PGN Genjot Konversi BBM ke BBG, Efisien, Ramah Lingkungan, dan Tekan Biaya Pengemudi
Mohammad Sugianto• Kamis, 31 Juli 2025 | 13:10 WIB
Ilustrasi para pemilik kendaraan antusias beralih ke BBG (Bahan Bakar Gas) dengan bantuan dari PGN dan Gagas Energi. K
Radarbangkalan.id – Pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) di sektor transportasi dinilai masih minim, padahal potensinya besar untuk mendukung transisi energi bersih dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).
Melihat celah tersebut, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus menggencarkan program konversi BBM ke BBG, salah satunya melalui inisiatif tanggung jawab sosial (CSR) untuk pengemudi kendaraan daring.
Sebanyak 40 unit mobil online telah mendapatkan converter kit BBG, dengan rincian 30 unit beroperasi di Jakarta dan 10 unit di Surabaya. Sistem dual fuel memungkinkan kendaraan tetap fleksibel menggunakan BBG atau BBM sesuai kebutuhan.
Langkah ini tak hanya efisien secara energi, tapi juga terbukti menurunkan emisi karbon dan menghemat biaya operasional harian para pengemudi.
Sejak 2023, PGN bersama anak usaha PT Gagas Energi Indonesia dan Komunitas Mobil Gas (Komogas) telah mengonversi 187 kendaraan dari BBM ke BBG. Rinciannya: 80 unit pada 2023, 67 unit pada 2024, dan 40 unit di tahun ini. Di luar itu, anggota Komogas secara mandiri telah mengonversi 102 kendaraan.
“Komitmen menuju Net Zero Emissions 2060 butuh langkah nyata. Konversi BBG adalah solusi cepat, karena infrastruktur sudah tersedia,” ujar Fajriyah Usman, Sekretaris Perusahaan PGN.
Lebih dari sekadar mengurangi emisi, penggunaan BBG juga berdampak langsung pada kesejahteraan pengemudi.
Direktur Utama Gagas Energi, Santiaji Gunawan, menyebutkan biaya bahan bakar bisa ditekan hingga 30 persen. Pasalnya, harga BBG saat ini hanya Rp 4.500 per Liter Setara Premium (LSP), jauh lebih murah dibandingkan BBM nonsubsidi.
“BBG bukan hanya solusi lingkungan, tapi juga strategi untuk sistem transportasi efisien dan mengurangi impor BBM,” jelasnya.
Evaluasi Komogas juga menunjukkan respons positif. Mayoritas pengemudi kini menjadikan BBG sebagai bahan bakar utama. Salah satu kendaraan bahkan mencatat jarak tempuh hingga 10.987 km dalam sebulan, dengan 80 persen perjalanan menggunakan BBG.
“Artinya, infrastruktur BBG saat ini sudah cukup mendukung operasional kendaraan jarak jauh,” tegas Andy Lala Lumban Gaol, Ketua Komogas.
Komogas juga aktif mengedukasi anggotanya. Mulai dari pengembangan aplikasi pencari SPBG terdekat, pelatihan penggunaan sistem BBG, hingga pelatihan teknisi konversi dan perawatan kendaraan BBG. Pada akhir Juni 2025 lalu, pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta dari berbagai wilayah.