News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Satelit Starlink Bakal Layani Internet di Indonesia, Lalu Satria-01 Untuk Apa?

Azril Arham • Sabtu, 25 Mei 2024 | 05:47 WIB
Ilustrasi Internet Starlink di Daerah Pedalaman
Ilustrasi Internet Starlink di Daerah Pedalaman

RadarBangkalan.id - Starlink telah resmi beroperasi di Indonesia dan CEO SpaceX, Elon Musk, menargetkan layanan internet untuk puskesmas dan pendidikan di Indonesia.

Namun, apa dampaknya terhadap satelit Republik Indonesia, Satria-1, yang juga sudah beroperasi?

Sebagai informasi, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meluncurkan Satria-1 pada 18 Juni 2023.

Satelit ini diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Keberadaan Satelit Satria-1 bertujuan untuk mendukung kebutuhan internet di 37 ribu titik akses bagi fasilitas layanan publik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), seperti puskesmas dan sekolah. Proyek pemerintah ini menelan biaya sebesar Rp 8 triliun.

Pada peresmian Starlink di Puskesmas Pembantu Sumerta Kelod, Denpasar Timur, Bali, Minggu (19/5), Elon Musk mengungkapkan harapannya agar Starlink dapat membantu menyediakan akses internet di puskesmas dan pendidikan.

Namun, bagaimana koordinasinya dengan Satria-1?

Ian Yosef Matheus Edward, Ketua Pusat Studi Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB, menyatakan bahwa pemerintah harus berkoordinasi antar lembaga mengenai penyediaan akses internet bagi puskesmas dan pendidikan seiring kedatangan Starlink.

"Lokasi yang akan dilayani Satria-1 tetap akan dilayani Satria-1, agar sesuai perencanaan atau boleh saja dengan alternatif sementara dengan Starlink," ujar Ian dilansir dari detikINET.

Lebih lanjut, Ian menjelaskan bahwa jika suatu lokasi sudah dilayani oleh satelit pemerintah, maka dapat dialihkan ke tempat lain jika sudah dilayani oleh Satria-1.

"Jika sudah dilayani Satria-1, tentu harus dialihkan. Kecuali memang belum masuk dalam perencanaan Satria-1. Maka, bandwidth Satria-1 bisa dialokasikan ke tempat lain," tambahnya.

Ian juga menekankan kewajiban Starlink untuk membangun Network Operation Center (NOC) di Indonesia untuk menjaga kedaulatan data negara.

"Setiap operator yang menyediakan layanan di Indonesia harus mendapatkan perlakuan yang sama, yaitu NOC ada di Indonesia, sehingga konten yang lewat bisa diawasi dan juga masalah kedaulatan data, serta dapat memberikan lapangan pekerjaan untuk orang Indonesia," pungkas Ian.

Keberadaan Satria-1 dan Starlink di Indonesia menandakan upaya serius pemerintah dan sektor swasta dalam memperluas akses internet di seluruh negeri.

Dengan koordinasi yang baik, keduanya dapat saling melengkapi dalam menyediakan layanan internet berkualitas bagi puskesmas dan pendidikan di daerah 3T.

Hal ini tidak hanya meningkatkan akses informasi dan komunikasi, tetapi juga berpotensi mendorong perkembangan ekonomi dan sosial di wilayah-wilayah tersebut. ***

 

Editor : Azril Arham
#layanan Starlink #harga internet starlink #koneksi internet Starlink #Paket Starlink #Kecepatan Starlink #starlink indonesia #Starlink #Jaringan internet Starlink #keunggulan dan kelemahan Starlink