RadarBangkalan.id – Setelah sempat diblokir di Indonesia pada 2023, TikTok Shop resmi kembali lewat kolaborasi strategis dengan Tokopedia. Namun, platform ini bukan sekadar marketplace.
Ia kini menjelma jadi ”pasar hiburan digital” yang memadukan konten kreatif, interaksi langsung, dan transaksi belanja secara real time.
Fenomena ini tak hanya mengubah cara orang jual beli, tapi juga cara masyarakat menghabiskan waktu di internet.
Live Jualan yang Menghibur
Sejak kembali aktif pada awal 2024, TikTok Shop menampilkan wajah baru. Penjual tak lagi sekadar menawarkan produk lewat katalog, tapi menjadi ‘host’ acara live interaktif, lengkap dengan candaan, kuis, hingga drama mini di depan kamera.
”Kalau dulu lihat live jualan itu ngebosenin, sekarang malah seru. Bisa sambil komentar, nanya, bahkan tawar harga langsung,” kata Rani Utami (23), pengguna aktif dari Surabaya.
Banyak dari mereka yang menonton bukan hanya untuk belanja, tapi untuk mencari hiburan. Tren ini dikenal dengan istilah shoppertainment (shopping + entertainment).
Diskon Kilat, Banjir Penonton
Salah satu magnet utama TikTok Shop adalah promosi kilat: diskon besar, flash sale, dan hadiah langsung. Penjual berlomba-lomba menyisipkan gimmick untuk menaikkan traffic. Dari tantangan berjoget, countdown countdown-an, sampai bintang tamu influencer.
”Dalam 1 jam bisa tembus 20 ribu penonton, padahal jualannya cuma aksesoris,” ujar Davin Sanjaya, seller pemula dari Bandung.
TikTok meneklaim format ini membuat pengguna betah lebih lama di aplikasi dan berbelanja lebih impulsif. Strategi ini juga menciptakan peluang baru bagi pelaku UMKM yang sebelumnya tak mampu bersaing di e-commerce konvensional.
UMKM dan Artis Lokal Ikut Ramai-Ramai
Menariknya, tak hanya brand besar. Penjual rumahan hingga selebritas lokal ikut meramaikan. Banyak kreator yang sebelumnya hanya fokus pada konten, kini juga menjadi reseller atau membuka toko sendiri.
Kolaborasi antar kreator dan pelapak pun mulai marak. Seorang seleb TikTok bisa mendongkrak penjualan sebuah produk hanya dengan muncul sebentar di live.
Tantangan: Edukasi dan Etika
Meski tren ini mendongkrak ekonomi digital, pakar menilai ada tantangan besar: literasi konsumen.
”Banyak konsumen terjebak belanja impulsif karena live yang hiperaktif. Belum tentu semua produk sesuai deskripsi,” ujar Dr. Lina Hapsari, pengamat bisnis digital Universitas Airlangga.
Belum lagi soal etika siaran: ada yang menampilkan konten berlebihan demi menaikkan interaksi. Beberapa kali, Kominfo menerima laporan soal konten vulgar dan hoaks yang dibungkus jualan.
Konsumen Butuh Kendali
Beberapa pakar menyarankan agar pengguna lebih sadar dalam mengatur waktu dan emosi saat belanja via konten hiburan. Sementara, pemerintah perlu mempercepat regulasi yang menyentuh ekosistem ”jualan live” agar tak menimbulkan celah penyalahgunaan. (*)
Editor : Ina Herdiyana