News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Peran Komunitas Seni Lokal Bangkalan: Matapena Art (1); Berdiri di Atas Solidaritas, Multidisiplin, dan Kolaborasi

Ina Herdiyana • Minggu, 15 Juni 2025 | 17:05 WIB
AKTIF: Rangkuman kegiatan kreatif oleh komunitas Matapena Art. (ANAS KHOIR AMAR UNTUK RADARBANGKALAN.ID)
AKTIF: Rangkuman kegiatan kreatif oleh komunitas Matapena Art. (ANAS KHOIR AMAR UNTUK RADARBANGKALAN.ID)

Oleh ANAS KHOIR AMAR*

DI ujung barat Madura, tepatnya di Bangkalan, sebuah komunitas seni visual bernama Matapena Art telah membuktikan bahwa kreativitas bisa menjadi bahasa universal yang menyatukan tradisi dengan modernitas. Bermula dari inisiatif dua seniman lokal, Juplex dan Anas Hope, pada Agustus 2017, kolektif ini lahir sebagai respons atas minimnya wadah ekspresi seni rupa bagi anak muda di wilayah tersebut. Lebih dari sekadar wadah berkarya, Matapena Art telah menjelma menjadi ruang edukasi, rekreasi, dan penggerak ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal.


Kelahiran Matapena berawal dari obrolan spontan antar pelaku seni yang menyadari potensi besar anak muda Bangkalan yang belum terjamah. Tanpa perencanaan rumit, mereka sepakat membentuk kolektif yang fleksibel, bebas dari struktur birokratis namun berkomitmen pada kolaborasi terbuka. Pendekatan inklusif inilah yang memungkinkan Matapena bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari institusi pemerintah hingga korporasi, sambil tetap menjaga semangat kebebasan berekspresi.

Dengan prinsip ”taman bermain” yang menyenangkan, Matapena tidak hanya menghidupkan geliat seni rupa di Bangkalan, tetapi juga menciptakan dialog antara akar tradisi Madura dan gaya kontemporer. Sebagaimana dikatakan Juplex, ”Kami ingin seni tumbuh organik, dari kesadaran para pelakunya sendiri.”

Matapena Art berdiri di atas tiga pilar utama: solidaritas anggota, pendekatan multidisiplin, dan kolaborasi. Sebagai pionir komunitas seni di Madura, mereka tidak hanya fokus pada penciptaan karya, tetapi juga membangun ekosistem kreatif yang inklusif.

Mereka rutin mengadakan workshop seni visual; mulai dari mural, ilustrasi, hingga lukisan untuk semua usia. Kegiatan seperti Gambreng (Gambar Bareng) yang melibatkan anak usia 6 tahun hingga dewasa, menjadi bukti bahwa seni bisa menjadi medium pembelajaran yang menyenangkan.

Kemudian mereka juga melakukan proyek kolaborasi berupa mural di beberapa kampung di Bangkalan, dan yang terakhir di pesisir Pelabuhan Kamal tidak hanya mempercantik wilayah, tetapi juga bisa menjadi objek wisata. Mereka bahkan menggalang dana melalui pameran seni untuk korban bencana alam, menunjukkan bahwa seni bisa memiliki dampak nyata.

Yang membuat mereka unik adalah kemampuan mengolah budaya lokal menjadi karya visual kontemporer. Misalnya, motif batik Madura diadaptasi menjadi desain kaos atau ilustrasi digital, sementara cerita rakyat diangkat dalam mural yang memukau.

Meski penuh prestasi, perjalanan Matapena Art tidak tanpa rintangan, keterbatasan fasilitas dan dana membuat mereka kerap mengandalkan beberapa kedai kopi atau ruang terbuka sebagai tempat workshop dengan dana yang bergantung pada iuran anggota dan kerja sama swasta, sementara regenerasi yang lambat akibat minat generasi muda terhadap seni tradisi yang fluktuatif memaksa sebagian besar anggota harus membagi waktu antara seni dan pekerjaan utama lantaran industri kreatif di Madura belum menjanjikan secara finansial, ditambah dinamika anggota yang tidak selalu bisa berkomitmen penuh, terutama saat menghadapi proyek besar.

Namun, keterbatasan justru memicu kreativitas. Mereka merespons dengan strategi ”give and take”, berkolaborasi dengan komunitas lain seperti Serikat Mural Surabaya atau pelaku usaha lokal, mulai dari kedai kopi hingga sekolah untuk berbagi sumber daya dan ruang kreatif. Tak hanya itu, media sosial menjadi senjata ampuh, melalui konten kreatif di media sosial, mereka tidak sekadar mempromosikan karya, tetapi juga membangun citra bahwa seni tradisi bisa tetap ”keren” dan relevan bagi generasi muda.

Di balik tantangan, Matapena Art justru melihat peluang besar, ekonomi kreatif mulai tumbuh melalui penjualan karya seni seperti merchandise kaos, mural, dan desain yang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi anggota. Dukungan swasta pun mengalir melalui kemitraan dengan usaha lokal, khususnya kedai kopi, yang membuka akses pendanaan sekaligus ruang ekspresi. Mereka juga mengembangkan program hybrid, seperti Bahari Festival di Kamal atau pameran seni di Universitas Trunojoyo Madura, membuktikan bahwa seni tradisi bisa dikemas secara modern tanpa kehilangan rohnya.

Karya-karya Matapena Art bukan sekadar pajangan estetis, melainkan sarana transformasi sosial yang nyata. Melalui proyek-proyek seperti mural kampung, mereka memperkuat solidaritas dengan melibatkan warga lintas generasi dalam proses kreatif yang memupuk interaksi hangat.

Lebih dari itu, karya mereka menjadi benteng budaya dengan menghidupkan simbol-simbol lokal dalam bahasa visual kontemporer, mereka mencegah punahnya tradisi Madura. Tak berhenti di situ, setiap goresan dan warna yang mereka ciptakan secara kolektif telah menjelma menjadi identitas baru Bangkalan, wajah yang modern namun tetap berakar kuat pada kearifan lokal, membuktikan bahwa seni bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Matapena Art membuktikan bahwa seni tidak harus berjarak dengan masyarakat. Dengan pendekatan yang fleksibel, menggabungkan unsur edukasi, komersial, dan sosial, mereka pun berhasil membuat seni tradisi tidak hanya dikagumi, tetapi juga dibutuhkan.

Ke depan, tantangan terbesar Matapena Art adalah menciptakan keberlanjutan gerakan ini, yang membutuhkan dukungan sistemik berupa ruang kreatif permanen dari pemerintah daerah, seperti galeri atau sanggar terbuka untuk aktivitas rutin. Yang tak kalah penting adalah memperluas jejaring melalui kolaborasi dengan komunitas seni lokal atau nasional, sehingga mampu mengangkat kekayaan budaya Madura ke panggung global sambil tetap menjaga kelokalannya.

Matapena Art menjadi bukti nyata bahwa seni bukanlah sekadar ekspresi personal, melainkan nadi kolektif yang berdenyut menghubungkan masa lalu dan masa depan. Komunitas ini menunjukkan bagaimana kreativitas berbasis gotong royong mampu mentransformasi keterbatasan menjadi inovasi, mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi kreatif, sekaligus mengangkat warisan budaya lokal ke panggung kontemporer. Lebih dari itu, mereka telah menciptakan paradigma baru: bahwa seni tradisi yang hidup dari partisipasi komunitas bisa menjadi kekuatan transformatif, memulihkan ingatan kolektif, memperkuat identitas, dan sekaligus membuka jalan bagi pembangunan berkelanjutan di Bangkalan. (*)

*)Seorang pengajar di sekolah swasta di Bangkalan, sedang menempuh studi pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Editor : Ina Herdiyana
#Matapena Art #solidaritas #opini #kolaborasi #MULTIDISIPLIN