News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Bincang Dzikir dan Wirid: Menelusuri Perbedaan dalam Mendekatkan Diri kepada Allah

Raditya Mubdi • Minggu, 25 Februari 2024 | 19:50 WIB
Bacaan Niat Sholat Hajat, Lengkap dengan Doa dan Tata Caranya. (Foto: liputan6)
Bacaan Niat Sholat Hajat, Lengkap dengan Doa dan Tata Caranya. (Foto: liputan6)

RadarBangkalan.id - Perjalanan spiritual selalu menuntun kita pada refleksi mendalam tentang bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Dalam konteks keislaman, "dzikir" dan "wirid" muncul sebagai elemen kunci dalam ibadah, mengusung makna yang mendalam dan menuntut pemahaman yang lebih dalam.

Dari segi bahasa, RadarBangkalan.id mengulas bahwa "dzikir" berasal dari akar kata "dzakara-yadzkuru-dzikran," membawa makna "menyebut, mengucapkan, mengagungkan, mensucikan, dan mengingat."

Sementara itu, "wirid" berasal dari "warada-yaridu-wuruda," seakar kata dengan "wardah" yang berarti "bunga mawar."

Dalam pemahaman populer, keduanya sering diartikan sebagai "penyebutan dan penyucian nama Allah SWT," menciptakan nuansa penghormatan yang mendalam.

Makna dari kedua istilah ini juga mencakup kegiatan membaca Kalam Allah, yaitu Al-Qur’an. Meskipun memiliki tujuan yang serupa,

yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT, perbedaan mendasar muncul dalam ketentuan penyebutan dan pengungkapan.

Zikir: Kebebasan dalam Pengingatan Allah

Dalam praktik "zikir," kebebasan menjadi ciri khasnya. Tidak ada ketentuan khusus terkait jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya.

Bacaan yang dibacakan saat zikir pun tidak terikat pada ketentuan tertentu, bergantung pada apa yang dihafal atau dikuasai oleh individu.

Zikir terkesan sebagai praktik yang bersifat temporary. Dilakukan saat hati sedang dalam keadaan khusus atau mood tertentu, seperti menghadapi masalah, memiliki hajat besar, atau dalam keadaan bahagia sebagai ungkapan rasa syukur.

Baca Juga: Klasemen Premier League setelah Pertandingan Bournemouth Vs Man City

Wirid: Kepermanenan dalam Pengabdian

Sebaliknya, "wirid" menampilkan ketentuan yang lebih kaku. Ditentukan jenis bacaan, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalannya.

Wirid memerlukan disiplin dan konsistensi, menjadi suatu rutinitas yang dijalankan tanpa henti. Seseorang yang mengamalkan wirid selalu mematuhi rutinitas wiridnya, dan meninggalkannya seolah meninggalkan suatu kewajiban.

Perbedaan ini membawa pandangan bahwa di perspektif keagamaan, ahli wirid dianggap lebih kuat dibanding ahli zikir, mengingat kedisiplinan dan keteguhan yang diperlukan dalam melaksanakan wirid.

Baca Juga: Klasemen Premier League setelah Pertandingan Bournemouth Vs Man City

Al-Qur'an: Pendorong Utama Zikir dan Wirid

Dalam Islam, baik zikir maupun wirid sangat dianjurkan, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur'an. Ayat "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (Q.S. al-Ra’d/13:28) memberikan informasi mengenai ketenangan hati melalui zikir dan mengingat Allah SWT.

Ayat lainnya, "Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang" (Q.S. al-Ahdzab/33:42), mendorong untuk meningkatkan zikir menjadi wirid.

Rasulullah SAW juga mengisyaratkan agar pengamalan zikir dilembagakan dan diamalkan secara terukur menjadi wirid.

Hadis dan Praktik di Masyarakat

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, terdapat riwayat yang menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw memberikan petunjuk dalam praktik dzikir.

Para pekerja dan pelayan diajarkan untuk membaca subhanallah, al-hamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing tiga kali setelah shalat fardhu.

Rasulullah Saw menjamin bahwa kedudukan mereka di mata Allah setara dengan tuan-tuan mereka jika mengamalkan wirid ini setiap usai shalat fardhu.

Kelompok pekerja dan pelayan yang melaksanakan wirid ini menarik perhatian tuan-tuan mereka, bahkan turut mengajak mereka untuk bergabung.

Permintaan dari kelompok pekerja dan pelayan agar diberikan praktik lain yang membuat mereka tidak kalah di akhirat, dijawab oleh Rasulullah Saw dengan kata-kata bijak, "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya."

Penutup: Bincang yang Mencerahkan

Baca Juga: Petunjuk Lengkap Shalat Hajat: Niat, Tata Cara, Bacaan Doa hingga Keutamaannya

Dalam perjalanan spiritual, baik zikir maupun wirid memiliki keindahan dan makna tersendiri. Zikir memberikan kebebasan dan spontanitas, sementara wirid membawa kepermanenan dan kedisiplinan.

Keduanya, dalam esensinya, memiliki tujuan yang sama, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT. Allahu A’lam.***

Editor : Raditya Mubdi
#allah #rasulullah #Wirid #zikir