Oleh: Mohammad Sugianto Wartawan Senior Jawa Pos Radar Madura
(Alumni PP Miftahul Ulum Al-Islamy Congaban Modung Bangkalan)
Saya tidak tahu apa yang ada di benak redaksi Trans7 ketika menayangkan pesantren sebagai tempat perbudakan. Mungkin mereka ingin “membuka mata publik”. Tapi yang mereka buka justru luka — luka kolektif para santri se-indonesia yang martabatnya direndahkan oleh narasi yang dangkal.
Saya santri. Enam tahun saya mondok. Tidak di kota, tapi di perbatasan kab. bangkalan dengan Kab. Sampang. Tempat suara adzan bersahut-sahutan memanggil kami ke musala. Tempat di mana belajar bukan hanya tentang menghafal kitab, tapi juga menundukkan ego. Tempat di mana adab jauh lebih tinggi dari sekadar pengetahuan.
Dan jangan salah: keinginan mondok itu bukan paksaan. Tidak ada orang tua yang menyeret saya ke pesantren. Saya datang dengan tekad sendiri — karena ingin belajar agama, ingin memahami hidup lewat kacamata iman. Di Madura, hal itu bukan hal aneh. Mondok adalah tradisi, bukan beban. Ia warisan, bukan perintah. Ia lahir dari kerinduan akan ilmu, bukan ketakutan terhadap dunia.
Mereka yang belum pernah nyantri mungkin hanya melihat dari luar: sarung, sandal jepit, dan kamar berdesakan. Tapi mereka tak tahu — di balik kesederhanaan itu ada kemewahan yang tidak dimiliki banyak orang: kemewahan jiwa. Pesantren adalah ruang sunyi yang mengasah sabar, melatih mandiri, dan memahat tanggung jawab.
Mereka bilang, santri “disuruh ini-itu” tanpa upah. Mereka lupa: itu bukan eksploitasi, itu pendidikan karakter paling murni. Di dunia kerja modern, orang menyebutnya leadership training — di pesantren, kami menyebutnya khidmah. Melayani guru bukan perbudakan. Itu bentuk cinta, bakti, dan latihan keikhlasan.
Jika pesantren disebut tempat perbudakan, maka berarti ratusan ribu kiai adalah “tuan” dan jutaan santri adalah “budak”. Betapa piciknya cara pandang seperti itu. Padahal, dari pesantrenlah lahir para pemimpin bangsa, tokoh masyarakat, dan pejuang kemerdekaan yang tak pernah menuntut balas jasa.
Saya tidak menutup mata. Mungkin ada satu dua oknum yang menyelewengkan nilai. Tapi menilai seluruh pesantren dengan kacamata itu sama seperti menilai seluruh jurnalis dari satu berita yang salah tulis.
Pesantren bukan tempat menindas. Ia tempat memerdekakan: memerdekakan pikiran dari kebodohan, hati dari kesombongan, dan hidup dari ketergantungan duniawi.
Maka saya ingin bilang — dengan tajam, tapi tetap hormat:
Jangan sekali-kali menafsir pesantren tanpa pernah mencium bau kitab kuning. Jangan menilai santri kalau tak pernah merasakan dinginnya air subuh di kamar mandi umum, atau nikmatnya makan seadanya dengan teman sepondok yang mengajarkan arti berbagi.
Pesantren bukan perbudakan. Ia justru universitas kehidupan yang sesungguhnya — tempat kami belajar menjadi manusia.
Dan saya, dengan bangga, akan selalu menyebut diri saya: Santri.
Editor : Mohammad Sugianto