News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Perbandingan Kualitas Internet Fiber Optik vs Starlink, Mana yang Lebih Unggul ?

Azril Arham • Senin, 27 Mei 2024 | 22:14 WIB
Ilustrasi Internet Starlink
Ilustrasi Internet Starlink

RadarBangkalan.id - Dalam ranah koneksi internet, pertarungan antara teknologi fiber optik dan layanan satelit seperti Starlink terus memanas.

PT Remala Abadi (Data), salah satu penyelenggara jasa internet (ISP), mengungkapkan berbagai faktor yang memengaruhi kualitas dan kecepatan internet Starlink dibandingkan dengan fiber optik.

Menurut Direktur Utama PT Remala Abadi, Richard Kartawaijaya, berbagai faktor seperti ketidakstabilan sinyal karena terhalang oleh pohon atau gedung, serta ketergantungan pada kondisi cuaca, dapat mempengaruhi kualitas layanan Starlink.

Terutama di Indonesia, yang berada di daerah tropis dengan cuaca yang cenderung sering berubah dan curah hujan tinggi, hal ini dapat mengganggu kinerja layanan Starlink secara signifikan.

"Satelit memiliki karakteristik yang berbeda dengan fiber optik. ISP yang menyediakan layanan fiber optik tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca. Dengan kapasitas broadband mencapai 1Gbps, pengguna yang menginginkan koneksi yang cepat dan stabil akan cenderung memilih fiber optik," ungkap Richard.

Keunggulan fiber optik dalam hal koneksi yang stabil dan cepat juga disoroti oleh Richard.

"Dibandingkan dengan Starlink, koneksi melalui fiber optik masih lebih unggul dalam hal keterlambatan (delay), kecepatan, dan kapasitas yang disediakan. Layanan internet melalui Starlink mungkin hanya dianggap sebagai cadangan atau pelengkap bagi layanan broadband yang sudah ada," tambahnya.

Dari segi biaya, layanan fiber optik juga terbukti lebih terjangkau daripada Starlink.

Biaya langganan Starlink untuk rumah tangga mencapai Rp 750 ribu per bulan, sedangkan untuk layanan mobile, harga berkisar antara Rp 990 ribu hingga Rp 7 juta per bulan.

Biaya ini belum termasuk biaya perangkat penerima, yang berkisar antara Rp 7,8 juta hingga Rp 43 juta.

Sementara itu, biaya langganan fiber optik jauh lebih terjangkau.

Misalnya, NetHome menawarkan layanan dengan kecepatan 50 Mbps dengan harga hanya Rp 229 ribu per bulan, sementara untuk kecepatan 250 Mbps, harganya Rp 399 ribu per bulan. Biaya tersebut sudah termasuk instalasi dan perangkat.

Penyedia lain seperti First Media juga menawarkan harga yang kompetitif untuk layanan broadband.

Untuk kecepatan 50 Mbps, harga langganan adalah Rp 276.945, sementara untuk kecepatan 300 Mbps, harganya Rp 776.445.

Seperti layanan NetHome, biaya tersebut juga sudah mencakup instalasi dan perangkat.

Dari perbandingan tersebut, jelas bahwa layanan Starlink cenderung lebih mahal dibandingkan dengan teknologi seluler maupun fiber optik.

Hal ini disebabkan oleh biaya tinggi perangkat dan peluncuran, terutama untuk operator satelit jenis LEO seperti Starlink yang membutuhkan banyak satelit yang umurnya terbatas.

Richard juga menekankan bahwa operator satelit tidak mungkin menjual layanan mereka di bawah harga pokok penjualan karena teknologi yang mereka gunakan tergolong mahal.

"Jika harga terlalu murah, ini dapat menandakan praktik dumping oleh operator satelit, termasuk Starlink," tambahnya.

Dengan demikian, bagi konsumen yang mengutamakan koneksi yang stabil, cepat, dan terjangkau, layanan fiber optik masih menjadi pilihan yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan layanan satelit seperti Starlink.

Meskipun Starlink menawarkan koneksi internet global tanpa ketergantungan pada infrastruktur darat, namun dengan harga yang lebih tinggi dan tantangan teknis yang terkait dengan koneksi satelit, fiber optik tetap menjadi pilihan yang lebih disukai bagi sebagian besar pengguna. ***

Editor : Azril Arham
#internet starlink #Starlink SpaceX #starlink indonesia #Starlink #kualitas internet #Internet Fiber #internet #fiber optik #starlink speed