RadarBangkalan.id – Di era digital seperti sekarang, gadget bukan lagi barang mewah. Dari balita hingga remaja, hampir semua anak kini akrab dengan layar ponsel, tablet, atau laptop.
Tak jarang, seorang anak yang masih duduk di bangku TK sudah piawai mengoperasikan YouTube, bermain game online, atau bahkan membuat konten TikTok.
Fenomena ini memunculkan dua sisi mata uang: manfaat yang besar dan ancaman serius.
Baca Juga: Pemerataan Internet di Indonesia Masih Tertinggal, Ini Tantangannya
Belajar Jadi Menyenangkan, Dunia di Ujung Jari
Tak bisa dimungkiri, gadget punya andil besar dalam dunia pendidikan anak-anak. Beragam aplikasi belajar interaktif, video edukatif, hingga permainan yang mengasah logika membuat anak bisa belajar dengan cara yang lebih menyenangkan.
”Anak-anak sekarang lebih cepat tangkap pelajaran karena ada media visual yang menarik. Belajar membaca, berhitung, bahkan bahasa asing bisa lewat game edukatif,” ujar Nurul Laili, seorang guru PAUD di Sumenep.
Selain itu, gadget membuka akses informasi yang luas. Anak-anak bisa mengenal budaya dunia, melihat keindahan alam luar negeri, atau menonton eksperimen sains sederhana hanya dalam beberapa klik. Dunia seperti ada di ujung jari mereka.
Waspada, Kecanduan Itu Nyata
Sayangnya, tidak semua penggunaan gadget berjalan mulus. Banyak orang tua mengeluh karena anaknya mulai kecanduan layar. Mereka sulit lepas dari gawai, tantrum saat diminta berhenti bermain, bahkan menunjukkan gejala seperti sulit tidur dan kehilangan minat terhadap aktivitas fisik.
”Anak saya dulu bisa main HP sampai empat jam sehari. Kalau diambil, marah-marah, bahkan melempar barang,” cerita Fitri, ibu dua anak asal Bangkalan.
Menurut para psikolog, kecanduan gadget bisa berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Gangguan fokus, keterlambatan bicara, kurang empati, hingga masalah kesehatan fisik seperti mata lelah dan obesitas bisa menjadi konsekuensinya.
Kunci Pengawasan: Bukan Melarang, Tapi Mendampingi
Lalu, haruskah anak dijauhkan total dari gadget? Tidak sesederhana itu. Pakar psikologi anak menyarankan pendekatan bijak: bukan melarang, melainkan mendampingi.
”Orang tua perlu menetapkan aturan waktu, memilih konten yang sesuai usia, dan terlibat dalam aktivitas digital anak. Dampingi, bukan biarkan sendirian,” tegas Dr. Rika Yunita, Psikolog Anak dari HIMPSI Jawa Timur.
Orang tua juga diimbau menjadi teladan. Jangan berharap anak mau berhenti main gadget jika orang tuanya sendiri sibuk scroll media sosial di hadapannya.
Solusi Seimbang: Teknologi dan Dunia Nyata
Agar anak tak terjebak di dunia digital, seimbangkan dengan aktivitas fisik, sosial, dan kreativitas offline. Ajak mereka bermain di luar rumah, membaca buku fisik, atau membuat kerajinan tangan. Dunia nyata juga penuh keajaiban yang tak kalah seru.
Gadget memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan modern. Tapi, tangan kecil anak-anak kita butuh bimbingan agar teknologi jadi sarana belajar, bukan jebakan candu.
Editor : Ina Herdiyana