RadarBangkalan.id - VinFast telah secara resmi memasuki pasar Indonesia, dengan pengenalan produknya dilakukan di International Indonesia Motor Show (IIMS) 2024.
Selain menjual produknya, merek asal Vietnam ini juga berencana untuk berinvestasi di Indonesia dengan mendirikan pabrik perakitan.
Meskipun telah melakukan ekspansi ke berbagai pasar global, dalam laporan keuangannya untuk kuartal keempat 2023,
VinFast masih mencatat kerugian sebesar VND 4,2 triliun, meskipun pendapatannya mencapai US$ 437 juta.
Pendapatan VinFast pada akhir tahun lalu meningkat 133 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dikutip dari VietnamNet, pada akhir 2023, VinFast mencatat kerugian konsolidasi sebesar USD 552 juta atau sekitar Rp 8,6 triliun dengan penjualan sebesar USD 1,2 miliar, meningkat 1,9 kali lipat dari tahun sebelumnya.
Pada tahun 2023, VinFast berhasil menyediakan 34.855 mobil listrik, mengalami peningkatan sebesar 48 persen dibandingkan tahun sebelumnya, serta berhasil menjual 72.468 sepeda motor listrik.
Sebagai hasilnya, meskipun masih mengalami kerugian, VinFast berhasil mengurangi jumlahnya dan meningkatkan margin keuntungannya, yang dapat dikaitkan dengan optimasi manajemen biaya.
Laporan keuangan VinFast juga mencakup ambisi untuk menghadirkan seratus ribu mobil listrik pada tahun 2024.
Pada akhir tahun ini, VinFast berencana untuk mendirikan total 400 titik penjualan di seluruh dunia, termasuk 130 titik penjualan di Amerika Utara.
Memasuki Pasar India dan Indonesia
VinFast semakin menguat dalam upaya memperluas kehadirannya di pasar, termasuk pasar Indonesia dan India.
Upaya optimalisasi biaya produksi dan material, serta investasi modal (Capex), dianggap sebagai solusi penting untuk memperluas pasar.
Le Thi Thu Thuy, pemimpin VinFast, menyatakan bahwa perusahaan telah mencapai sejumlah pencapaian penting,
termasuk mencatatkan perusahaan di bursa saham Nasdaq, memperkenalkan sejumlah besar produk baru, dan meningkatkan jaringan distribusinya.
Namun, perusahaan yang dimiliki oleh Pham Nhat Vuong, seorang miliarder, juga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan dana di sektor keuangan Amerika Serikat, di mana aliran modal investasi saat ini cenderung berhati-hati.
Editor : Ubaidillah