Oleh : Mohammad Sugianto (Wartawan Senior Jawa Pos Radar Madura)
Empat bulan sebelum Ramadan.
Masih lama, pikir saya.
Tapi ponsel saya bergetar. Bukan notifikasi biasa. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Dari nomor yang belum tersimpan. Dari Bangkalan.
Isinya singkat. Tidak bertele-tele.
“Pak, bazar takjil Radar Madura digelar tahun ini?”
Saya berhenti membaca. Bukan karena pertanyaannya aneh. Tapi karena waktunya. Ramadan masih jauh. Biasanya orang baru sibuk mencari lapak seminggu sebelum puasa. Bahkan kadang tiga hari sebelumnya. Ini belum apa-apa. Tapi ia sudah bertanya. Lebih dari itu: ia ingin memastikan. Ia ingin mendaftar lebih awal.
Di situ saya langsung paham satu hal penting:
Bazar takjil yang digelar Jawa Pos Radar Madura bukan sekadar event.
Ia sudah berubah menjadi kebutuhan.
Bagi sebagian orang, Ramadan adalah ibadah.
Bagi sebagian lainnya, Ramadan adalah harapan.
Harapan untuk menambah penghasilan. Harapan untuk menutup kebutuhan dapur. Harapan untuk membayar uang sekolah anak. Harapan untuk bertahan. Mungkin harapan juga untuk memenuhi kebutuhan lain-lain.
Dan bazar takjil adalah salah satu pintu harapan itu.
Di Bangkalan, bazar takjil selalu ditunggu. Antusiasmenya bukan sekadar angka di proposal. Bukan baliho besar di pinggir jalan. Tapi terasa di ponsel. Di dering telepon. Di obrolan para PKL. Di pesan-pesan singkat yang masuk jauh hari sebelum Ramadan tiba.
Mereka datang dari mana-mana.
Ibu rumah tangga yang ingin menjual kue sederhana.
Anak muda yang baru belajar usaha.
Pedagang kecil yang hidup dari putaran harian.
Bahkan pelaku usaha kelas atas yang ingin memperluas pasar.
Mereka menjual apa saja. Tentu takjil. Dari yang paling sederhana sampai yang kreatif. Dari gorengan, kolak, hingga minuman kekinian. Bukan untuk gaya. Tapi untuk hidup.
Saya teringat satu masa yang tidak akan saya lupakan: pasca Covid.
Saat itu semua masih gamang. Ekonomi belum pulih. Orang takut berkerumun. Risiko kesehatan masih jadi bayang-bayang. Di internal Jawa Pos Radar Madura, kami sempat berpikir keras: perlu tidak bazar takjil digelar?
Pertimbangannya panjang.
Kesehatan.
Teknis.
Risiko.
Keputusan hampir bulat: tidak digelar.
Tapi ternyata kami keliru membaca denyut di bawah.
Pelaku UMKM datang. Bukan satu dua. Banyak. Mereka datang ke kantor. Mereka bertanya. Mereka berharap. Mereka mendesak. Bahkan ketika awalnya belum mendapat jawaban, mereka tidak berhenti.
Hari terus berjalan. Ramadan makin dekat. Kurang dari 15 hari.
Akhirnya keputusan itu diambil: bazar digelar.
Waktunya mepet. Sangat mepet. Persiapan serba cepat. Nyaris kejar-kejaran dengan kalender.
Hasilnya?
Di luar dugaan.
Stand yang disiapkan hanya 150. Yang mendaftar lebih dari itu. Totalnya 180. Mereka rela antre. Rela menunggu. Rela bersaing. Bukan untuk gengsi. Tapi untuk mengais rezeki.
Di situ saya sadar: yang mendesak itu bukan orang iseng. Mereka bukan sekadar ingin jualan. Mereka sedang memperjuangkan hidup mereka.
Mungkin dapur mereka.
Mungkin biaya sekolah anak mereka.
Mungkin cicilan yang jatuh tempo. Hehehehe
Ramadan bagi mereka bukan romantika. Bukan sekadar bulan suci yang indah di poster-poster. Ramadan adalah kesempatan.
Dan di sinilah letak masalah besar kita selama ini.
Banyak pengambil kebijakan rajin berbicara UMKM. Di seminar. Di forum resmi. Di spanduk besar. Di pidato panjang. Tapi lupa satu hal paling mendasar: UMKM tidak butuh wacana.
UMKM butuh ruang.
Jawa Pos Radar Madura mungkin hanya media. Tapi selama hampir 15 tahun, ia konsisten menyediakan ruang itu. Tanpa banyak bicara. Tanpa jargon besar. Empat kabupaten di Madura. Tahun demi tahun. Bazar takjil digelar. Rakyat bergerak. Ekonomi berputar.
Maka ketika dua bulan sebelum Ramadan sudah ada yang bertanya, saya tidak lagi heran.
Itu bukan pertanyaan biasa. Itu tanda.
Tanda bahwa bazar takjil sudah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi rakyat Bangkalan. Ia bukan agenda seremonial. Ia bukan pelengkap kalender event. Ia sudah menjadi urat nadi.
Dan barangkali, inilah pelajaran paling penting yang sering kita abaikan:
Jika sebuah kegiatan dirindukan masyarakat, bahkan didesak, jauh sebelum waktunya tiba, berarti kegiatan itu bukan sekadar event. Ia adalah kebutuhan.
Ramadan akan datang.
Takjil akan diburu.
Dan di Bangkalan, orang-orang kecil sudah bersiap.
Jauh sebelum beduk pertama ditabuh.
Semoga bazar takjil Ramadan selalu membawa berkah. Terutama bagi UMKM.
Wassalam.
Editor : Mohammad Sugianto