Bangkalan, Radarbangkalan.id – Honda dikenal sebagai merek motor dengan citra irit, awet, dan harga jual tinggi. Namun, tidak semua produk Honda mendapat penilaian positif.
Sejumlah model justru menuai kritik dari pengguna karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
Dikutip dari youtube @FuseboxmotoID, Berikut delapan motor Honda yang dinilai kurang layak dibeli terburu-buru:
1. Honda Genio
Sekilas desainnya ramping dan klasik, tapi di balik itu Genio hanya berbagi mesin 110 cc dengan Beat dan Scoopy.
Bodinya terlalu ringan, fitur minim, shockbreaker keras, dan jok belakang sempit.
Ditambah rangka eSAF yang sering dipertanyakan ketahanannya, membuat Genio dianggap tidak sepadan dengan harga Rp20 jutaan.
2. Honda ADV 150
Tampil gagah dengan aura adventure, namun performanya dinilai tidak sesuai.
Mesin 150 cc kurang bertenaga di tanjakan, suspensi tidak segarang tampilannya, dan biaya servis serta spare part mahal.
Ban standar juga disebut tidak nyaman. Banyak yang menilai ADV 150 lebih cocok disebut city bike ketimbang motor petualang.
3. Honda Spacy
Spacy sempat hadir dengan bagasi besar dan jok lebar, cocok untuk keluarga.
Sayangnya desainnya terlalu biasa, respon gas lemot, dan handling kurang lincah.
Popularitasnya cepat meredup, suku cadang kini sulit dicari, membuat motor ini kurang relevan untuk dibeli saat ini.
4. Honda Supra GTR 150
Diluncurkan untuk menyaingi Yamaha MX King, namun kalah pamor.
Mesin DOHC 150 cc bertenaga, tapi torsinya baru muncul di putaran atas sehingga kurang nyaman untuk harian.
Popularitas rendah membuat harga bekasnya jatuh. Part aftermarket juga terbatas, sehingga biaya modifikasi lebih mahal.
5. Honda Scoopy (rangka eSAF)
Scoopy punya desain ikonik dan identitas kuat. Namun penggunaan rangka eSAF membuat calon pembeli ragu.
Meski ada garansi, kasus rangka bermasalah membuat konsumen harus berpikir dua kali.
Dengan harga yang mendekati kompetitor, Scoopy bukan pilihan aman bagi yang khawatir soal rangka.
6. Honda CBR150R
Desain makin sporty, tapi performa dianggap mengecewakan.
Suspensi lembek, posisi riding tidak terlalu agresif, dan mesin kurang galak.
Motor ini lebih nyaman untuk harian, tapi bagi pencinta performa, CBR150R dinilai overpriced dengan value rendah.
7. Honda SH150i
Skutik premium ini laris di Eropa dan Vietnam, tapi gagal di Indonesia.
Harga terlalu mahal dengan fitur mirip PCX, desain bergaya Eropa kurang cocok dengan selera lokal, dan biaya perawatan tinggi.
SH150i dianggap bukan motor untuk pasar Indonesia, kecuali bagi yang mencari keunikan.
8. Honda PCX 160
Di atas kertas, PCX 160 terlihat menjanjikan dengan mesin 160 cc, panel digital, dan smart key.
Namun pengguna mengeluhkan masalah overheat, oli cepat habis, getaran mesin, hingga radiator bermasalah. Konsumsi BBM juga dinilai boros.
Dengan harga semakin mahal, banyak yang menilai PCX 160 tidak sepadan dengan value yang ditawarkan.
Meski Honda tetap menjadi merek populer di Indonesia, sejumlah model di atas menunjukkan bahwa citra “irit dan awet” tidak selalu berlaku.
Konsumen disarankan lebih kritis sebelum membeli, mempertimbangkan kebutuhan harian, biaya perawatan, serta nilai jual kembali.
Editor : Yusron Hidayatullah