Radarbangkalan.id – Apple baru-baru ini menciptakan kehebohan di dunia teknologi dengan merilis resmi produk headset VR mereka yang diberi nama Vision Pro yang mulai diperkenalkan tahun lalu, perangkat ini baru-baru ini tersedia di pasaran, memungkinkan pembeli awal untuk langsung merasakan pengalaman Vision Pro.
Namun, antusiasme terhadap Apple Vision Pro ternyata hanya berumur singkat.
Teknologi yang dijanjikan sebagai revolusioner dan membawa pengalaman baru bagi ekosistem digital saat ini, mulai dari pembuatan hingga menikmati konten, serta cara berinteraksi dengan dunia maya, mendapat banyak komplain dari pengguna.
Menurut laporan dari TheVerge, banyak konsumen Apple Vision Pro mengeluhkan perangkat tersebut dan bahkan mengembalikannya ke Apple.
Kebijakan pengembalian Apple yang memperbolehkan konsumen untuk mengembalikan produk apa pun dalam waktu 14 hari setelah pembelian menjadi solusi bagi banyak pengguna yang kecewa.
Baca Juga: KPU RI dalam Krisis Kredibilitas: Kesalahan Konversi Data Pemilu 2024 Guncang Kepercayaan Publik
Salah satu alasan utama pengembalian adalah ketidaknyamanan penggunaan headset VR ini.
Banyak yang mengeluhkan bahwa penggunaan Vision Pro menyebabkan sakit kepala dan efek visualnya memicu rasa mual.
Bahkan, ada laporan dari Parker Ortolani, manajer produk The Verge, yang menyatakan bahwa penggunaan perangkat ini telah menyebabkan pecahnya pembuluh darah di matanya.
Pengguna lain juga mencatat bahwa mereka mengalami reaksi yang serupa dengan mata mereka menjadi merah.
Baca Juga: Presiden Rusia Vladimir Putin KIrim Ucapan Selamat Kepada Prabowo Subianto Atas Kemenangannya
Ortolani juga menambahkan bahwa meskipun Vision Pro menawarkan pengalaman yang menakjubkan, penggunaan yang terlalu lama menjadi tidak nyaman karena berat dan desain talinya.
Hal ini menyebabkan banyak pengguna enggan untuk terus menggunakan perangkat tersebut.
Tidak hanya masalah fisik, tetapi juga produktivitas dari Vision Pro menjadi sorotan keluhan.
Beberapa pengguna mengeluh bahwa perangkat ini tidak menawarkan produktivitas yang sebanding dengan harganya.
Misalnya, seorang pengguna mencatat bahwa melihat layar Figma membuatnya merasa pusing, tetapi perangkat ini juga tidak dapat digunakan untuk pekerjaan mereka.
Meskipun banyak keluhan yang tersebar di media sosial, sulit untuk menentukan dampak sebenarnya dari kelompok pengguna awal yang mengungkapkan ketidakpuasan mereka terhadap Vision Pro ini.
Sebagian besar dari mereka yang mengembalikan perangkat ini juga menyatakan minat untuk mencoba Vision Pro generasi berikutnya.
Sebagian lagi menekankan bahwa masalahnya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada kurangnya aplikasi yang sesuai atau kurangnya kenyamanan yang masih perlu ditingkatkan.
Kendati demikian, belum jelas sejauh mana fenomena ini terjadi secara luas.
Meskipun keluhan-keluhan ini terdengar di media sosial, tingkat pengembalian sebenarnya dan harapan internal Apple terhadap Vision Pro masih belum terungkap secara jelas.
Mungkin saja Apple perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap masalah ini untuk memastikan pengalaman pengguna yang lebih baik di masa depan. ***