News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Sehari Tanpa Gadget: Tantangan Digital Detox di Era Serba Online

Ina Herdiyana • Kamis, 19 Juni 2025 | 22:16 WIB

Ilustrasi (Jawa Pos)
Ilustrasi (Jawa Pos)

RadarBangkalan.id – Hidup tanpa gadget selama sehari. Terdengar mudah, tapi nyatanya jadi tantangan besar di tengah arus digital yang tak pernah berhenti.

Di era serba online seperti sekarang, melepas genggaman dari ponsel, tablet, atau laptop selama 24 jam terasa seperti memutus saluran hidup utama.

Fenomena ini dikenal sebagai digital detox, yakni usaha sadar untuk beristirahat dari penggunaan perangkat digital demi menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kualitas hidup.

Baca Juga: Multitasking Digital, Satu Gadget Menyita Seluruh Fokus

Namun, apakah mungkin menjalani sehari tanpa membuka notifikasi, scrolling media sosial, atau membalas pesan instan?


Bagi banyak orang, gadget bukan sekadar alat komunikasi. Ia telah menjelma menjadi “remote control” kehidupan: alat kerja, sumber hiburan, dompet digital, bahkan penunjuk arah.

”Kalau dulu kita bangun tidur langsung menyikat gigi, sekarang buka HP dulu,” kelakar Rina Nurhasanah, mahasiswa salah satu kampus swasta di Surabaya. Ia mengaku mencoba digital detox saat akhir pekan, tapi hanya bertahan beberapa jam.

Rina tidak sendiri. Dalam survei yang dilakukan Lembaga Riset Teknologi Digital Indonesia pada awal 2025, lebih dari 78 persen responden mengaku merasa cemas atau “FOMO” (fear of missing out) jika tidak mengakses gadget lebih dari dua jam.


Manfaat Digital Detox 

Meski sulit, jeda dari layar perangkat elektronik membawa banyak manfaat. Di antaranya:

Psikolog dari RSUD Dr. Soetomo dr. Huda Alifah, M.Psi. menyarankan agar masyarakat mulai membatasi penggunaan gadget secara bertahap. ”Kita tidak perlu ekstrem. Mulai dari mematikan notifikasi, mengatur waktu layar, dan membuat waktu khusus tanpa gadget setiap hari,” jelasnya.


Tantangan Terbesar: Ketergantungan Sistem

Kendati kesadaran terhadap dampak negatif gadget makin meningkat, banyak orang tetap kesulitan lepas karena kebutuhan digitalisasi yang semakin tinggi. Sekolah online, pekerjaan jarak jauh, hingga sistem administrasi publik kini mengandalkan koneksi internet dan perangkat pintar.

”Ada agenda kantor yang harus dipantau, grup orang tua sekolah, bahkan absensi sekarang via aplikasi. Jadi sulit betul bisa 100 persen lepas,” ujar Budi Santosa, pegawai swasta yang sempat mencoba digital detox saat akhir tahun lalu.


Solusi: Seimbang, Bukan Menolak Teknologi

Ahli teknologi dan perilaku digital Dr. Dimas Rizqi, menyebut bahwa kunci dari detox digital bukan soal menjauh total, melainkan menemukan pola seimbang antara dunia digital dan nyata.

“Sama seperti diet makanan. Kita tidak menghindari makanan sepenuhnya, tapi menyesuaikan porsi dan kualitasnya,” terang dia.

Dia menyarankan masyarakat mulai dengan "screen-free zone" di rumah seperti kamar tidur dan ruang makan.

Selain itu, melakukan aktivitas fisik seperti jalan pagi, membaca buku cetak, atau berkebun bisa menjadi alternatif saat detox digital.

Editor : Ina Herdiyana
#gadget #online #digital detox