News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Satu Nampan Sejuta Rasa, Mengadakan Mayoran dalam Satu Kebersamaan

Ina Herdiyana • Senin, 3 November 2025 | 16:39 WIB
Sekumpulan remaja sedang mengadakan mayoran di Bangkalan.   
Sekumpulan remaja sedang mengadakan mayoran di Bangkalan.  

SETIAP kita bertemu dengan hal baru pasti perlu melakukan adaptasi. Dalam lingkungan baru, sering kali kita kenal orang baru dan ketika kita kenal orang baru kita perlu membangun kemistri antara satu dengan yang lain.

Banyak hal yang bisa kita lakukan agar bisa membangun kemistri dengan orang lain. Salah satunya dengan mengadakan mayoran.

Mayoran merupakan tradisi dari para leluhur. Tradisi ini berasal dari Pulau Jawa yang memiliki arti makan bersama.

Mayoran sangat melekat pada lingkungan pesantren karena di pesantren dengan populasi yang sangat banyak tidak memungkinkan jika makan sendiri-sendiri.

Oleh sebab itu, banyak pondok pesantren yang melestarikan tradisi mayoran.

Mayoran tidak dibatasi, siapa saja bisa mengadakan mayoran. mayoran tidak memerlukan biaya yang besar.

Biaya yang dikeluarkan bergantung pada menu yang disepakati. Jika hanya lauk tahu, tempe, dan telur mungkin cukup Rp 10.000 per orang.

Ada banyak hal yang menjadi karakteristik dari tradisi mayoran, yakni:

  1. Makan dalam satu wadah

Mayoran biasanya meggunakan nampan atau daun pisang untuk wadah makannya dan wadah itu dikelilingi oleh semua orang yang terlibat.

  1. Dilakukan secara kolektif

Mayoran ini dilakukan tanpa paksaan mereka mengadakan dan mengikuti mayoran atas kesadaran diri masing-masing.

  1. Mengutamakan kebersamaan

Menu pada saat mayoran tidak menjadi prioritas karena mereka lebih mengedepankan kebersamaan dari pada menu pada mayoran.

Singkatnya, mayoran merupakan tradisi makan bersama yang memiliki banyak makna filosofis yang berkaitan tentang persudaraan, kesetaraan dan solidaritas. (Baiq Alwi)

Editor : Ina Herdiyana
#mayoran #pesantren #makan bersama #Tradisi Jawa