News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Di Balik Tangis Gus Ipul dan Kisah Bocah Pemulung di Sekolah Rakyat Prabowo

Abdul Basri • Senin, 19 Januari 2026 | 08:34 WIB

Faisal Hariyadi
Faisal Hariyadi

Oleh: *Faisal

Momen peresmian 166 Sekolah Rakyat oleh Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) beberapa waktu lalu menyisakan cerita viral. Saat memberikan sambutan, Gus Ipul sempat terisak hingga harus ditenangkan oleh Presiden.

Di jagat maya, reaksi netizen terbelah. Ada yang mengapresiasi, namun tak sedikit yang mencibirnya sebagai drama berlebihan.

Namun, bagi saya—seorang pekerja sosial yang terlibat langsung dalam "gerilya" mendirikan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bangkalan, Madura—tangisan itu bukanlah sandiwara. Saya tahu betul emosi apa yang bergejolak di sana.

Berikut adalah catatan kecil dari lapangan tentang bagaimana program ini mengubah wajah-wajah kusam menjadi harapan baru.

Gerilya Mencari Siswa: Kisah Pilu Tantri

Berbeda dengan sekolah umum, Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran. Kamilah yang harus "turun gunung", mengetuk pintu satu per satu rumah warga miskin untuk mencari anak putus sekolah. Di Bangkalan, tantangannya luar biasa.

Meyakinkan warga desa untuk menyekolahkan anaknya di program baru inisiasi Presiden Prabowo ini sulitnya bukan main. Kecurigaan dan kekhawatiran menjadi tembok tebal.

Saya teringat pada Tantri (bukan nama sebenarnya). Bocah perempuan berusia 6 tahun, cantik, namun yatim piatu.

Ia tinggal bersama neneknya yang sakit-sakitan. Tantri sangat ingin bersekolah, namun kemiskinan memaksanya mengubur mimpi itu.

Saat saya datang menawarkan sekolah gratis, asrama penuh, hingga jaminan kesejahteraan keluarga, mata sang nenek berbinar.

Ada harapan di sana. Tantri pun kegirangan saat diberi tahu ia akan segera mengenakan seragam. Rasanya, saya seperti pahlawan yang baru saja menyelamatkan satu masa depan.

Namun, takdir berkata lain. Tak lama setelah kunjungan itu, sang nenek meninggal dunia. Tantri urung masuk Sekolah Rakyat.

Ia dijemput bibinya ke Kalimantan. Mirisnya, sempat beredar kabar sang nenek khawatir cucunya akan menjadi korban perdagangan orang—sebuah stigma yang masih melekat di masyarakat awam desa. Meski gagal membawa Tantri, doa saya menyertainya agar ia tetap memiliki masa depan cerah.

Gegar Budaya: Dari Jalanan ke Kasur Empuk

Perjuangan tidak berhenti di rekrutmen. Ketika Sekolah Rakyat Bangkalan akhirnya diresmikan dengan sekitar 70 siswa—mulai dari anak yatim, pemulung, hingga anak jalanan—tantangan baru dimulai: Gegar Budaya.

Anak-anak ini terbiasa hidup keras di jalanan, tidur beralaskan kardus, dan makan tak teratur. Tiba-tiba, mereka masuk ke gedung mewah berfasilitas lengkap.

Makan tiga kali sehari dengan lauk pauk bergizi, susu, buah, tidur di kasur empuk dengan pendingin ruangan (AC), bahkan masing-masing mendapat laptop.

Awalnya, saya syok bukan main. Suasana asrama seperti kapal pecah.

Saat salat berjamaah, ada yang perang sarung. Di kamar mandi, mereka berebut masuk hingga banting pintu. Ada yang melompat pagar tangga.

Emosi saya sempat naik turun, napas ngap-ngapan mengejar mereka ke sana kemari. Namun, saat saya duduk mengatur napas, sebuah kesadaran menghantam dada saya.

"Sesungguhnya mereka bukan nakal, tapi mereka sedang meluapkan rasa bahagia."

Tingkah laku yang "liar" itu adalah ekspresi kegembiraan yang meluap-luap.

Bahagia punya mainan baru, bahagia punya toilet bersih, bahagia bisa makan enak, dan bahagia karena ada orang dewasa yang mau memijat dan mendengarkan celoteh mereka. Bagi mereka, ini adalah dunia baru.

"Ini Buat Mama" dan Lahirnya Sang Juara

Perlahan tapi pasti, kesabaran membuahkan hasil. Suasana asrama mulai tertib. Mereka mulai belajar mengantre dan saling membantu. Pemandangan mengharukan pun mulai bermunculan.

Suatu hari, saya melihat seorang siswi menyimpan jatah jajannya. Saat ditanya, jawabannya meruntuhkan hati saya: "Mau dibawa pulang buat mama."

Anak sekecil itu, yang dulunya hidup dalam kekurangan, memiliki empati yang begitu besar.

Tak hanya soal karakter, potensi mereka pun meledak. Nur Laily, salah satu siswa yang fotonya sempat diunggah akun media sosial Kemensos, berhasil menyabet Juara 2 Lari 100 Meter tingkat kabupaten.

Siapa sangka, anak yang dulunya dipandang sebelah mata, anak pinggiran yang kusam dan kurang gizi, kini berdiri tegak memegang piala.

Melihat mereka kini bersih, berisi, cantik, dan ganteng dalam balutan seragam serta baret khas Sekolah Rakyat, saya tak kuasa menahan tangis.

Sekolah dari Hati Malaikat

Kini saya mengerti mengapa Gus Ipul menangis. Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik atau program kerja. Ini adalah perwujudan mimpi anak-anak yang nyaris terbuang.

Konsep sekolah ini "gila". Mereka yang untuk makan saja susah, kini diperlakukan layaknya anak raja. Fasilitas laptop dan asrama mewah bukan untuk memanjakan, tapi untuk mengangkat derajat mereka, membuktikan bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk bermimpi.

Bagi saya, Sekolah Rakyat lahir dari niat tulus seseorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri: Presiden Prabowo Subianto.

Terima kasih, Pak Presiden. Dan untuk Gus Ipul, tangisan Anda adalah tangisan kami juga. ***

Editor : Abdul Basri
#kemensos #menteri sosial #Sekolah Rakyat #presiden prabowo subianto