Pemerintah melalui program BAKTI Kominfo terus berupaya memperluas jaringan internet, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Hingga kini, lebih dari 27.000 titik layanan publik telah terhubung lewat satelit SATRIA-1, dan lebih dari 6.700 lokasi mendapat sinyal 4G.
Contohnya, di NTT dan Maluku Utara, BAKTI membangun ratusan BTS dan ribuan titik akses internet gratis. Meski begitu, banyak desa terpencil belum tersentuh layanan ini. Masalah lain adalah kualitas jaringan yang masih belum stabil dan kecepatan internet yang belum memadai dibanding kota besar.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan pentingnya edukasi digital. Menurutnya, internet bukan sekadar soal koneksi, tapi juga soal bagaimana masyarakat menggunakannya secara cerdas dan produktif.
“Internet bukan cuma soal tersambung. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat menggunakannya secara bijak dan produktif,” kata Meutya.
Meutya menegaskan bahwa pemerataan internet bukan hanya tugas pemerintah pusat, tapi juga perlu dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta. Sayangnya, pembangunan jaringan masih terpusat di Jakarta, dan daerah belum punya kapasitas penuh, baik dari sisi anggaran maupun teknis, untuk bergerak mandiri.
Kehadiran internet mulai berdampak positif di wilayah 3T. Di Halmahera Barat, guru bisa ikut pelatihan daring dan siswa bisa mengikuti ujian online. Di perbatasan Timor Leste, TNI kini lebih mudah mengakses data dan melaporkan kegiatan.
Namun, masih banyak kendala teknis yang menghambat, seperti sinyal hilang saat hujan atau akses lambat. Kepala desa di Halmahera menyebut internet membantu mereka membangun website desa dan memperkuat komunikasi, tapi semua itu sangat bergantung pada jaringan.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades, mengatakan internet bisa jadi kunci pengembangan ekonomi desa lewat program One Village One Product (OVOP) dan e-commerce. Sayangnya, banyak pelaku UMKM belum siap secara digital, bahkan belum paham cara membuka akun jualan online.
Editor : Mohammad Sugianto