oleh MOHAMMAD ZAINUL ALIM
Pimpinan Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Sumenep
SEPERTINYA Jepang tak pernah tuntas dibincangkan. Kekalahan telak Timnas kita pada Jepang beberapa waktu lalu memantik banyak pertanyaan, seperti misalnya, bagaimana mereka melakukan pembibitan sehingga tak pernah absen sebagai peserta pada laga bola piala dunia. Bagaimana negara kepulauan yang kecil ini menjadi salah satu tujuh negara G7 (group of seven) pemain inti dalam kancah ekonomi dan geopolitik global saat ini? Dan seterusnya.
Dari beragam deret pertanyaan perihal negeri Matahari Terbit yang melaju pesat ini saya menemukan sebuah pembelajaran yang berharga saat berkunjung ke negara maju ini. Barangkali apa yang saya bagi dalam tulisan ini sangat sederhana. Tapi melihat realitas yang saya temui memantik pikiran mendalam tentang sebuah ekosistem, tentang sebuah nilai, asketis, pada bagian struktur bangunan yang banyak dijumpai di sana, yakni tangga.
Pada beberapa kesempatan, saya berkunjung ke Tokyo, Nagoya, Osaka, Kyoto, dan tak lupa menikmati destinasi wisata desa unggulan di negara ini, yakni Shirakawa-go, sebuah desa di Prefektur (setingkat provinsi) Gifu. Desa yang berderet rumah-rumah tradisional Jepang ini tercatat sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO.
Uniknya, baik di wilayah pusat kota atau desa banyak tangga tersedia. Di stasiun kereta, kuil, perumahan bertingkat, di perdesaan atau jalur menuju tempat wisata populer banyak tangga tersedia. Hampir semua bangunan di Jepang dipenuhi tangga. Dan menjadi pilihan utama para warganya saat naik atau menuruni satu bangunan. Bahkan saat di salah satu stasiun kereta saya menjumpai mereka lebih memilih menggunakan jalur tangga daripada antri menggunakan eskalator yang tersedia.
Jujur hal kecil ini cukup mengganggu di dalam benak. Saya berpikir bahwa tangga yang tersebar di banyak infrastruktur bangunan di Jepang tidak menjadi sekadar alat bantu berpindah tempat vertikal, ia menjadi semacam simbol dan gaya hidup para warganya.
Asketis
Banyak orang Jepang memilih untuk berjalan kaki atau naik sepada dalam aktivitas sehari-hari. Tak salah bila tangga menjadi hal penting dalam menopang aktivitas para warganya. Saya berpikir bahwa banyaknya tangga tersebar di banyak bangunan dapat menjadi simbol dari sebuah bentuk asketisme tersembunyi. Aksetisme yang menghasilkan disiplin tanpa kata. Menjadi pola atau kebiasaan yang membentuk tubuh dan pikiran para warganya.
Asketisme berasal dari bahasa Yunani, askeo, yang bermakna melatih atau menjalankan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut asketisme adalah sebuah paham yang mengamalkan hidup secara sederhana. Pemahaman tersebut mengandung sifat kejujuran, rela berkorban, karakter kerja, berdisiplin, dan penempaan diri seseorang.
Dalam pandangan semua agama sifat aksetis adalah sebagai bentuk pengekangan diri dari kehidupan yang bersifat duniawi. Bahkan dalam praktinya cenderung ekstrim, misalnya pernah ada petapa Hindu di India melakukan tapa dengan menatap matahari langsung hingga membuat matanya buta. Kalau di Islam, asketisme dapat kita amati melalui praktik puasa dan sikap zuhud.
Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman, berpandangan bahwa praktik asketis tidak melulu harus ekstrim. Sebaliknya ia menganjurkan sebuah pemahaman yang ”cukup moderat”, yakni asketisme moral untuk mengembangkan kebajikan dan praktik hidup sehari-hari dengan menekan ketegangan emosi atau nafsu, mendorong ketenangan, dan kebiasaan positif lainnya.
Secara umum kita mengenal asketisme sebagai bentuk laku atau jalan yang dilakukan oleh setiap orang, pertapa atau para sufi misalnya, dalam menahan diri dari segala bentuk kenikmati duniawi. Hal ini sebagai jalan untuk tercerahnya diri dan kesempurnaan spiritual. Tapi bila kita telaah lebih jauh sikap asketisme sebagaimana dikatakan Kant, maka kita dapat menemukan korelasi positif dalam praktik orang-orang Jepang yang suka membiasakan jalan kaki menaiki tangga. Ada makna tersirat dari kebiasaan yang jauh dramatisasi ini.
Kala di stasiun Shinjuku, saya mengamati lelaku asketis orang-orang memilih suka berjalan kaki dan menaiki tangga daripada naik eskalator atau lift. Tak ada keluh kesah. Tak ada sesal. Dari praktik ini saya melihat bahwa pola pikir warganya telah terbentuk secara kolektif untuk bersusah payah menaiki cita-cita. Melatih dan menempa diri, perlahan hingga mencapai target dan tujuan yang hendak dicapai. Menaiki tangga adalah menguatkan proses. Tangga-tangga di Jepang bagi saya adalah simbol dari sikap hidup yang menerima lelah sebagi bagian dari perjalanan hidup kita. Karena menaiki tangga bukan sekadar soal ketahanan fisik, tapi juga penempaan batin.
Bagi saya, menaiki tangga adalah sebentuk asketisme modern. Di tengah segala gemerlap yang telah dihasilkan globalisasi seperti sekarang ini kita seyogianya tak boleh instan. Menaiki tangga adalah pilihan sadar untuk hidup lebih aktif dan jujur pada diri sendiri. Bahwa semuanya butuh proses. Seperti kata pepatah, bersusah dahulu bersenang kemudian.
Bila kita mengenal Jepang hari ini sebagai negara maju, barangkali karena kebiasaan warganya yang lebih suka berproses. Memulai langkah demi langkah dari bawah. Menanamkan kerja keras dan disiplin demi tercapainya kualitas yang kelak dipetik.
Tak heran bila sekarang Jepang bersama Amerika, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, menjadi negara kepulauan di Asia Timur yang punya pengaruh besar dalam konstalasi geopolitik dunia. Setelah tiga kali berkunjung ke negeri Matahari Terbit ini saya baru sadar ada hal yang mungkin sederhana, tapi penting sebagai pemantik pembelajaran bersama untuk kita, yakni sebuah tangga.
Refleksi ini mengembalikan kesadaran saya akan sebuah entitas. Sebuah kebiasaan yang tidak memproritaskan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tangga kita dapat belajar bahwa lelah bukanlah musuh. Sebaliknya menjadi pengiring kita untuk melesatkan segala potensi diri. Potret kebiasaan berjalan kaki dan menaiki tangga tak hanya memupuk kebiasaan sehat, tapi lebih dari itu mengajarkan kita untuk tidak berleha-leha dengan segala produk industri. (*)
Editor : Ina Herdiyana