PAMEKASAN – Keterbatasan fisik tak membuat para atlet difabel Pamekasan berhenti berjuang. Meski tanpa dukungan dana dari pemerintah daerah, mereka tetap berangkat mengikuti ajang talent scouting di Surabaya, Sabtu–Minggu (11–12/10).
Ada sepuluh atlet pelajar dan lima ofisial yang mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Pamekasan Nasrullah mengatakan, seluruh biaya ditanggung secara mandiri. Termasuk transportasi, penginapan, hingga perlengkapan selama kegiatan.
”Kami harus merogoh kantong sendiri. Memang berat, tapi demi anak-anak, kami tetap berangkat,” ujarnya.
Nasrullah mengaku, pihaknya sudah mengirim surat permohonan dukungan kepada Pemkab Pamekasan. Namun, sampai hari pelaksanaan, tak ada respons.
”Kami tidak menyalahkan siapa pun, hanya berharap perhatian yang sama seperti organisasi olahraga lainnya,” harapnya.
Kondisi ini menambah beban bagi NPCI Pamekasan. Apalagi, tahun ini mereka tidak mendapatkan dana hibah dari pemerintah daerah. Akibatnya, sejumlah program pembinaan atlet difabel berjalan seadanya.
”Tapi semangat untuk berprestasi tidak padam. Kami ingin menunjukkan bahwa atlet disabilitas juga bisa berjuang meski tanpa fasilitas. Apalagi, talent scouting menjadi ajang penting bagi atlet,” ungkapnya.
Menurut Nasrullah, keikutsertaan atlet NPCI Pamekasan dalam kegiatan itu akan berdampak pada masa depan para atlet.
Selain menjadi ajang seleksi menuju level provinsi dan nasional, kegiatan itu juga menjadi bukti bahwa pembinaan atlet disabilitas di Pamekasan terus berjalan.
”Bagi kami, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Anak-anak perlu ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Kami tidak ingin potensi itu terbuang hanya karena keterbatasan biaya. Semoga, masih ada harapan bagi kami untuk diperhatikan,” tandasnya. (afg/bil)
Editor : Ina Herdiyana