News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Inilah Rahasia di Balik Algoritma TikTok dan YouTube Shorts

Ina Herdiyana • Rabu, 28 Mei 2025 | 03:07 WIB
Ilustrasi TikTok dan YouTube Shorts.
Ilustrasi TikTok dan YouTube Shorts.

RadarBangkalan.id — Pernah merasa semua konten yang muncul di TikTok dan YouTube Shorts terasa pas banget dengan minatmu? Itu bukan kebetulan. Ada kecerdasan buatan (AI) di balik layar yang bekerja 24 jam penuh untuk mempelajari kebiasaanmu, dari lama menonton video sampai jari yang nyaris menggeser layar.

Namun, pertanyaan besar muncul: Siapa yang mengatur tren di balik semua itu? Pengguna, kreator, atau justru algoritma?

Algoritma: Sutradara Dunia Digital

TikTok dan YouTube Shorts menggunakan sistem berbasis machine learning yang menilai apa yang akan kamu tonton berikutnya. Mereka merekam setiap interaksi: berapa detik kamu menonton, apakah kamu menyukai, membagikan, atau berhenti sebelum selesai. 

Di balik itu semua, terdapat ribuan parameter tersembunyi yang menilai konten: kecepatan tempo lagu, ekspresi wajah, hingga tema yang sedang viral di lokasi terdekat. Dengan kata lain, kreator konten kini harus ”menyenangkan algoritma” agar bisa viral.

Konten Viral: Buatan Kreator atau Mesin?

Sebagian kreator mengaku mulai ”mengatur” gaya mereka sesuai pola algoritma: durasi maksimal 15 detik, narasi cepat, dan menyelipkan kata kunci tertentu. Bahkan, jam unggah konten kini lebih ditentukan oleh data insight ketimbang kreativitas spontan.

”Bukan ide unik yang menang, tapi yang cocok dengan mesin,” kata Ajeng Prameswari, kreator konten edukasi dari Surabaya.

Kondisi ini menciptakan efek domino: tren jadi seragam, suara-suara kritis tenggelam, dan kreator pemula kesulitan menembus sirkuit viral. Algoritma pun dinilai memperkuat bias: konten lucu dan hiburan ringan lebih disukai daripada informasi berat atau edukatif.

Baca Juga: Bertarung dengan Bayangan: Perjuangan Pengembang AI Lokal di Negeri Sendiri  

AI Bisa Menggeser Nilai Sosial?

Peneliti media dari LIPI mencatat, algoritma memiliki dampak sosial yang makin besar. Konten provokatif atau penuh sensasi kadang lebih disebarluaskan oleh sistem, hanya karena punya potensi ”engagement” tinggi. Ini mengkhawatirkan, terutama jika publik menerima informasi tanpa berpikir ulang. 

Siapa yang Kontrol? Platform atau Data Kita?

TikTok dimiliki perusahaan ByteDance yang berbasis di Tiongkok, sedangkan YouTube Shorts merupakan fitur dari Google, raksasa teknologi asal AS. Keduanya memiliki sistem algoritma yang tertutup. Artinya, tak ada transparansi publik soal apa yang benar-benar terjadi dalam mesin rekomendasi mereka.

Isu ini memicu kritik global. Uni Eropa bahkan mulai menekan platform digital untuk membuka cara kerja algoritmanya kepada publik dan otoritas pengawas.

Di Indonesia, regulasi seperti UU ITE dan aturan Kominfo belum menyentuh ranah ”kecerdasan algoritmik” secara spesifik. Pemerintah baru sebatas mendorong literasi digital tanpa menyentuh transparansi platform.

Haruskah Kita Takluk pada Algoritma?

Kreator kini dituntut ”berdamai” dengan sistem. Namun, publik tidak harus sepenuhnya tunduk pada algoritma. Solusinya, menyusun ulang preferensi pribadi, mengikuti kreator yang beragam, dan sesekali ”melawan arus” dari konten rekomendasi.

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#Algoritma #tiktok #youtube