News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Menulis dengan Nurani, Bertahan dengan Cinta: 26 Tahun Radar Madura

Ina Herdiyana • Senin, 28 Juli 2025 | 19:17 WIB
AKHMAD YASID UNTUK JPRM
AKHMAD YASID UNTUK JPRM

Oleh AKHMADI YASID 

Mantan Pemred JPRM yang kini menjadi anggota DPRD Sumenep

HARI itu, 27 Juli 1999. Di sebuah kota kecil di ujung sebuah gang di Pulau Garam. Sekelompok jurnalis muda memulai sejarah. Mereka memegang pena, catatan, dan mimpi: membangun media lokal yang kuat, tajam, dan tak bisa dianggap remeh.

Maka lahirlah Radar Madura, bagian dari keluarga besar Jawa Pos. Tanpa terasa, hari ini, Radar Madura berusia 26 tahun. Angka yang tak pendek bagi media lokal. Di usianya yang ke-26 ini, saya hanya ingin menulis satu hal: terima kasih.

Saya mengabdi di sana selama dua dekade. Mungkin saya adalah wartawan terlama di Radar Madura, atau paling tidak, salah satu yang paling keras kepala bertahan.

Saya menyaksikan bagaimana kantor redaksi bisa berubah dari rumah kontrakan sederhana jadi gedung mentereng. Tapi yang paling penting, saya menyaksikan bagaimana jiwa jurnalisme tumbuh dan menempa kami: tentang integritas, keberanian, dan kesetiaan pada kebenaran.

Saya masih ingat malam-malam ketika berita utama harus diganti karena ada kejadian mendadak. Bermain-main dengan waktu: pendek tapi harus akurat.

Tentang bagaimana kami menembus desa terpencil tanpa sinyal demi satu narasumber. Tentang bagaimana satu kalimat salah bisa membuat redaktur marah, tapi satu kalimat tajam bisa membuat halaman depan jadi hidup.

Tentang bagaimana kami tertawa bersama di kantor, tapi juga menangis saat rekan kami harus pergi. Banyak rekan yang telah mendahului. Allahumaghfirlahu. Koran ini begitu lengkap dan bukan sekadar media. Ini sekolah kehidupan.

Tempat kami belajar apa arti menjadi jurnalis yang sebenarnya. Tempat kami jatuh, bangkit, dan tertempa. Banyak dari kami kini berkiprah di tempat lain: ada yang jadi dosen, pebisnis, aktivis, bahkan pejabat.

Saya sendiri kini berada di jalur politik. Tapi jujur, jiwa jurnalis itu tak pernah pergi. Masih ada dalam setiap keputusan, setiap pertimbangan, setiap dorongan untuk terus membela kepentingan rakyat.

Semangat jurnalisme tetap hidup di dalam diri saya. Ia menjadi kompas moral, menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan punya dampak, dan setiap suara rakyat harus didengar.

Bukan hal yang mudah bertahan di satu tempat selama 20 tahun. Tapi saya melakukannya. Dan tempat itu bukan sembarang tempat—ia adalah Radar Madura, media lokal yang lahir dari rahim Jawa Pos pada 27 Juli 1999.

Selama dua dekade saya menjadi bagiannya, terlalu banyak kenangan yang tak mungkin saya lupakan. Saya pernah menulis berita ketika Megawati diganti oleh SBY, lalu melihat Indonesia berganti wajah bersama Jokowi, dan kini Prabowo memegang kendali.

Saya menulis, memotret, mengejar, menunggu narasumber yang kadang muncul tanpa janji, kadang menghilang tanpa kabar. Saya pernah disikut paspampres hanya karena berdiri terlalu dekat saat hendak wawancara presiden.

Saya masih ingat jelas bagaimana tujuh nyawa melayang sia-sia dalam sebuah konflik berdarah di Bujur Tengah. Saat itu, carok tak lagi soal harga diri, tapi berubah menjadi ladang dendam yang tak berkesudahan. Saya menulisnya dengan tangan gemetar, karena saya tahu korban-korban itu juga manusia, seperti kita.

Dan yang paling membekas sampai hari ini: seorang kepala desa tewas dalam dekapan ibunya. Tak ada yang bisa saya lakukan, selain menulisnya dengan jujur. Karena hanya itu yang bisa kami berikan: kebenaran.

Begitulah kehidupan kami di Radar Madura. Antara adrenalin dan air mata. Antara idealisme dan tekanan iklan. Antara kebenaran dan ketakutan.

Tapi di sinilah saya tumbuh. Di balik deadline yang tak kenal kompromi, di balik redaktur yang bisa marah karena koma salah tempat, di balik kopi saset, dan suara mesin cetak yang meraung setiap dini hari.

Dan saya percaya, alumni Radar Madura di mana pun sekarang berada, tetap membawa satu semangat yang sama: semangat bahwa berita bukan hanya soal kata, tapi soal nurani.

Terima kasih Radar Madura. Terima kasih untuk 26 tahun yang membanggakan. Terima kasih sudah pernah menjadi rumah bagi kami yang sedang belajar menjadi manusia.

Semoga tetap jaya dan tetap menjadi media andalan masyarakat Madura. Semoga tetap tajam. Tetap berani. Dan tetap menjadi cermin bagi Madura yang penuh dinamika, emosi, dan harapan.

Saya, bagian kecil dari sejarah itu, hanya bisa mendoakan: teruslah menyala. Teruslah semangat. Teruslah memberi manfaat. (*)

Editor : Ina Herdiyana
#Nurani #radar madura #menulis #Bertahan #cinta