News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Vernakularisasi Kiai Madura

Ina Herdiyana • Sabtu, 29 November 2025 | 22:08 WIB
Dr. Iwan Kuswandi, M.Pd.I.
Dr. Iwan Kuswandi, M.Pd.I.

Dr. Iwan Kuswandi, M.Pd.I 
Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas PGRI Sumenep

MASIH segar dalam ingatan kita semua, musibah yang menimpa salah satu pondok tua yang ada di Pulau Jawa, Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, peristiwa tersebut menggugah hati kita bahwa semangat dan keikhlasan kiai dalam membangun dan membina pesantren, yang tidak jarang lahir dari kedermawanan dan gotong royong masyarakat, namun tetap memiliki keterbatasan di bidang teknis bangunan yang standar.

Bangunan musala yang baru selesai dicor tiba-tiba runtuh memberikan pelajaran bahwa intuisi dan pengalaman lapangan tidak dapat menggantikan keahlian seorang pakar ilmu di bidangnya, terutama bidang konstruksi bangunan, yang benar-benar memahami struktur, kandungan material, serta keselamatan kerja.

Kalau selama ini, pesantren dibangun dengan swadaya masyarakat, sementara pendanaan dari pemerintah jauh dari memadai.

Untuk itu, pesantren juga membutuhkan kolaborasi yang komprehensif antara niat tulus kiai, teknisi yang ahli di bidang konstruksi, dan tak kalah penting adanya komitmen pemerintah untuk mendanai pembangunan fisik secara layak di lingkungan pesantren.

Maka dari kolaborasi itulah, akan tercipta ruang-ruang ibadah, belajar dan berlatih santri, yang standar, kokoh, dan aman.

Apa yang terjadi di atas menambah rentetan kompetensi yang harus dimiliki dari seorang kiai pesantren.

Di Madura, para kiai pesantren tidak hanya ahli dalam bidang ilmu agama Islam. Namun, menjadi kiai pesantren di Madura, perlu memiliki kompetensi-kompetensi dasar lainnya.

Misalnya, secara personal, kiai dituntut memiliki pengetahuan di bidang pengobatan. Hasil riset bidang antropologi telah banyak menyimpulkan, bahwa kiai adakalanya menjadi sosok penyembuh bagi santri dan masyarakatnya.

Kiai sebagai penyembuh tidak sekadar lahir dari kepercayaan yang datang dari masyarakat, akan tetapi menjadi praktik nyata seperti thibbun nabawiyah, pembacaan ayat ruqyah, dan penggunaan media air doa kiai, yang banyak terbukti dapat memberikan ketenangan psikologis.

Bahkan tidak sedikit, hasil penelitian yang menemukan bahwa masyarakat banyak memilih kiai sebagai salah satu rujukan utama Ketika mereka mengalami gangguan non-medis atau psiko-spritual, karena mereka merasakan adanya penguatan batin.

Hasil temuan lainnya, menunjukkan bahwa dari sisi psikologi religious, dengan meminum air doa kiai, dapat menurunkan stress dan melahirkan sugesti positif bagi pasiennya.

Saat ini di kancah dunia pesantren, sugesti positif pengobatan dengan air doa kiai yang diyakini ada dimensi barakah, perlu diintegrasikan dengan dunia medis modern.

Untuk itu, para kiai pesantren kemudian melakukan langkah-langkah yang terbilang logis dan antisipatif.

Walaupun tidak sedikit masyarakat yang datang kepadanya untuk berobat, secara bersamaan para kiai menyiapkan kadernya, baik dari anak atau santrinya untuk menempuh pendidikan bidang kesehatan, mulai dari kebidanan, keperawatan, bahkan kedokteran.

Tidak hanya itu, Pendidikan pesantren yang memiliki jenjang perguruan tinggi, di dalamnya menyediakan fakultas Kesehatan.

Bahkan tidak sedikit dari pesantren yang ada di Madura, yang menyediakan fasilitas klinik bahkan ada yang sudah memiliki rumah sakit sendiri.

Dengan demikian, tradisi spiritual dan profesionalisme medis dapat berjalan secara bersama, mewujudkan masyarakat pesantren yang sehat.

Di samping itu, kiai selama ini juga dikenal sebagai sosok yang memiliki kekuatan batin, terutama dalam menjalani tirakat, wirid, dan disiplin spiritual lainnya.

Bahkan dari beberapa hasil penelitian ditemukan bahwa wibawa dan ketanangan batin dari sosok kiai seringkali dimaknai sebagai kasekten atau kekuatan kanuragan yang dapat memberikan rasa aman dan sebagai perlindungan diri.

Maka wajar kalau kemudian ada asumsi yang mengatakan bahwa kanuragan kiai lebih merupakan konstruksi sosial atas kesalehan personal dan kedalaman spiritual mereka daripada klaim kekuatan fisik atau supranatural.

Kalau dulu, kiai pesantren cukup dengan kompetensi ketabiban dan kedalaman spiritual. Saat ini, sosok kiai juga dituntut untuk memiliki kompetensi sebagai konselor mental masyarakat.

Salah satu studi menemukan bahwa konseling religius oleh kiai dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan mekanisme coping. Dalam konteks masyarakat saat ini, penyakit lambung, seperti gastritis, dyspepsia, maupun gerd, sejatinya tidak hanya karena salah dalam pola makan, namun tingkat stress menjadi pemicu utama yang dominan, bisa karena tekanan pekerjaan, ketidakstabilan ekonomi, dan banjir informasi.

Maka di kalangan masyarakat pesantren, penanganannya tidak hanya dari sisi medis, namun juga melalui spiritual.

Di sinilah konseling kiai memainkan perannya, bisa melalui nasihat keagamaan atau juga bisa melalui pendampingan batin, yang kemudian mendatangkan rasa tenang, mengurasi kecemasan, dan menata ulang cara seseorang dalam menghadapi tekanan hidup.

Di era perkembangan kecerdasan artifisial (IA), ada tuntutan baru yang harus menjadi kompetensi tambahan seorang kiai, yaitu kemampuan dalam memanfaatkan teknologi baru sebagai sarana dakwah dan pendidikan yang efektif, terutama di tengah maraknya dakwah melalui media sosial.

Kehadiran kiai di tengah platform digital membantu menjaga otoritas keilmuan keislaman yang hakiki di tengah arus dakwah popular yang sarat informasi instran yang sering tidak berdasar. IA dan medsos menjadi alat yang memperluas daya jangkau dakwah bagi seorang kiai.

Dengan demikian, kiai saat ini dituntut untuk bisa memberikan konseling religious dan mampu berdakwah dengan IA dan medsos agar lebih eksis dalam kehidupan masyarakatnya.

Walaupun perubahan zaman sangat dinamis, tantangan kompetensi yang terus berubah, kiai harus tetap mempertahankan kompetensi dasarnya, yaitu dalam hal keilmuan keagamaan.

Paling utama bagi kiai adalah benar-benar menjaga sanad keilmuannya. Jaringan keilmuan ulama pesantren Madura memiliki sanad yang kuat dengan pusat-pusat keilmuan yang ada di Timur Tengah, terutama Makkah, Madinah, Mesir, Yaman dan negara Islam lainnya.

Seperti sosok Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Hasan al-‘Iraqi Sampang, Kiai Barizi Sampang, Kiai Abdul Majid Pamekasan, Kiai Abdul Hamid Bata-Bata, Kiai Tidjani Djauhari, dan Kiai Thoifur Ali Wafa berada dalam rantai transmisi ilmu yang bersifat muttasil melalui jalur guru-guru yang pernah bermukim atau belajar di Haramain.

Secara ilmiah, hal ini menunjukkan bahwa otoritas keilmuan para kiai Madura bukan hanya hasil legitimasi sosial, tetapi didasarkan pada sanad keilmuan yang sah dan diakui dalam tradisi Islam global.

Para ulama Madura seperti Syaikhona Kholil, Kiai Hasan Iraqi, Kiai Abdul Majid, Kiai Abdul Hamid, Kiai Thoifur Ali Wafa, Kiai Barizi, dan Kiai Tidjani Djauhari merepresentasikan kekuatan tradisi intelektual Madura yang bertumpu pada penguasaan bahasa Arab, fiqih, dan metodologi pesantren.

Syaikhona Kholil menjadi fondasi otoritas sanad keilmuan, sementara Kiai Hasan Iraqi, Kiai Abdul Majid, dan Kiai Abdul Hamid memperkuat reputasi Madura sebagai pusat ahli nahwu, sharaf, dan tradisi Pegon.

Kiai Thoifur Ali Wafa memantapkan posisi Madura dalam kajian tafsir, Kiai Barizi menjaga kesinambungan pengajaran kitab turats, dan Kiai Tidjani Djauhari menghadirkan wajah pesantren modern dengan basis akademik internasional.

Bersama-sama, mereka menggambarkan dinamika keilmuan Madura yang kaya, adaptif, dan relevan hingga hari ini.

Pendidikan di pesantren yang diasuh oleh kiai, sejatinya menjadi arena paling efektif dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah, dalam hal ini Bahasa Madura. Banyak para kiai di pesantren Madura yang tetap mengajar kitab-kitab turats dengan menggunakan Bahasa Madura sebagai bahasa pengantar.

Mafhum diketahui bahwa bahasa yang digunakan di sekolah memiliki peluang bertahan jauh lebih besar disbanding yang hanya dipakai di rumah. Pembelajaran kitab yang dilakukan di pesantren merupakan integrasi bahasa daerah dalam kurikulum pesantren dapat meningkatkan sikap positif dan kompetensi santri.

Dengan dukungan lingkungan pesantren inilah, akan tercipta ekosistem yang dapat melestarikan Bahasa Madura.

Banyak kiai pesantren di Madura yang tergolong produktif dalam literasi, tidak sedikit kitab-kitab turats yang mereka berikan makna dan arti versi mereka masing-masing, maka wajar kalau kemudian terdapat variasi buku ajar antarpesantren pun tak terelakkan, karena masing-masing lembaga umumnya memakai karya para kiainya sendiri berupa kitab tarjamah dari teks-teks Arab ke dalam Bahasa Madura.

Dengan apa yang dilakukan oleh para kiai tersebut, sejatinya mereka telah melakukan dua kerja intelektual sekaligus, yaitu replikasi teks keagamaan dan hibridisasi makna agar sesuai dengan konteks budaya Madura.

Pada aspek replikasi, para kiai menggunakan makna antarbaris, makna gandhul, dan tarjamah pegon sebagaimana dilakukan ulama nusantara lain, namun dengan mempertahankan struktur asli bahasa Arab dan menyajikannya melalui diksi Madura yang mudah dipahami santri.

Pola ini menjadi bukti kesinambungan sanad intelektual, terbukti dari masih digunakannya kitab-kitab tarjamah Madura warisan para kiai pendahulunya, bisa dari generasi perintis atau pendiri di pesantren tersebut.

Sementara dari sisi hibridisasi, para kiai pesantren Madura tidak berhenti pada penerjemahan literal; mereka mengaitkan konsep-konsep fikih dan ilmu agama lainnya dengan budaya Madura serta situasi sosial masyarakat, sehingga pembelajaran menghasilkan pemahaman yang lebih kontekstual.

Dengan demikian, kitab tarjamah berbahasa Madura berfungsi bukan hanya sebagai instrumen linguistik, tetapi juga sebagai sarana literasi kultural yang mengintegrasikan teks turats dengan realitas hidup santri dan komunitasnya.

Selain tradisi maknaan kitab, di pesantren juga memiliki tradisi agung yaitu hataman kitab. Tradisi tersebut masih banyak ditemukan di hampir mayoritas pesantren, baik dilakukan dalam pembelajaran keseharian, ada juga yang dilakukan setiap tahun sekali, terutama dalam momentum bulan Ramadan.

Tradisi hataman kitab menandai selesainya kajian suatu kitab sebagai bentuk validasi bahwa santri telah menguasai materi secara komprehensif dan mendapatkan pengesahan langsung dari kiai.

Kedua tradisi di atas, baik maknaan kitab atau hataman kitab, cermin dari model epistemology pesantren yang menekankan pada kajian teks, dilakukan secara berjenjang, jelas sanadnya, dan orientasi utamanya pada pemahaman mendalam bagi para santrinya.

Selain itu, yang paling utama adalah terjadinya interaksi antara guru dengan murid, interaksi antara kiai dengan santrinya.

Belajar agama tanpa bimbingan guru membuka banyak kerentanan epistemik—mulai dari salah memahami teks, munculnya kesombongan intelektual, hingga hilangnya keberkahan ilmu—karena tidak ada transmisi adab, hikmah, dan verifikasi otoritatif dari seorang pembimbing.

Dalam tradisi Islam, guru bersanad menjadi penjaga kemurnian ilmu sekaligus penghubung autentik antara warisan ulama terdahulu dan generasi berikutnya, sebagaimana ditekankan Al-Qur’an agar umat bertanya kepada ahlinya dan diperingatkan para ulama tentang bahaya belajar hanya dari buku atau penafsiran pribadi.

Kerangka ini sejalan dengan tradisi hataman kitab di pesantren, yang tidak hanya menandai tuntasnya kajian suatu kitab, tetapi juga menjadi legitimasi ilmiah bahwa santri telah menerima, memahami, dan memverifikasi ilmu secara langsung di bawah bimbingan kiai.

Dengan demikian, tradisi hataman kitab bukan sekadar seremoni, melainkan mekanisme sanad yang memastikan bahwa ilmu ditransmisikan dengan benar, beradab, dan tetap berada dalam garis keilmuan yang otoritatif.

Dengan demikian, kiai di Madura sejatinya, tidak hanya memiliki kejelasan sanad keilmuan. Praktik pembelajaran pesantren di Madura mencatat bahwa pengajaran kitab kuning, tradisi maknaan kitab, serta ritual hataman merupakan mekanisme kultural yang menjaga kesinambungan transmisi keilmuan dari generasi ke generasi.

Melalui metode yang menekankan replikasi teks, disiplin makna, dan dehibidisasi pemahaman, sejatinya para kiai telah melakukan proses vernakularisasi yang memungkinkan ilmu Islam klasik hidup dalam konteks lokal tanpa kehilangan otoritas asalnya.

Dengan kata lain bahwa kiai Madura bukan hanya pewaris sanad, tetapi juga aktor kunci dalam menghidupkan budaya literasi pesantren dan memastikan dakwah keilmuan terus berlangsung secara konsisten dan istikamah. (*)

Editor : Ina Herdiyana
#madura #kiai #opini #Vernakularisasi