News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

MPLS Ramah tanpa Marah

Ina Herdiyana • Selasa, 15 Juli 2025 | 22:05 WIB
Kepala SMAN 1 Sapeken, Kabupaten Sumenep, Fujianto.
Kepala SMAN 1 Sapeken, Kabupaten Sumenep, Fujianto.

Oleh FUJIANTO*

Kepala SMAN 1 Sapeken, Kabupaten Sumenep

 

SENIN, 14 Juli 2025. Langit pagi di berbagai sekolah di Sumenep terasa lebih cerah dari biasanya. Bukan karena cuaca semata, melainkan karena wajah-wajah siswa baru yang berseri-seri, menyambut hari pertama sekolah dengan penuh semangat.

Tidak ada lagi atribut aneh, tidak ada lagi sorak sorai yang menakutkan. Yang terdengar hanyalah lagu penyemangat, yel-yel persahabatan, dan sapaan ramah dari para guru dan kakak kelas.

Inilah wajah baru dari MPLS

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah memulai gerakan besar: membangun atmosfer sekolah yang menyenangkan, humanis, dan mendidik. Tidak main-main, 4.058 siswa mengikuti MPLS secara offline dan online. Tema besar MPLS tahun ini adalah MPLS Ramah, menjadi pengingat bahwa pendidikan dimulai bukan dari tekanan, melainkan dari pelukan nilai-nilai kemanusiaan yang mengedepankan akhlakul karimah.

Pesan bijak dari Ibu Gubernur Jawa Timur menggema di seluruh sekolah, seakan menjadi kompas moral yang mengarahkan langkah semua elemen pendidikan untuk berubah.

 “Man saara ‘ala darbi washala.”

Siapa yang berjalan di jalan yang benar, maka akan sampai pada tujuan.

 

Menghapus Tradisi Tak Mendidik

Tantangan paling nyata dari transformasi MPLS ini adalah melawan romantisme perpeloncoan. Sebagian pengurus OSIS, yang dulunya pernah menjadi korban, cenderung ingin ”mewariskan” pola keras tersebut.

Namun, para guru dengan sigap berdiri di garda depan, memastikan bahwa semangat pembinaan kini berlandasan pada kasih sayang, bukan balas dendam.

Kepada para siswa yang kini memegang tongkat estafet kepemimpinan OSIS, inilah tantangannya: berani menjadi generasi yang memutus rantai kekerasan. Karena keberanian sejati bukanlah berteriak di depan adik kelas, tapi menjadi contoh yang menginspirasi dan memanusiakan.

Baca Juga: BMU: Bantuan atau Bisikan?

Menumbuhkan Harapan Sejak Hari Pertama

MPLS Ramah bukan hanya tentang menyambut, tapi juga membimbing. Di dalamnya, siswa dikenalkan pada 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dibekali wawasan tentang bahaya NAPZA, pornografi, judi online, hingga diberi pemahaman tentang Empat Pilar Kebangsaan. Semua dikemas dengan cara yang inklusif dan menyenangkan.

Sekolah bukan sekadar tempat belajar matematika atau fisika, melainkan juga ruang untuk menanam nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa sepanjang masa. Salah satu gebrakan inspiratif dari pemerintah provinsi adalah program ”Anak Asuh”. Setiap ASN diminta menjadi orang tua asuh bagi siswa yang kurang mampu. Program ini bukan hanya soal bantuan seragam gratis, melainkan tentang bagaimana negara hadir dan memeluk setiap anak agar tetap bisa sekolah tanpa kehilangan martabatnya.

Tantangan ke Depan: Konsistensi dan Keteladanan

Tantangan ke depan tidak hanya menjalankan MPLS Ramah, tapi mempertahankannya sebagai budaya sekolah. MPLS bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah titik awal, bukan titik akhir. Maka, keteladanan guru, kepala sekolah, dan OSIS harus terus menyala sepanjang tahun.

Kita tidak hanya sedang menyambut siswa baru. Kita sedang membangun generasi yang akan membawa negeri ini menuju masa depan. Maka, mari kita pastikan mereka tumbuh di sekolah yang menyemai kasih, memupuk karakter, dan menyinari mimpi.

 

Karena sejatinya, masa depan bangsa kita tidak ditentukan oleh kerasnya sambutan, tapi oleh hangatnya pelukan awal. MPLS Ramah tanpa Marah adalah langkah nyata menuju lompatan besar pendidikan yang lebih manusiawi. Selamat menempuh MPLS ramah tanpa marah. (*)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#dinas pendidikan jawa timur #mpls #masa pengenalan lingkungan sekolah #pendidikan #ramah