PAMEKASAN – Persepam Pamekasan tak ingin sekadar numpang lewat di Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025–2026.
Dengan status tuan rumah di fase grup, Laskar Ronggosukowati langsung memasang target tegas menembus fase berikutnya.
Manajer Persepam Abdul Razak menegaskan, berbagai keraguan publik terhadap kesiapan tim justru dijadikan pelecut semangat.
Baik soal komposisi pemain maupun persiapan, semuanya akan dijawab langsung di atas lapangan.
”Kami tahu ada sebagian orang yang meragukan (Persepam, Red). Tapi target kami jelas, Persepam harus bisa melewati fase grup,” tegas pria yang juga aktivis Gerakan Aspirasi Masyarakat (Gapura) itu.
Target itu tidak ringan. Persepam dijadwalkan menjalani tiga laga beruntun di kandang, masing-masing melawan Unesa FC pada Kamis (11/12), Banteng Jatim FC pada Sabtu (13/12), dan Perssu Madura City pada Senin (15/12) di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP) Pamekasan.
Menurut Razaq, status tuan rumah harus benar-benar dimaksimalkan. Tentu, dukungan suporter menjadi faktor krusial untuk mendongkrak mental pemain di tengah padatnya jadwal pertandingan.
”Atmosfer kandang harus menjadi pembeda. Kami berharap suporter menjadi energi tambahan bagi pemain,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman juga mendorong Persepam agar berani memasang target tinggi.
Dia menegaskan bahwa Persepam tetap menjadi kebanggaan daerah yang harus dijaga marwahnya di kompetisi resmi.
”Persepam adalah kebanggaan masyarakat Pamekasan. Harapannya, bisa kembali naik ke level kompetisi yang lebih tinggi,” kata bupati yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Matsaratul Huda Panempan Pamekasan itu.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi, Kiai Kholil menilai hal tersebut tidak boleh menjadi penghambat prestasi. Justru, keterbatasan menuntut manajemen bekerja lebih kreatif dan efisien.
Tiga laga awal di kandang kini menjadi penentu arah perjalanan Persepam musim ini. Jika mampu memaksimalkan momentum, jalan menuju fase berikutnya terbuka lebar.
Namun, jika terpeleset, target besar bisa berubah menjadi tekanan sejak dini. (afg/han)
Editor : Ina Herdiyana