RadarBangkalan.id – Tumbleweed atau rumput lari merupakan fenomena alam yang unik, di mana struktur tanaman yang telah mati memisahkan diri dari akarnya untuk menyebarkan benih.
Tumbleweed bukanlah nama spesies tunggal, melainkan istilah untuk berbagai jenis tanaman yang menggunakan metode bergulir sebagai strategi reproduksi.
Secara ilmiah, tanaman ini paling umum berasal dari spesies Salsola tragus atau yang dikenal sebagai Rusia Thistle.
Baca Juga: Nastar: Mengapa Selalu Jadi Hidangan Andalan di Hari Raya?
Meskipun sangat identik dengan lanskap Texas dan Amerika Barat, tanaman ini sebenarnya bukan tanaman asli sana, melainkan spesies pendatang yang masuk pada akhir abad ke-19.
Saat tanaman ini mencapai fase dewasa dan menghasilkan biji, bagian pangkal batangnya akan mengering dan menjadi rapuh. Tiupan angin yang cukup kuat akan mematahkan batang tersebut dari akarnya.
Struktur dahan yang melingkar dan kaku membentuk bola ringan yang memungkinkan tanaman ini tertiup angin dengan mudah melintasi permukaan tanah yang datar.
Saat bergulir, tumbleweed menjatuhkan ribuan bijinya di sepanjang jalur yang dilewatinya.
Baca Juga: Video Viral Pilot F-15 AS Ditangkap Iran, Ini Fakta Sebenarnya
Bentuknya yang bulat memastikan bahwa setiap sisi tanaman akan menyentuh tanah, sehingga benih tersebar secara merata di area yang luas.
Satu bola tumbleweed besar dapat membawa hingga 250.000 biji, memberikan peluang besar bagi spesies ini untuk tumbuh di lokasi baru yang memiliki sumber air.
Di banyak wilayah seperti Amerika Serikat, tumbleweed dianggap sebagai spesies invasif.
Tanaman ini tumbuh sangat cepat dan mengonsumsi banyak air tanah sehingga dapat mematikan tanaman asli di sekitarnya.
Baca Juga: Cek Bansos April 2026 Tahap 2, Ini Cara Mudah Cek PKH dan BPNT via NIK KTP
Selain itu, tumpukan tumbleweed kering yang menumpuk di pinggir jalan atau pemukiman sering kali memicu bahaya kebakaran karena sifatnya yang sangat mudah terbakar.
Dalam dunia sinematografi, khususnya genre Western, tumbleweed digunakan sebagai bahasa visual untuk menggambarkan tempat yang tandus, terpencil, atau tak berpenghuni. Karena itu tanaman ini juga sering muncul dalam film bertema koboi sebagai simbol kesunyian padang pasir.
Pergerakannya yang acak mengikuti arah angin menciptakan kesan melankolis sekaligus sunyi, yang kini menjadi kiasan umum untuk situasi yang tidak mendapatkan respons atau jawaban. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana