RadarBangkalan.id – Di era teknologi canggih, kita terbiasa melakukan banyak hal sekaligus dengan bantuan satu perangkat: gadget.
Sambil mengecek email, kita bisa membalas pesan WhatsApp, mendengarkan musik, membuka media sosial, bahkan menyimak video pembelajaran—semuanya dalam satu genggaman.
Fenomena ini disebut multitasking digital, sebuah tren yang dianggap efisien, namun ternyata menyimpan risiko besar terhadap produktivitas dan kesehatan mental.
Multitasking digital adalah aktivitas menggunakan gadget untuk melakukan beberapa tugas sekaligus secara bersamaan atau bergantian dalam waktu yang sangat cepat.
Contohnya, seorang siswa yang mengerjakan tugas sambil membalas notifikasi Instagram dan mendengarkan lagu atau karyawan yang mengikuti meeting daring sambil membalas email kantor dan mengecek marketplace.
Sekilas, hal ini tampak seperti bentuk efisiensi. Namun, apakah otak manusia benar-benar bisa fokus melakukan semuanya sekaligus?
Baca Juga: Belajar Lewat Layar: Peran Gadget dalam Transformasi Dunia Pendidikan
Penelitian di bidang neurologi membuktikan bahwa otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk multitasking yang kompleks.
Alih-alih melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, otak justru berpindah-pindah fokus dengan sangat cepat antar-tugas (disebut "task switching"). Proses ini memakan energi kognitif tinggi dan justru menurunkan kualitas pekerjaan.
Dampak multitasking digital terhadap produktivitas meliputi:
-
Penurunan konsentrasi dan daya ingat jangka pendek
-
Peningkatan kesalahan dalam pekerjaan
-
Lambatnya penyelesaian tugas
- Stres dan kelelahan mental yang lebih cepat
Siapa yang Paling Rentan?
-
Remaja dan pelajar, yang tumbuh di lingkungan digital dan terbiasa dengan konsumsi informasi instan.
-
Pekerja hybrid atau remote, yang menghadapi tekanan untuk selalu responsif dan online.
-
Orang tua, yang harus mengatur waktu antara pekerjaan rumah, anak, dan pekerjaan kantor dari satu perangkat.
Cara Mengendalikan Multitasking Digital
Agar gadget tetap jadi alat bantu, bukan perampas fokus, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
-
Matikan notifikasi yang tidak penting.
Gunakan mode fokus atau “Do Not Disturb” saat mengerjakan tugas penting. -
Terapkan teknik “single-tasking”
Fokus pada satu tugas dalam satu waktu dengan interval terjadwal, seperti metode Pomodoro (25 menit kerja, 5 menit istirahat). -
Gunakan aplikasi pendukung fokus.
Aplikasi seperti Forest, Freedom, atau Focus To-Do dapat membantu menjaga konsentrasi. -
Pisahkan perangkat kerja dan hiburan.
Bila memungkinkan, hindari membuka media sosial di perangkat yang digunakan untuk tugas penting. -
Ambil jeda dari layar.
Luangkan waktu untuk istirahat dari gadget agar otak bisa reset dan kembali fokus.