RadarBangkalan.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana blokade terhadap Selat Hormuz setelah pembicaraan damai dengan Iran di Pakistan mengalami kegagalan.
Melalui pernyataannya di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan segera memulai operasi untuk memblokade kapal-kapal yang melintasi jalur vital tersebut.
Baca Juga: AS Blokade Selat Hormuz, Trump Sebut Iran Ingin Negosiasi Damai
Langkah ini langsung memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan memperparah krisis ekonomi global.
United States Central Command menyatakan bahwa operasi blokade mulai diberlakukan pada Senin pukul 10.00 waktu setempat. Namun, implementasi di lapangan disebut tidak sepenuhnya total, karena kapal yang menuju pelabuhan non-Iran masih diperbolehkan melintas.
Baca Juga: Jadwal Timnas U17 Indonesia vs Timor Leste Hari Ini, Kick-off 19.30 WIB
Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah untuk menghentikan “pemerasan global” oleh Iran. Ia menuduh Teheran memanfaatkan situasi di Selat Hormuz untuk keuntungan ekonomi, termasuk rencana penerapan biaya bagi kapal yang melintas.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan membuka kemungkinan “blokade total” hingga Iran memenuhi tuntutan Amerika Serikat. Ia juga mengancam akan mencegat kapal di perairan internasional yang diduga bertransaksi dengan Iran.
Baca Juga: Persib vs Bali United 3-2: Maung Bandung Menang Dramatis Meski Main 10 Orang
Selain itu, Trump mengisyaratkan kebijakan ekonomi tambahan dengan ancaman tarif hingga 50 persen terhadap negara yang dianggap membantu Iran. Xi Jinping disebut menjadi salah satu pihak yang berpotensi terdampak, seiring rencana pertemuan kedua pemimpin dalam waktu dekat.
Baca Juga: Mati Lampu di Jakarta Picu Macet Parah, PLN Klaim Listrik Sudah Normal
Di sisi lain, Iran merespons keras kebijakan tersebut. Pemerintah Teheran menilai kehadiran militer AS di sekitar Selat Hormuz sebagai potensi pelanggaran gencatan senjata.
Parlemen Iran yang dipimpin Mohammad-Bagher Ghalibaf juga menyoroti dampak besar kebijakan tersebut terhadap stabilitas harga energi global.
Upaya diplomasi sebelumnya yang melibatkan delegasi AS, termasuk JD Vance, dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Iran tetap bersikeras mempertahankan tuntutannya, termasuk kontrol atas Selat Hormuz dan pembebasan aset yang dibekukan.
Baca Juga: Viral Penumpang Tahan Pintu Whoosh, KCIC Kecam dan Ungkap Dampaknya
Ketegangan ini langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak sempat melonjak hingga di atas US$100 per barel sebelum mengalami fluktuasi tajam, mencerminkan ketidakpastian yang tinggi di pasar global.
Situasi ini menandai babak baru eskalasi konflik antara AS dan Iran yang berpotensi memicu dampak luas, baik secara geopolitik maupun ekonomi dunia.
Baca Juga: Inter Milan Comeback Dramatis, Kalahkan Como 4-3 dan Dekati Scudetto
Editor : Ubaidillah