RadarBangkalan.id - Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman pahit yang pernah dialaminya saat remaja.
Melalui buku berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Aurelie mengaku pernah menjadi korban child grooming ketika berusia 15 tahun.
“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku,” tulis Aurelie dalam unggahannya pada 3 Januari 2026.
Baca Juga: Pendaki Gunung Slamet Syafiq Ali Ditemukan Meninggal Setelah Hilang 19 Hari
Child grooming merupakan proses manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa atau individu yang lebih tua untuk membangun kedekatan emosional dengan anak.
Tujuannya adalah mengeksploitasi, menyalahgunakan, atau melakukan kekerasan seksual terhadap korban.
Proses ini biasanya berlangsung secara perlahan sehingga sering tidak disadari, baik oleh korban maupun lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Krisis Iran Memuncak, Nilai Rial Tembus 1,1 Juta per Dolar AS
Pelaku grooming kerap tampil sebagai sosok yang ramah, perhatian, dan terlihat dapat dipercaya. Di era digital, praktik ini tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui media sosial, gim daring, aplikasi pesan instan, hingga berbagai platform digital lainnya.
Pelaku memanfaatkan celah pengawasan serta kerentanan emosional anak untuk memengaruhi dan mengendalikan korban.
Tahapan Child Grooming
Child grooming umumnya terjadi melalui beberapa tahap. Pelaku biasanya menargetkan anak yang dianggap rentan, seperti mereka yang merasa kesepian, kurang perhatian, memiliki masalah keluarga, atau aktif di dunia maya.
Baca Juga: Kronologi Younger Rugi Rp 3 Miliar, Korban Dugaan Penipuan Kripto Timothy Ronald
Tahap berikutnya, pelaku membangun kepercayaan dengan memberikan pujian, perhatian khusus, atau hadiah.
Setelah itu, pelaku menciptakan ikatan emosional yang membuat anak merasa bergantung secara psikologis.
Baca Juga: Spesifikasi Samsung Galaxy A07 5G Terungkap, Siap Masuk Indonesia
Seiring waktu, pelaku mulai mengaburkan batasan dengan membicarakan topik dewasa, meminta korban menyimpan rahasia, atau melakukan sentuhan yang tidak pantas.
Pada tahap akhir, eksploitasi atau kekerasan dilakukan, baik secara fisik maupun melalui dunia digital.
Dampak child grooming sangat serius dan dapat berlangsung jangka panjang. Korban berisiko mengalami trauma psikologis, kecemasan, depresi, gangguan kepercayaan, hingga masalah kesehatan mental di masa dewasa. Banyak korban enggan melapor karena merasa bersalah atau takut, akibat manipulasi yang dilakukan pelaku.
Baca Juga: Buka Suara soal Alasan Doyan Selingkuh, Jule Bongkar Sikap Kasar Daehoon yang Diduga Lakukan KDRT
Ciri-Ciri Pelaku Child Grooming
Pelaku child grooming sering kali tidak tampak mencurigakan. Mereka justru terlihat baik di mata lingkungan sekitar.
Salah satu cirinya adalah memberikan perhatian berlebihan kepada anak, seperti pujian atau hadiah yang tidak wajar.
Pelaku juga berusaha menghabiskan waktu sendirian dengan anak tanpa pengawasan orang dewasa lain.
Baca Juga: 5 Fakta Pegawai Pajak Jakarta Utara Kena OTT KPK, Dugaan Suap hingga Barang Bukti
Selain itu, mereka kerap mengaburkan batasan fisik dan emosional melalui sentuhan yang awalnya tampak sepele, lalu meningkat secara bertahap.
Ciri lain yang perlu diwaspadai adalah meminta anak menyimpan rahasia, menggunakan manipulasi emosional agar korban merasa bersalah, serta meremehkan peran orang tua atau pengasuh.
Di dunia digital, pelaku sering mendekati anak dengan identitas palsu atau berpura-pura menjadi teman sebaya.
Baca Juga: Tertipu Rp30 Juta demi Masuk Batik Air, Khairun Nisa Berujung Jadi Pramugari Gadungan
Pencegahan Child Grooming
Pencegahan child grooming membutuhkan peran aktif orang tua, pendidik, dan masyarakat. Komunikasi terbuka dengan anak menjadi kunci utama, termasuk mengajarkan batasan tubuh dan memberikan pemahaman tentang risiko interaksi daring.
Baca Juga: Super Flu Masuk Indonesia, Kenali Varian Influenza A H3N2 Subclade K
Anak perlu diyakinkan bahwa mereka dapat bercerita tanpa takut disalahkan. Pengawasan penggunaan internet dan media sosial juga sangat penting di tengah perkembangan teknologi saat ini.
Child grooming merupakan kejahatan serius yang kerap tersembunyi di balik sikap ramah dan perhatian palsu, sehingga kewaspadaan bersama menjadi langkah utama pencegahan.
Baca Juga: Viral Curhat Guru ASN Pasuruan soal Jarak 57 Km, Berujung Pemecatan
Editor : Ubaidillah