News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Malam sebagai Tokoh, Bukan Sekadar Latar

Ina Herdiyana • Selasa, 10 Juni 2025 | 20:06 WIB
MAJELIS BUKU: Ikrar Izzul Haq, A. Zainal hanafi, dan Ina Herdiyana membedah buku Ranjang Poskolonial karya Royyan Julian dan Surat Cinta untuk Malam Karya M. Faizi di Kafe Balada, Sabtu (17/5).
MAJELIS BUKU: Ikrar Izzul Haq, A. Zainal hanafi, dan Ina Herdiyana membedah buku Ranjang Poskolonial karya Royyan Julian dan Surat Cinta untuk Malam Karya M. Faizi di Kafe Balada, Sabtu (17/5).

Oleh INA HERDIYANA

DI tengah hiruk pikuk puisi sosial, budaya lokal, maupun urban dalam sastra Indonesia, Surat Cinta untuk Malam karya M. Faizi datang seperti kitab lirih yang menyendiri, sebuah nyanyian malam yang memuliakan keheningan, menjadikannya sumber makna. Buku ini seakan berbisik perlahan pada kedalaman batin kita, pada keheningan kosmik, dan pada sepi yang penuh cahaya.


M. Faizi tidak hanya menulis malam sebagai latar, melainkan juga tokoh utama. Sebagai tokoh utama, malam dalam puisi-puisi M. Faizi bukanlah entitas pasif yang diliputi gelap dan diam. Ia menyimpan lapisan makna yang tak selesai dibaca hanya lewat diksi. Kita mesti membacanya lewat suasana batin yang senantiasa mendekat pada kesunyian. Dalam konteks ini, malam dihadirkan bukan semata sebagai penantian akan siang, melainkan sebagai waktu yang mandiri, penuh intensitas, dan kadang memuat pertarungan batin tak terucap.

Puisi-puisi ini menyuarakan keterasingan sekaligus sebagai bentuk penerimaan akan keberadaan manusia di tengah semesta yang terlalu luas untuk dipahami secara utuh. Kita bisa melihatnya di berbagai puisi, suara lirik yang mengidentifikasi dirinya sebagai malam itu sendiri. Dalam kata lain, malam sebagai peran. Jadi, malam tidak hanya dialami, tetapi menjelma jadi identitas.

Dalam transformasi ini, M. Faizi mengajak pembaca masuk dalam mode keberadaan yang hening, nyaris mistik, tetapi tidak lepas dari kenyataan dunia. Dalam keheningan itu, pembaca diajak mendengarkan suara jagat luar sekaligus jagat di dalam seperti seorang musafir yang mendengar desir angin di kegelapan, lalu merasa dikenali batinnya.


Ada lima puluh empat puisi dalam buku ini yang menyuguhkan rentang panjang dalam melihat malam dari banyak sisi: sebagai waktu, sebagai ruang, sebagai peristiwa spiritual, sebagai medan tafsir, cermin keberadaan manusia di tengah semesta, bahkan sebagai makhluk atau metafora dari ketakterjangkauan.

Dalam puisi berjudul Permaisuri Malamku, malam adalah entitas yang tak bisa digapai, hadir tanpa kehadiran: ”Permaisuri malamku /selalu datang dengan tanpa kehadiran/ dalam rentang yang tak terjangkau pandang.” Hubungan antara aku lirik dan malam bukan hubungan fungsional (siang-malam, tidur-bangun), melainkan relasi eksistensial yang sarat kerinduan dan keraguan.

Dari segi struktural, puisi-puisi dalam buku ini tersebar dalam bentuk-bentuk bebas yang ringan. M. Faizi banyak bermain dengan larik-larik pendek, enjambemen lembut, dan pengulangan yang membangun nuansa dan irama keheningan. Estetikanya tidak bombastis, sebaliknya ia memuliakan yang sederhana: lampu jalan, gugus bintang, hujan, hilal, atau listrik yang padam. Bahkan puisi Sejenak ke Dulukala yang bermula dari peristiwa sederhana, yaitu listrik padam jam 11 malam, lalu berubah menjadi perenungan tentang kesederhanaan dan tipu daya modernitas. Dari satu peristiwa kecil, Faizi menyalakan gugus makna yang luas, tenang, dan menembus.


Gaya bahasa M. Faizi dalam buku ini sangat khas. Ia membangun metafora dengan lembut. Banyak puisi memanfaatkan metafora kosmologis: bintang, langit, cahaya, bulan, gugusan, azan, rahasia malam, dan waktu-waktu salat. Namun, semua itu tidak hadir sebagai lambang-lambang yang menakutkan atau agung, melainkan sebagai teman percakapan.

Dalam Namaku Malam, dia menulis: ”Namaku malam: kepingan waktu yang membentuk subuh.” Kalimat sederhana ini menyiratkan kedalaman ontologis dan relasi eksistensial antara malam dan waktu. Tidak heran jika malam dalam puisi-puisi Faizi bisa berbicara, berjalan, mendengar, dan bahkan mencintai.


Suara liris dalam buku ini bergerak antara aku penyair, kekasih yang gelisah, dan manusia yang merenung. Suara itu selalu rendah hati, bahkan cenderung ”merunduk”. Ia bukan suara yang serbatahu, melainkan suara yang bertanya. Dalam puisi Hanya Bertanya, M. Faizi menyimpulkan: ”Mendekam di dalam rumah, melihat diri sendiri, / hanya terus bertanya, / aku tak pernah tahu pada jawaban.” Kekuatan puisi-puisi ini justru terletak pada kesediaannya untuk tidak menjawab, untuk menunda kepastian. Malam pun diperlakukan demikian: sebagai wilayah batas di antara tahu dan tidak tahu, antara harap dan hampa.


Meskipun tidak berseru secara politis, puisi-puisi ini tidak apolitis. Faizi menyisipkan banyak kritik terhadap modernitas dan krisis spiritual manusia masa kini. Puisi Hantu Digital misalnya, menyatakan bahwa sejak semua sudut menjadi terang oleh listrik, hantu-hantu dan imajinasi menjadi tumpul. ”Halusinasi dan teror justru muncul dari tombol, saklar, dan benda-benda digital.” Di sinilah puisi menjadi ruang nostalgia dan perlawanan yang lembut, terhadap dunia yang terlalu terang, terlalu cepat, dan terlalu berisik.


Secara tematik, malam dalam buku ini adalah simbol kompleks yang mencakup spiritualitas, cinta, waktu, memori, bahkan kematian. Ada puisi tentang Ramadan, malam gerhana, malam Asyura, hingga hilal. Namun, tidak ada satu pun yang bersifat normatif. M. Faizi berhasil membuat simbol-simbol religius menjadi hidup dalam pengalaman puitik. Ia tidak mengajari pembaca untuk percaya, akan tetapi mengajak untuk merasa. Dalam puisi Ulul Albab, misalnya, tafakur tentang keterbatasan justru menjadi gerbang menuju kelebihan sejati: ”Lalu aku melihat ke langit, /berpikir tentang keterbatasan. /Dan tafakur itulah /yang disebut sejatinya kelebihan.”

Yang menonjol dalam buku ini adalah kesadaran kosmologis yang puitis. Puisi-puisi seperti Pleiades Menjengkal, Lintang Kemukus di Langit Kota, dan Bulan Kadru di Jumantara memperlihatkan betapa langit dan benda-benda di atas sana bukan hanya objek astronomi, melainkan cermin batin. Ketika langit menjadi penuh cahaya buatan kota, M. Faizi menulis dengan lirih tentang polusi cahaya kota merebut semua malamnya. Jadi, pengamatan langit menjadi semacam ziarah batin dan malam adalah kitab yang dibaca dengan cahaya dalam.


Kekuatan lain dari buku ini terletak pada konsistensi dan kehendak estetiknya yang matang. Ia tidak berpindah-pindah tema atau gaya; sejak puisi pertama hingga terakhir, kita berada di dalam dunia yang sama: dunia malam. Bukan malam yang stagnan. Ia terus bergerak. Kadang menjadi kekasih, kadang menjadi ruang tafakur, kadang menjadi ironi modernitas, kadang juga menjadi cermin kerentanan manusia. Kemampuan M. Faizi untuk merawat satu tema dengan begitu kaya variasi menunjukkan kecakapan estetik yang tinggi sekaligus kesetiaan puitik.

Secara umum, Surat Cinta untuk Malam merupakan buku puisi yang mengajak kita berhenti sejenak, menyandarkan diri pada sunyi, dan memasuki ruang kontemplasi. Ia bukan puisi yang ingin menjelaskan, tetapi puisi yang ingin menemani. Dalam dunia yang dipenuhi cahaya palsu dan kebisingan yang sia-sia, puisi-puisi M. Faizi adalah cahaya kecil yang menuntun kita pada pertanyaan yang lebih hening dan bening. (*)

 

Editor : Ina Herdiyana
#puisi #sastra #bedah buku #Surat Cinta untuk Malam #M Faizi