Radarbangkalan.id - Jonathan David sempat menjadi sorotan negatif di Italia. Striker asal Kanada itu dikritik habis-habisan setelah gagal mengeksekusi penalti ketika Juventus ditahan imbang Lecce pada awal Januari lalu.
Pendukung dan media Italia meragukan kapasitasnya sebagai ujung tombak utama Bianconeri.
Namun David menjawab tekanan tersebut dengan cara yang meyakinkan.
Dalam empat laga terakhir Serie A, penyerang berusia 26 tahun itu mencatatkan tiga gol dan satu assist.
Statistik tersebut menjadi bukti bahwa ia mulai menyesuaikan diri dengan karakter sepak bola Italia dan skema permainan Juventus.
Kebangkitan David juga tak lepas dari dukungan penuh rekan setim dan kepercayaan pelatih Luciano Spalletti.
Sang pelatih menegaskan bahwa ketajaman David di depan gawang memang penting, tetapi Juventus membutuhkan lebih dari sekadar pencetak gol.
Dalam konferensi pers, Spalletti menyebut timnya butuh penyerang dengan atribut berbeda: mampu menahan bola, berduel fisik dengan bek lawan, dan menjadi titik tumpu permainan.
“David memang tajam, tetapi kami juga membutuhkan striker yang bisa bertarung secara fisik dan menjaga alur permainan tetap hidup,” ujar Spalletti.
Meski begitu, tambahan opsi striker bukan berarti menggeser posisi David.
Justru kehadiran penyerang bertipe target man bisa membuat David tampil lebih optimal, seperti perannya bersama tim nasional Kanada yang kerap bermain dengan duet di lini serang.
Baca Juga: Atletico Madrid Incar Igor Hesus, PSG Resmi Gaet Dro Fernandez
Tren performa David yang terus menanjak menjadi sinyal positif bahwa ia semakin nyaman dengan ritme Juventus.
Dari kritik tajam hingga kebangkitan, perjalanan David kini menjadi salah satu cerita menarik di musim ini.
Editor : Yusron Hidayatullah