RadarBangkalan.id - Tindakan peretasan yang diduga berasal dari China semakin meresahkan dengan tersebarnya ratusan dokumen di internet, yang mengungkapkan jangkauan aktivitas mereka di berbagai negara.
Lebih dari 570 file dan dokumen telah diposting ke platform GitHub, mengungkapkan jejak peretasan oleh entitas yang dikenal sebagai iSoon.
Menurut laporan dari Washington Post, iSoon disebut sebagai kontraktor keamanan yang memiliki keterkaitan dengan Kementerian Keamanan Publik China.
John Hultquist, seorang ahli keamanan siber, mengatakan, "Kami memiliki banyak alasan untuk mempercayai bahwa ini adalah data otentik yang berasal dari kontraktor spionase siber domestik dan global dari China."
Sementara itu, Associated Press melaporkan bahwa kepolisian China telah memulai penyelidikan terhadap kebocoran data ini, berdasarkan informasi dari dua karyawan iSoon yang memilih untuk tidak diidentifikasi.
Kedua karyawan tersebut mengonfirmasi bahwa dokumen yang bocor memang berasal dari iSoon.
Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan berbagai target dari serangan peretasan, mulai dari lembaga pemerintahan hingga perusahaan di berbagai sektor.
Di antara target tersebut adalah perusahaan telekomunikasi dari setidaknya 20 negara, termasuk Inggris, India, Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia.
Terlebih lagi, terungkap bahwa para peretas mengklaim dapat mengeksploitasi celah keamanan dalam perangkat lunak yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka seperti Microsoft dan Google.
Meskipun juru bicara Microsoft menolak untuk memberikan komentar, juru bicara Google menyatakan bahwa dokumen tersebut tidak secara spesifik menyebutkan adanya celah keamanan dalam perangkat lunak buatan Google.
Menurut mereka, dokumen-dokumen tersebut hanya menjelaskan teknik malware standar yang sudah umum diketahui oleh tim keamanan Google, seperti dilansir dari Business Insider.
Meskipun laporan Washington Post tidak secara khusus menyebutkan target di Amerika Serikat, dokumen-dokumen tersebut sejalan dengan berbagai peringatan yang dikeluarkan oleh lembaga keamanan AS mengenai ancaman dari peretasan yang berasal dari China.
Sebagai contoh, Christopher Wray, Direktur FBI, pernah menyebut bahwa China memiliki program peretasan terbesar di dunia.
Dia juga menambahkan bahwa China telah berhasil mencuri berbagai data pribadi dan perusahaan dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada gabungan negara-negara lain.
Bahkan, Wray tidak ragu untuk mengakui bahwa FBI kesulitan dalam menghadapi ancaman yang datang dari peretasan China tersebut.
"Jika setiap agen siber dan analis intelijen FBI harus fokus untuk menghadapi ancaman dari China secara eksklusif, jumlah peretas dari China masih akan jauh lebih banyak dengan rasio 50 banding 1," ujarnya.
Dengan terus meningkatnya ancaman peretasan yang berasal dari China, penting bagi komunitas global untuk terus meningkatkan upaya dalam memperkuat pertahanan siber dan membangun kerjasama lintas negara untuk melawan ancaman ini.
Editor : Azril Arham