News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Jordan Stolz Pecahkan Rekor Olimpiade 1.000 Meter, Raih Emas Dramatis di Milan

Ubaidillah • Jumat, 13 Februari 2026 | 06:27 WIB
Meski dijagokan sebagai favorit kuat, Jordan Stolz harus mengerahkan upaya luar biasa untuk meraih medali emas. (Vittorio Zunino Celotto / Getty Images)
Meski dijagokan sebagai favorit kuat, Jordan Stolz harus mengerahkan upaya luar biasa untuk meraih medali emas. (Vittorio Zunino Celotto / Getty Images)

RadarBangkalan.id - Enam belas tahun lalu, Jordan Stolz kecil terpaku di depan televisi saat menyaksikan Apolo Ohno dan Shani Davis berlaga di Olimpiade Vancouver 2010.

Saat itu, bocah berusia lima tahun asal Wisconsin tersebut langsung meminta ayahnya, Dirk Stolz, untuk mencoba olahraga speed skating dengan memanfaatkan danau kecil yang membeku di halaman belakang rumah mereka.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-17 Kalah Dramatis 2-3 dari China, Tunjukkan Progres Signifikan

Meski sempat mendapat penolakan dari sang ibu, Jane Stolz, Dirk akhirnya mengizinkan dengan satu syarat penting, yakni Jordan dan kakaknya, Hannah, harus mengenakan jaket pelampung demi keselamatan jika es retak.

Jane bahkan merekam momen dua anaknya yang terpeleset dan meluncur di atas es, sambil bercanda bahwa suatu hari rekaman itu akan berguna ketika salah satu dari mereka menjuarai Olimpiade.

Baca Juga: Chloe Kim Bidik Hat-trick Emas Snowboard Halfpipe di Olimpiade Musim Dingin 2026

Mimpi Masa Kecil yang Jadi Kenyataan

Rabu lalu, momen itu benar-benar terwujud. Jordan Stolz, kini berusia 21 tahun, mencatatkan rekor Olimpiade pada nomor 1.000 meter putra dengan waktu 1:06.28.

Ia melakukan finis menakjubkan dari posisi tertinggal dan berdiri di podium dengan tangan kanan di dada, lengan yang sama yang memompa keras saat menuntaskan lap terakhir luar biasa, kini memegang medali emas.

Baca Juga: Manchester City Hajar Fulham 3-0, Jarak dengan Arsenal Tinggal Tiga Poin

Atlet yang dulu meminta ayahnya membersihkan lingkaran es di danau agar bisa berlatih crossover hingga malam hari, serta mempelajari video rekor dunia Pavel Kulizhnikov sejak usia 12 tahun, kini menjadi figur yang akan ditiru generasi berikutnya.

“I finally got it,” Jordan said to Dirk when he earned the gold.

Perjalanan Stolz menuju puncak tidak instan. Pada Olimpiade Beijing, ia finis di posisi ke-14 nomor 1.000 meter saat masih berusia 17 tahun.

Baca Juga: Cara Cek Status BPJS Kesehatan Aktif atau Tidak dengan Mudah

Setahun kemudian, Stolz menjelma menjadi juara dunia tiga nomor sekaligus, 500 meter, 1.000 meter, dan 1.500 meter. Ia memasuki lomba hari Rabu sebagai favorit utama dan pemegang rekor dunia 1.000 meter.

Baca Juga: iPhone 17e Resmi Meluncur 19 Februari 2026, Performa Flagship dengan Harga Lebih Terjangkau

Lap Terakhir untuk Sejarah

Meski berstatus unggulan, Stolz tetap harus mengerahkan kemampuan luar biasa untuk meraih emas. Ia melibas 400 meter terakhir dalam waktu 25,66 detik, menjadi lap penutup terbaik dalam karier mudanya. Tak ada satu pun pesaing yang mampu mencatatkan waktu di bawah 26 detik pada lap terakhir.

“That ability to continue to perform at a really, really high level, even though he’s tired,” Stolz’s coach Bob Corby said, “that’s his superpower.”

Baca Juga: Video Winda Can Viral di Media Sosial, Warganet Berburu Link Asli

Stolz juga mengungkap sisi lain dari olahraga speed skating yang jarang diketahui publik. Meski terlihat meluncur mulus, rasa sakit menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap balapan.

Dalam skenario ideal, Stolz berharap sejajar dengan wakil Belanda, Jenning de Boo, di titik 600 meter.

Namun ia justru tertinggal dan harus mengandalkan kekuatan finisnya. Strategi tersebut terbukti ampuh, sementara De Boo yang finis dengan 1:06.78 harus puas meraih perak meski memecahkan rekor Olimpiade sebelumnya. Medali perunggu diraih Zhongyan Ning dari China dengan catatan 1:07.34.

Baca Juga: Ratu Rizky Nabila Ungkap Awal Jatuh Cinta ke Pesulap Merah, Ngaku Mendekat Duluan

Obsesi Detail yang Membawa Emas

Bagi Stolz, menjadi yang terbaik berarti bersedia terobsesi pada detail-detail kecil. Ia dikenal memperhatikan kondisi es hingga berdiskusi dengan petugas arena sebelum lomba.

Pisau sepatu yang digunakannya telah disimpan selama satu setengah tahun sejak mencetak rekor dunia. Menu sebelum lomba pun sederhana, nasi putih, disertai sesi bersepeda dalam keheningan agar fokus tetap terjaga.

Baca Juga: Real Madrid Kalahkan Valencia 2-0, Terus Tempel Barcelona di Puncak Klasemen

“It’s not clearing your mind,” Stolz said of what was going through his head during the final whiparound. “I thought I just have to try harder.”

Kemenangan ini membuat Stolz menjadi pria Amerika pertama yang menjuarai nomor 1.000 meter Olimpiade sejak Shani Davis pada 2010, sosok yang kini menjadi mentor dan sahabat dekatnya. Sorakan penonton Belanda menggema saat Stolz finis, dan ia membalasnya dengan salam terima kasih sambil tersenyum lebar.

Baca Juga: Janice Tjen Berpeluang Kejutkan Beatriz Haddad Maia di Babak Pertama Qatar Open 2026

Menuju Era Dominasi Baru

Stolz kini dipandang sebagai calon penguasa baru speed skating dunia. Dengan usia muda dan dominasi yang ditunjukkan, ia mulai dibandingkan dengan legenda renang Michael Phelps. Jika mampu menyapu bersih emas di nomor 500 meter, 1.500 meter, dan mass start, Stolz berpeluang menjadi atlet speed skating Amerika tersukses sejak Eric Heiden meraih lima emas pada 1980.

Baca Juga: Timnas U17 Indonesia Dibantai China 0-7 di Laga Uji Coba Internasional

“He sat down after the race (and) he was kind of like, ‘Wow, this is a pretty big deal,’” Corby said. “I’m like, ‘Yeah, it is. Not to mention the millions on the other side of the camera.’”

Rekan senegara Stolz, Conor McDermott-Mostowy dan Cooper McLeod, masing-masing finis di posisi kesembilan dan ke-19 dalam debut Olimpiade mereka. Sementara itu, atlet Belanda Joep Wennemars sempat mendapat kesempatan ulang karena insiden lintasan, namun catatan awalnya tetap digunakan.

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Februari 2026 Cair, Ini Jadwal dan Besaran Dana yang Diterima

Bagi Jordan Stolz, emas Olimpiade ini bukan sekadar kemenangan, melainkan awal dari era panjang yang berpotensi mengubah sejarah speed skating dunia.

Editor : Ubaidillah
#Jordan Stolz #speed skating Olimpiade #Olimpiade Musim Dingin 2026 #atlet amerika serikat #emas Olimpiade 1000 meter