibadah di berbagai masjid dan mushala biasanya terasa lebih hidup.

Jika pada awal Ramadan aktivitas ibadah cenderung berlangsung setelah salat tarawih saja, pada penghujung bulan suci banyak jamaah memilih bertahan lebih lama di rumah ibadah.

Mereka menghidupkan malam dengan berbagai amalan untuk menyambut Lailatulqadar, malam yang diyakini memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan.

Bagi umat Islam, Lailatulqadar menjadi salah satu momen paling dinanti selama Ramadan.

Meski waktu pastinya tidak diketahui, malam tersebut diyakini hadir pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil.

Karena itu, banyak orang berusaha meningkatkan kualitas ibadah sebagai bentuk ikhtiar meraih keberkahan malam istimewa tersebut.

Salah satu amalan favorit yang banyak dilakukan adalah memperbanyak salat malam atau qiyamul lail.

Setelah menunaikan salat tarawih, sebagian jamaah melanjutkan dengan salat sunah lainnya seperti Tahajud dan Witir.

Tidak sedikit pula yang memilih kembali ke masjid menjelang tengah malam untuk menunaikan ibadah dengan suasana yang lebih tenang dan khusyuk.

Selain salat malam, membaca Al-Qur’an juga menjadi aktivitas yang banyak dilakukan. Tadarus yang biasanya digelar setelah tarawih sering diperpanjang hingga larut malam.

Sebagian umat Muslim memanfaatkan momen ini untuk menuntaskan bacaan Al-Qur’an sebelum Ramadan berakhir, sementara yang lain memilih memperbanyak tilawah sebagai bentuk refleksi spiritual.

Amalan lain yang tidak kalah penting adalah memperbanyak zikir dan doa. Banyak jemaah menghabiskan waktu dengan melafalkan tasbih, tahmid, dan takbir, diselingi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap.

Dalam keyakinan umat Muslim, Lailatulqadar merupakan waktu yang sangat baik untuk memohon ampunan, memohon keberkahan hidup, serta berharap segala doa dikabulkan.

Sebagian umat Muslim juga memilih melakukan i’tikaf di masjid. I’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di rumah ibadah sambil mengisi waktu dengan berbagai bentuk ibadah, seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir.

Tradisi ini membuat suasana masjid terasa lebih ramai pada malam hari, bahkan hingga menjelang waktu sahur.

Di beberapa tempat, kegiatan iktikaf juga diiringi dengan kajian keagamaan singkat yang digelar menjelang tengah malam.

Kajian tersebut biasanya membahas keutamaan Lailatulqadar dan pentingnya meningkatkan kualitas ibadah pada akhir Ramadan.

Selain menambah wawasan keagamaan, kegiatan ini juga memperkuat semangat jamaah untuk terus beribadah.

Tidak hanya di masjid, suasana spiritual juga terasa di lingkungan keluarga. Banyak keluarga yang memilih bangun lebih awal untuk melaksanakan salat malam bersama, dilanjutkan dengan sahur sederhana sebelum memasuki waktu imsak.

Momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas ibadah.

Meski Lailatulqadar tidak dapat dipastikan waktunya, semangat umat Muslim untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan tetap tinggi.

Berbagai amalan dilakukan dengan penuh harap agar dapat meraih keberkahan malam seribu bulan.

Bagi banyak orang, momen ini bukan hanya tentang mengejar pahala yang berlipat. Lebih dari itu, sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk merenung, memperbaiki diri, dan meneguhkan niat agar setelah Ramadan berlalu, semangat beribadah tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Ina Herdiyana
#Sepuluh malam terakhir #ramadan #ibadah #amalan #Lailatulqadar