Radarbangkalan.id – Serangan ransomware Lockbit 3.0 di Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 Surabaya menjadi tamparan keras bagi dunia keamanan siber Indonesia.
Data penting negara terancam, dan pelaku meminta tebusan fantastis.
Pemerintah, dengan tegas, menolak tunduk, hal ini berakibat pada hilangnya akses ke data yang terenkripsi.
Namun, di tengah situasi genting ini, secercah harapan muncul, para ahli siber meyakini bahwa data-data tersebut tidak sepenuhnya mustahil untuk diselamatkan.
Baca Juga: Ketahui Dampak dan Pencegahan Kebocoran Data di Era Digital
Berikut beberapa peluang yang bisa diupayakan:
1. Memanfaatkan Backup yang Ada:
Langkah pertama adalah mencari celah dari backup data yang masih disimpan oleh institusi terkait.
Direktorat Jenderal Imigrasi, sebagai contoh, telah berhasil mengembalikan layanannya dengan menggunakan data pada server mereka di Batam.
2. Memasukkan Ulang Data dari Hardcopy:
Jika backup digital tidak tersedia, institusi dapat melacak dan memasukkan kembali data dari hardcopy yang masih mereka simpan.
Proses ini memakan waktu, namun memungkinkan untuk menyelamatkan data dalam jumlah besar.
3. Membongkar Kunci Enkripsi:
Upaya paling rumit adalah dengan mencoba memecahkan kode enkripsi yang digunakan ransomware.
Cara ini membutuhkan keahlian tinggi, waktu, dan sumber daya komputasi yang besar.
4. Bekerjasama dengan FBI:
FBI, institusi penegak hukum di Amerika Serikat, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka memiliki 7.000 kunci dekripsi untuk ransomware Lockbit.
Kemungkinan besar, pemerintah dapat berkoordinasi dengan FBI untuk mendapatkan akses ke kunci-kunci tersebut dan mencoba membukakan data yang terenkripsi.
Baca Juga: Kominfo: Tak Ada Alasan Blokir Media Sosial X, Platform Sudah Patuhi Aturan
5. Mencegah Serangan di Masa Depan:
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pencegahan, peningkatan keamanan siber, edukasi pengguna, dan backup data yang rutin dan terstruktur menjadi kunci untuk meminimalisir risiko serangan ransomware di masa depan.
Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat membangun sistem yang lebih tangguh dan aman terhadap serangan siber di era digital ini. ***
Editor : Ajiv Ibrohim