Radarbangkalan.id - Semua orang mungkin pernah melihat anak kecil memegang ponsel sambil menonton YouTube, membuka TikTok, atau sekadar memberi like pada review makanan.
Baca Juga: Peristiwa Berdarah Carok Viral di Group WA, Terjadi di Ketapang Sampang
Namun tak semua sadar, dari layar mungil itu, bisa lahir kekuatan yang membangun, menghancurkan, atau bahkan menyesatkan satu industri. Pekan ini, yang jadi sorotan publik adalah nastar.
Kisah ini bermula dari video yang diunggah oleh William Anderson, atau yang lebih dikenal sebagai Codeblu, seorang food vlogger dengan jutaan pengikut.
Dalam videonya, ia menampilkan kue nastar dari Clairmont yang dikatakannya “berjamur” dan menunjukkan dapur mereka seolah sedang menginvestigasi tempat kejadian perkara. Video itu pun viral.
Nastar, Netizen, dan Reputasi di Era Digital
Jika dahulu gosip beredar di pasar, kini disebar dengan kamera 4K, editan sinematik, dan jangkauan jutaan orang.
Clairmont, yang selama ini dikenal sebagai salah satu merek kue ternama, mendadak sepi pembeli hanya karena satu unggahan. Di dunia digital, satu konten negatif mampu menghapus ratusan promosi.
Kritik atau Keji?
Codeblu membela diri bahwa ini adalah soal kepedulian terhadap kesehatan publik. Sebaliknya, Clairmont menyebut tindakan tersebut sebagai pencemaran nama baik.
Baca Juga: Peristiwa Berdarah Carok Viral di Group WA, Terjadi di Ketapang Sampang
Di tengah perdebatan hukum dan pasal ITE, publik pun terseret dalam drama yang viral. “Entah siapa yang lebih bikin mual: nastar berjamur atau komentar-komentar yang menghujat sebelum berpikir.”
Pertanyaannya: apakah kritik yang dibungkus dengan kreativitas dan jingle lucu tetap pantas secara etika? Apakah semua orang yang punya kamera kini merasa berhak menjatuhkan siapa pun?
Uang, Etika, dan Tuduhan 350 Juta
Tuduhan pemerasan sebesar Rp350 juta menambah panas suasana. “Codeblu menyebutnya penawaran profesional, Clairmont menyebutnya teror digital.”
Dalam konteks ini, relasi antara konten dan bisnis menjadi arena yang licin: siapa terpeleset lebih dulu, reputasinya bisa hangus. Media sosial tidak menunggu klarifikasi. Yang dicari adalah sensasi.
Tradisi vs Zaman: Dari Roti Natal ke Konten Viral
Clairmont menyatakan mengalami kerugian hingga Rp5 miliar pada periode Natal dan Tahun Baru. Momen yang biasanya penuh tradisi berubah menjadi krisis bisnis.
Baca Juga: Peristiwa Berdarah Carok Viral di Group WA, Terjadi di Ketapang Sampang
Dulu orang mencari nastar terenak, sekarang mereka memilih kubu: #TeamCodeblu atau #SaveClairmont.
Konflik antara nilai tradisional dan gelombang zaman modern bergulung, “seperti adonan mentega yang salah resep.”
Siapa yang Berhak Bicara?
“Dulu, kritikus membaca, merenung, lalu menulis panjang-panjang. Sekarang? Tinggal rekam, potong, unggah.”
Apakah ini berarti kemajuan? Bisa jadi. Namun seperti kata Mahbub Djunaidi, “Di tangan yang salah, kemajuan bisa jadi jalan tol menuju kekacauan.” Di tengah riuh komentar dan penilaian, kita lupa menjadi manusia yang penuh empati.
Dari Dapur ke Ruang Sidang
Setelah mediasi gagal, saksi-saksi mulai dipanggil, dan ancaman gugatan perdata dilontarkan. Semua ini bermula dari sebuah kue bernama nastar.
Tapi nastar di sini hanya simbol dari dilema yang lebih luas: antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab digital.
Kritik, dulunya adalah tanda kemajuan. Kini, dalam sistem algoritma, jaraknya sangat dekat dengan clickbait.
Anak-anak, HP, dan Rasa Percaya yang Terkikis
Bayangkan seorang anak kecil yang menonton video viral itu lalu bertanya, “Bu, nastar itu bisa jahat ya?” Sang ibu yang kebingungan menjawab, akhirnya hanya mematikan ponsel dan menyuruh anaknya mengaji.
Dan di situlah letak getirnya: ketika kepercayaan terhadap apa pun digantikan oleh kepercayaan pada apa yang paling viral.
Editor : Ubaidillah