Radarbangkalan.id - Pada Senin siang, Real Madrid menyatakan kekecewaannya setelah mengetahui bahwa Vinicius Junior tidak memenangkan Ballon d'Or,
yang sebelumnya mereka anggap pasti dimenangkan. Dari markas mereka di Valdebebas, muncul keluhan yang ditujukan kepada France Football dengan kalimat tegas: "Ballon d'Or tidak lagi berarti bagi kami."
Menanggapi sikap tersebut, Vincent Garcia, kepala redaksi dari publikasi Prancis tersebut, memberikan klarifikasi di saluran televisi L'Équipe mengenai alasan mengapa Vinicius kalah dalam pemungutan suara dari Rodrigo Hernández.
Garcia menjelaskan bahwa kehadiran pemain lain dari Real Madrid seperti Bellingham dan Carvajal di posisi lima besar turut mempengaruhi hasil perolehan poin Vinicius.
"Secara matematis, ini membuat Vinicius kehilangan beberapa poin. Hal ini juga menggambarkan musim Real Madrid,
di mana beberapa pemain mereka masuk dalam nominasi, sehingga suara para juri terbagi, yang akhirnya menguntungkan Rodri," jelas Garcia.
Garcia juga mengungkapkan bahwa pihaknya merasakan tekanan besar dari Real Madrid terkait hasil tersebut, namun ia menegaskan bahwa semua klub, termasuk Real Madrid,
diperlakukan dengan adil. “Saya cukup terkejut dengan ketidakhadiran mereka. Kami telah jelas dan adil dengan mereka, sama seperti klub lainnya.
Tahun ini, pemenang tidak diberitahukan sebelumnya, dan saya pikir semua pihak telah menerima keputusan tersebut. Tetapi, di menit terakhir, entah mengapa mereka ingin mengubah aturan.”
Media Prancis L'Équipe, pemilik dari France Football dan penyelenggara Ballon d'Or, mengkritik keras keputusan Real Madrid yang menolak hadir di gala penghargaan ini.
Dalam editorial yang ditulis Vincent Duluc dengan tajuk "Kekalahan Pemilihan dan Kekalahan Moral",
ia menyatakan bahwa keputusan Real Madrid untuk tidak hadir adalah bentuk ketidakmampuan mereka menerima hasil yang tidak diinginkan,
dan bahkan menjadikan sosok lain seperti Carlo Ancelotti dan Kylian Mbappé sebagai korban dari aksi tersebut.
Editorial tersebut melanjutkan kritiknya, mengatakan bahwa, “Klub Madrid memilih, tanpa kelas, untuk mengabaikan nilai olahraga yang menjunjung tinggi penghargaan kepada para pemenangnya.”