Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan, sekitar 9,5 juta pekerjaan di Indonesia akan terpengaruh oleh otomatisasi dalam lima tahun ke depan. Sebagian akan tergantikan, sebagian berubah peran. Sementara itu, lapangan kerja baru di sektor teknologi diprediksi tumbuh pesat.
"AI tidak selalu menghilangkan pekerjaan. Ia menggeser kebutuhan keterampilan," kata Siti Nadia Lubis, Kepala Pusat Kebijakan SDM Digital Kemenaker, kepada Jawa Pos, Kamis (22/5).
Berikut lima pekerjaan yang diprediksi tergerus oleh AI, dan lima lainnya yang justru akan tumbuh pesat dalam 3–5 tahun mendatang.
Lima Pekerjaan yang Terancam Hilang
- Operator Entri Data
Pekerjaan yang hanya menginput data secara rutin sangat rentan digantikan oleh otomatisasi dan RPA (Robotic Process Automation). Banyak perusahaan kini memakai software yang membaca dokumen dan langsung memprosesnya.
- Customer Service Manual
Chatbot berbasis AI kini bisa menangani 80% pertanyaan pelanggan. Mulai dari perbankan, e-commerce, hingga layanan publik mulai beralih ke asisten virtual.
- Kasir & Front Desk
Self-checkout, QR code, dan sistem POS otomatis mulai menggantikan peran kasir, terutama di ritel modern dan swalayan.
- Staf Administrasi Umum
Pekerjaan administratif yang bersifat berulang—membuat laporan, menyusun jadwal, hingga mengirim surat elektronik—kini mulai diambil alih oleh software manajemen kantor dan AI sekretaris.
- Penerjemah Bahasa Umum
Untuk bahasa-bahasa utama (seperti Inggris ke Indonesia), kemampuan AI translation makin akurat. Profesi penerjemah dokumen standar mulai terdampak.
Lima Pekerjaan yang Tumbuh Pesat
- Analis Data & Ilmuwan AI
Permintaan terhadap data analyst, machine learning engineer, dan AI developer melonjak tajam. Bahkan universitas kini kebanjiran permintaan kerja sama industri untuk pelatihan ini.
- Spesialis Keamanan Siber
Seiring transformasi digital, ancaman siber juga meningkat. AI juga bisa disalahgunakan, sehingga kebutuhan akan pakar keamanan data jadi sangat vital.
- UX Designer & Prompt Engineer
Dengan AI yang semakin interaktif, dibutuhkan spesialis dalam mendesain cara manusia berinteraksi dengan mesin. Prompt engineer juga jadi profesi baru: mereka merancang instruksi efektif untuk sistem AI.
- Guru & Pelatih Teknologi Digital
AI justru menciptakan kebutuhan baru di dunia pendidikan. Banyak sekolah dan lembaga kursus membutuhkan pengajar digital, termasuk pengenalan AI untuk siswa.
- Konsultan Etika & Regulasi AI
Di tengah kekhawatiran bias dan privasi, perusahaan dan pemerintah mulai merekrut konsultan etika AI. Profesi ini masih langka, namun sangat strategis.
Prof. Deddy Sulistyo, pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Airlangga, menyebut AI bukanlah musuh tenaga kerja. “Yang dibutuhkan sekarang adalah reskilling dan upskilling, bukan panik,” katanya.
Program pelatihan vokasi berbasis digital mulai digencarkan, termasuk lewat platform Prakerja dan Balai Latihan Kerja (BLK) digital. Namun jumlahnya belum mencukupi.
”Kalau tidak cepat menyesuaikan, kita akan punya dua masalah: pengangguran dari sektor lama, dan kekurangan talenta di sektor baru,” tambahnya.
Editor : Ina Herdiyana