News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Mengapa Membaca Buku di Ruang Publik Kini Dipandang Sesuatu yang Aneh dan Tidak Normal?

Ina Herdiyana • Kamis, 7 Mei 2026 | 13:13 WIB
Sumber foto: dihasikan oleh AI
Sumber foto: dihasikan oleh AI

RadarBangkalan.id – Duduk sendirian di tengah keramaian stasiun atau kafe dengan sebuah buku terbuka di tangan sering mengundang tatapan yang sulit diartikan. 

Di antara deretan orang yang sibuk dengan gawai masing-masing, lembaran kertas yang dibalik satu per satu tampak seperti anomali visual yang memicu rasa ingin tahu sekaligus kecanggungan. 

Seolah ada sebuah garis pembatas tak kasatmata yang memisahkan dirinya dari kebisingan dunia luar dan menciptakan area privasi di ruang milik bersama.

Baca Juga: Resep Simpel dan Enak Sayur Labu Siam

Ketidaklaziman ini sebenarnya berakar dari pergeseran norma sosial yang kini didominasi oleh layar digital. 

Saat ini menunduk menatap ponsel adalah perilaku kolektif yang dianggap wajar, sedangkan menunduk menatap buku fisik dianggap sebagai tindakan yang terlalu berusaha.

Muncul prasangka halus bahwa membaca di ruang publik hanyalah sebuah upaya untuk terlihat lebih intelek atau sekadar membangun citra diri yang keren dan estetis. 

Padahal, bagi banyak orang, buku adalah pelarian paling praktis dari rasa jenuh tanpa harus menambah beban pada mata akibat paparan sinar biru.

Baca Juga: Asam Lambung Naik Terus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya dengan Tepat  

Lebih jauh lagi, fenomena ini dipandang aneh karena membaca membutuhkan konsentrasi mendalam yang kontras dengan sifat ruang publik yang dinamis dan penuh distraksi. 

Masyarakat modern yang terbiasa dengan rangsangan informasi singkat dan instan merasa heran melihat seseorang mampu tenggelam dalam narasi panjang di tengah hiruk pikuk.

Kemampuan untuk tetap fokus di tengah kebisingan itu sering disalahartikan sebagai sikap antisosial atau menutup diri, seolah-olah sang pembaca sedang menolak keberadaan orang-orang di sekitarnya secara sengaja.

Keberadaan buku fisik di tempat umum juga menciptakan rasa asing bagi mereka yang sudah lama meninggalkan budaya literasi cetak.

Baca Juga: Nasi Serpang: Sarapan Favorit Warga Madura

Buku dianggap sebagai benda personal yang seharusnya dinikmati dalam kesunyian kamar, bukan di bawah lampu neon minimarket atau di atas kursi plastik halte bus. 

Ketika batasan antara ruang privat dan ruang publik ini dikaburkan oleh kehadiran sebuah buku, orang lain cenderung canggung karena tidak tahu bagaimana harus bersikap di dekat seseorang yang sedang mengembara ke dunia lain melalui kata-kata. 

Namun, di balik semua tatapan heran tersebut, membaca di tempat umum adalah bentuk perlawanan kecil terhadap hilangnya kemampuan fokus manusia.

Dengan tetap membuka buku di tengah keramaian, seseorang sebenarnya sedang menormalisasi kembali aktivitas berpikir kritis dan imajinasi yang lambat laun tergerus oleh kecepatan arus informasi digital. 

Baca Juga: Kluwek: Rahasia di Balik Hitam dan Gurihnya Masakan Nusantara  

Ini bukan sekadar tentang menghabiskan bab demi bab, melainkan tentang menjaga kewarasan dan ketenangan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.

Pada akhirnya, dipandang aneh bukanlah sesuatu yang buruk jika alasannya adalah karena kita memilih untuk tetap terhubung dengan literasi. 

Menjadi berbeda di tengah keseragaman pengguna gawai justru menunjukkan bahwa kita masih memiliki kendali penuh atas atensi kita sendiri.

Jadi, biarkan saja dunia menatap dengan penuh tanya, sementara kita terus melangkah melewati batas-batas dunia nyata melalui setiap kalimat yang kita lahap dengan tenang. (Athoya Hanin)

 

Editor : Ina Herdiyana
#aneh #tidak normal #ruang publik #membaca buku