RadarBangkalan.id - Tidak sedikit orang bertanya, mengapa Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan roket luar angkasa?
Pertanyaan ini mendapat jawaban yang tajam dari seorang pakar di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Rika Andiarti, seorang Perekayasa Ahli Utama di Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, perkembangan teknologi saat ini tengah melaju dengan cepat, khususnya dalam teknologi roket.
Ia menekankan bahwa aspek-aspek yang tengah berkembang pesat termasuk pendekatan dan metode peluncuran, serta layanan terkait.
Tidak hanya itu, tren penggunaan satelit kecil juga telah memunculkan banyak perusahaan rintisan atau startup di sektor layanan peluncuran satelit kecil.
Layanan semacam ini kini tidak lagi terbatas pada satu negara saja.
"Roket-roket yang sebelumnya hanya digunakan untuk meluncurkan satelit besar, kini mulai beralih untuk melayani satelit kecil. Saat ini, roket-rocket kecil dapat membawa banyak satelit kecil sekaligus. Faktor regulasi yang semakin mempermudah juga menjadi dorongan bagi para startup untuk bergerak dalam industri ini," ungkap Rika seperti yang dikutip dari situs web resmi BRIN, pada Senin (6/5/2024).
Rika juga menjelaskan bahwa dalam konteks pengembangan teknologi roket di Indonesia, saat ini negara berada pada fase penguatan.
Fase ini mencakup penelitian yang ditujukan untuk meningkatkan dimensi dan jarak jangkau roket, meningkatkan nilai Isp (Impuls Spesifik) Propelan, mengembangkan material yang ringan namun tahan suhu tinggi, merancang wahana, serta penelitian RX450.
"Kami telah melewati fase-fase awal seperti riset dasar teknologi propelan, riset dasar roket dengan uji skala laboratorium, RX150 dan RX250," jelasnya.
Menurut Rika, jika fase penguatan telah berhasil dilalui, langkah berikutnya adalah fase Sonda.
Pada tahap ini, tujuan roket adalah menembus Garis Karman (batas antara atmosfer bumi dengan ruang angkasa), menguasai sistem separasi, memperluas jangkauan sistem telemetri, mengendalikan koreksi lintasan, serta penelitian RX452.
"Penelitian dalam teknologi roket tidaklah mudah karena sifatnya yang sensitif dan berbahaya. Kerjasama dengan negara lain juga merupakan tantangan tersendiri karena roket ini memiliki fungsi ganda, yaitu sipil dan militer," ujar Rika.
Meskipun demikian, Rika menegaskan bahwa para peneliti terus berupaya untuk mandiri dalam menguasai teknologi tersebut.
Saat ini, ada tujuh kelompok penelitian yang fokus pada berbagai aspek seperti dinamika roket dan kontrol, isolator termal, propelan dan piroteknik, propulsi maju, propulsi roket padat, sistem telemetri, serta struktur roket dan material.
"Selain itu, para peneliti juga terus meningkatkan kompetensinya dengan menempuh pendidikan hingga tingkat S3," tambahnya. ***
Editor : Azril Arham