News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Snowboarding Olimpiade Musim Dingin 2026 Memanas, China Siap Balas Jepang di Slopestyle

Ubaidillah • Senin, 9 Februari 2026 | 06:30 WIB

RadarBangkalan.id - Panggung snowboarding Olimpiade Musim Dingin Milano–Cortina 2026 belum sepenuhnya membeku.

Sebaliknya, tensi justru dipastikan meningkat tajam ketika nomor slopestyle resmi dimulai pada 16 Februari 2026.

Baca Juga: Olimpiade Musim Dingin 2026 Milano–Cortina: Daftar Cabang Olahraga dan Aksi Snowboarding Paling Spektakuler

Setelah Jepang mengguncang dunia lewat dominasi di Big Air, China datang dengan satu misi yang kini tak lagi disembunyikan, yakni membalas kekalahan.

Nama Kira Kimura, Ryoma Kimata, dan Su Yiming kembali berada dalam satu alur rivalitas. Jika Big Air telah menjadi milik Jepang, slopestyle menghadirkan tantangan yang jauh berbeda.

Baca Juga: Italia Raih Emas Perdana Snowboard di Olimpiade Musim Dingin 2026 Milano Cortina

Lintasan lebih panjang, elemen lebih kompleks, dan tuntutan konsistensi tinggi membuat nomor ini menjadi ujian sesungguhnya bagi para atlet elite dunia.

China Datang dengan Luka, Jepang Memikul Beban

Bagi China, kegagalan Su Yiming merebut emas Big Air bukan sekadar kehilangan medali. Kekalahan tersebut menjadi simbol runtuhnya dominasi snowboarding yang selama beberapa tahun terakhir dibangun dengan solid.

Baca Juga: Real Madrid Kalahkan Valencia 2-0, Terus Tempel Barcelona di Puncak Klasemen

Slopestyle kini diposisikan sebagai panggung pembalasan sekaligus upaya merebut kembali supremasi snowboarding Asia.

Su Yiming dipastikan tampil agresif. Atlet dengan gaya eksplosif dan trik berisiko tinggi itu tak lagi datang sebagai juara bertahan, melainkan pemburu.

Kesalahan di Big Air menjadi pelajaran mahal, sementara slopestyle memberi ruang lebih luas bagi kreativitas dan variasi teknis yang selama ini menjadi kekuatan utama China.

Baca Juga: Timnas U17 Indonesia Dibantai China 0-7 di Laga Uji Coba Internasional

Di sisi lain, Jepang juga tak lepas dari tekanan. Kira Kimura, peraih emas Big Air, kini memikul beban pembuktian bahwa kesuksesannya bukan sekadar satu momen.

Slopestyle akan menguji stamina, fokus, serta stabilitas mentalnya dalam lintasan panjang yang nyaris tak memberi toleransi terhadap kesalahan beruntun.

Baca Juga: Terlibat Perkara Asusila, Dua Anggota Polri Jalani Sidang Etik di Polda Jambi

Ryoma Kimata berpotensi menjadi faktor pembeda. Minim sorotan dibanding Kimura dan Su Yiming, ia justru bisa tampil lebih lepas. Dalam kondisi rival utamanya saling menekan, Kimata berpeluang memanfaatkan celah yang muncul di lintasan.

Slopestyle, Arena Perang Sesungguhnya Snowboarding

Berbeda dengan Big Air yang hanya mengandalkan dua lompatan terbaik, slopestyle merupakan ujian total bagi seorang snowboarder.

Baca Juga: Ratu Rizky Nabila Ungkap Awal Jatuh Cinta ke Pesulap Merah, Ngaku Mendekat Duluan

Rangkaian rail, box, jump beruntun, serta transisi teknis menuntut presisi sejak awal hingga akhir lintasan. Satu kesalahan kecil dapat merusak keseluruhan nilai.

Inilah alasan China menilai slopestyle sebagai panggung ideal untuk membalas Jepang. Pengalaman, kedalaman teknik, dan agresivitas menjadi senjata utama dalam persaingan yang kian sengit.

Satu hal kini tak terbantahkan, snowboarding Olimpiade Musim Dingin 2026 bukan lagi milik satu negara. Jepang telah mengguncang hierarki lama, China siap menyerang balik, dan dunia dipaksa menyaksikan lahirnya rivalitas baru di salju Alpen Italia.

Baca Juga: Microsleep Diduga Jadi Penyebab Kecelakaan Artis Diva Mara di Tol Jagorawi

Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang paling berbakat, melainkan siapa yang mampu bertahan di bawah tekanan terbesar.

Editor : Ubaidillah
#Su Yiming #Kira Kimura #china vs jepang #olimpiade musim dingin #winter Olimpic 2026 #Olimpiade Musim Dingin 2026